
Ray terdiam beberapa saat, entah kenapa rasanya kecewa mendengar Adelia pergi dengan lelaki lain. Terlebih Adelia tidak mengabarinya dan sulit dihubungi.
Sudah beberapa hari ini suasana hati Ray terganggu. Ia sering mengalami mood swing dan merasa kesal tanpa alasan.
Ia kemudian memutuskan untuk pulang dan menunggu Adelia di rumah.
Sesampainya diparkiran apartemen, Ray melihat Adelia mengobrol ramah dengan seorang lelaki yang ia yakini sebagai Candra.
Ia bergegas memarkirkan mobilnya.
Belum sempat ia menemui istrinya, Adelia dan Candra sudah tidak berada ditempat. Ia pun kemudian masuk menaiki lift.
“Assalamualaikum..” ucap Ray membuka pintu
Adelia terduduk di sofa dengan senyumnya. Adelia tidak sabar mengabari Ray tentang kehamilannya.
“Kamu kemana? Aku nunggu dan nyari kamu di RS?” tanya Ray dengan ketus
“Maaf ya mas, aku tadi..”
“Hapemu kemana? Kenapa ga bis dihubungi?” Ray memotong ucapan Adelia
Adelia menatap Ray dengan heran. ia tau beberapa hari ini Ray sedang kelelahan bekerja dan mood nya tidak baik. Namun, ia tidak menyangka jika Ray akan bersikap ketus padanya.
“Tadi pulang sama siapa? Sering kamu diantar sama dia kalo aku lagi sibuk di RS?” perkataan Ray pun semakin melantur
“Mas, kamu kenapa sih? Tunggu aku jelasin dulu..” ucap Adelia yang juga tersulut emosi
Adelia tidak habis pikir kenapa Ray menilainya seperti itu
“Aku rasa melihat kamu dengan lelaki lain sudah menjelaskan semuanya Del”. Ray pun pergi meninggalkan Adelia begitu saja.
Adelia kemudian masuk kedalam kamarnya, Adelia menangis dan merasa tersakiti oleh perkataan Ray. Entah karena faktor kehamilan yang membuat Adelia akhir-akhir ini menjadi sering terbawa perasaan.
Kesedihannya bertambah karena harapannya yang akan memberikan kabar bahagia mengenai kehamilan harus tertukar degan kesalah pahaman yang menyakitkan.
Pukul 23.30 WIB,
Ray masuk kedalam kamar. Adelia sudah tertidur pulas dan terlihat begitu kelelahan. Ray menyelimuti istrinya itu kemudian mengecup lembut keningnya.
Seberapa pun dirinya kecewa, Ray sudah terbiasa melakukan hal itu yang menjadi ritualnya sebelum ia tidur.
Ia menatap istrinya dengan lekat. Ray kini sadar begitu menyayangi wanita dihadapannya itu. Ia sangat merasa cemburu melihat Adelia bersama Candra karena beberapa hari ini, Ray tidak sengaja melihat notifikasi pesan dari Candra masuk di ponsel Adelia.
__ADS_1
Lelaki itu cukup intens menghubungi istrinya. Bahkan sesekali ia menelepon Adelia waktu tengah malam meskipun Adelia tidak menggubrisnya.
Yang membuat Ray kecewa adalah Adelia tidak pernah membicarakan Candra dan selalu mengalihkan pembicaraan jika Ray bertanya padanya, dan hari ini emosi Ray memuncak melihat istrinya diantar pulang oleh lelaki itu dan jelas-jelas Ray sudah mengatakan akan menjemput Adelia.
Ray pun memejamkan matanya sambil memeluk Adelia.
***
Keesokan harinya,
Adelia terbangun mendapati Ray tertidur memeluk dirinya. Adelia menatap wajah suaminya dengan perasaan rindu. Ia sangat ingin memberi tahukan kehamilannya pada Ray namun, waktunya belum tepat.
Pukul 08.00 WIB,
Ray sudah berangkat bekerja, ia tidak tahu jika Adelia mengambil cuti dua hari karena saran dari Rissa agar Adelia bisa beristirahat. Ray bahkan tidak menyentuh sarapan yang sudah Adelia siapkan dan langsung pergi begitu saja.
Adelia berjalan perlahan menuju lift. Ia akan pergi ke apotek membeli beberapa obat dan vitamin yang diresepkan Rissa. Kepalanya masih terasa pusing namun, mual yang ia rasakan sudah berkurang dan ia butuh udara segar untuk mengalihkan pikirannya dari masalah yang ada.
“Mohon ditunggu sebentar ya bu..” ucap apoteker mempersiapkan obat sesuai resep
Adelia duduk sambil mengedarkan pandangannya. Ia menatap sepasang suami istri yang sedang bergurau dan sesekali tertawa. Sang suami mengelus lembut perut istrinya yang sudah membesar.
“Wah gerak-gerak terus sayang..” ucap sang suami kepada istrinya dan dibalas dengan senyuman
Hatinya begitu sedih, momen yang seharusnya membahagiakan bagi pernikahannya masih harus dibalut dengan kekecewaan.
Setelah selesai dari apotek, Adelia memutuskan pergi ke supermarket tidak jauh dari sana untuk membeli stok bahan makanan yang sudah habis. Ia memilih beberapa sayuran kemudian beralih ke bagian daging-dagingan.
Awalnya semua berjalan lancar. Namun, saat melihat petugas sedang membersihkan isi perut ikan. Adelia yang melihat itu merasa sangat mual dan kepalanya sangat pusing. Ia berjalan perlahan mencari tempat duduk, perutnya kini terasa keram dan sangat sakit. Adelia terjatuh, beberapa orang dan petugas disana terkejut dan langsung menolong Adelia membawanya ke rumah sakit karena terdapat darah yang mengalir ke kakinya.
Sesampainya di rumah sakit, Adelia dibawa masuk ke IGD oleh beberapa suster untuk langsung mendapatkan penanganan oleh dokter.
Salah satu perawat mencari informasi data pasien dari tas dan ponsel yang Adelia bawa.
Saat ini, Ray sedang follow up beberapa pasien nya di bangsal. Ia mengerutkan dahinya saat mendapatkan telpon dari nomor IGD rumah sakit tempat ia bekerja.
“Hallo..” ucap Ray
“Selamat siang, kami dari rumah sakit..”
“IGD Karya sehat?” ucap Ray memotong ucapan penelpon
__ADS_1
Suster yang menelepon Ray pun heran
“Maaf apakah ini suami dari ibu Adelia?” tanya suster
Ray terdiam sesaat dan menjauhkan diri dari beberapa orang disana
“Saya dokter Rayyan dari departemen bedah, ada apa IGD menelepon saya dan menanyakan istri saya?” ucap Ray heran
Suster itu pun terkejut mendengar pernyataan Ray
“Dokter Ray?..” ucap suster masih mencerna
“Ma.. maaf dokter Ray, istri anda ada di IGD saat ini dan belum sadarkan diri.. tadi..”
Ray yang mendengar ucapan suster tersebut langsung tersadar, ia menutup telponnya dan berlari menuju IGD tanpa mendengar penjelasan suster yang menelponnya sampai selesai.
Jantung Ray bertegup kencang. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Adelia sakit, ia bahkan tidak menyapa istrinya tadi pagi saat akan pergi bekerja karena masih merasa kecewa.
Pikiran Ray sudah tak karuan, ia mengira Adelia terlibat kecelakaan atau sejenisnya. Dengan napas terengah Ray masuk ke IGD dan mencari-cari keberadaan istrinya itu.
Ray terheran mendapati Adelia sedang di periksa oleh seorang dokter kandungan disana. Ray terkejut melihat pakaian Adelia berlumuran darah.
“Apa yang terjadi?” tanya nya pada dokter yang memeriksa
“Dokter Ray? Ada apa?” tanya heran dokter Alma karena melihat Ray berada ditempat yang bukan wilayah kerjanya
“Apa yang terjadi?” ucap Ray lemas sambil menggenggam tangan Adelia
Alma yang masih kebingungan pun mencoba untuk fokus
“Pasien mengalami pendarahan yang cukup parah, kondisi kehamilannya sangat lemah.. sepertinya ada infeksi..” ucap Alma perlahan
Ray yang mendengar penjelasan dokter kandungan itu pun langsung terdiam syok.
“Maksud anda, istri saya hamil?” tanya Ray, wajahnya sudah mulai memerah
“Istri? Pasien ini istri dokter Ray?” bukannya menjawab pertanyaan Ray, Alma justru terkejut dengan pernyataan Ray
Ray yang tidak mendapatkan jawaban, langsung memeriksa sendiri keadaan istrinya
“Dokter Alma, apa yang harus kita lakukan?” tanya Ray menatap Alma dengan serius
“Kondisinya sangat lemah, saat ini pendarahan nya sudah berhenti tapi, jika terus terjadi pendarahan kemungkinan besar janin tidak akan bertahan dan juga akan membahayakan ibunya..” jelas Alma
Ray yang mendengar itu langsung terduduk lemas, Ray kini tidak merasakan kakinya. Air matanya mengalir sambil terus menggenggam tangan istrinya yang masih belum sadarkan diri.
“Tolong selamatkan istri saya..” ucap Ray pelan sambil menatap wajah pucat Adelia
__ADS_1
***