Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#44


__ADS_3

Satu minggu kemudian,


Bandung


 


Nala sedang memperhatikan tukang yang melakukan dekorasi untuk pernikahannya esok lusa. Ray dan Adelia pun sudah tiba di Bandung sedari sore hari.


Kondisi Adelia saat ini sudah semakin membaik, kandungannya sudah semakin kuat dan Adelia bisa beraktivitas tanpa hambatan berarti.


“Sayang, gaun pesananmu barusan sampai..” ucap Tama menghampiri Nala


“Waahh.. asiik.. aku cek dulu ya mas..” antusias Nala masuk kedalam rumah


Di dalam sudah ada Adelia yang memegangi kotak gaun pernikahan Nala dengan senyum lebarnya.


“Ga sabar mau liaat..” teriak Adelia yang tak kalah antusiasnya saat melihat Nala datang


“Ayok ayok kita buka..” ucap Nala


Nala dan Adelia kemudian membuka kotak yang cukup besar itu. Terlihat gaun broken White yang sangat cantik di sana.


“Ya ampuun.. ini cantik bangeettt..” ucap Adelia dengan wajah sumringah


Adelia kemudian terdiam dan terisak


Nala yang melihat Adelia mulai menangis langsung panik


“Del, kenapa? Adel?..” Nala berusaha menenangkan Adelia


“Raayy…” teriak Nala memanggil Ray yang berada di teras bersama Tama


Ray dan Tama langsung berlari mendengar teriakan Nala


“Ada apa Nal?” tanya Ray ikut panik


“Adel…” Nala masih mengelus-elus Adelia


Ray yang melihat istrinya menangis langsung memeluknya


“Kenapa sayang? Apa yang sakit?” tanya Ray sambil mengelus-elus kepala istrinya


“Hati aku..” ucap Adelia tergugu sambil mengusap matanya


Seketika semua orang terdiam heran menatap Adelia


“Hati kamu? Sakit kenapa?” tanya Ray lagi


“Mas jahat..” Adelia kembali menangis


Nala, Tama dan Ray saling pandang bingung


“Aku pengen pakai gaun kaya gini pas nikah, tapi masnya ga mau.. huhuhuhu..” tangis Adelia


Nala, Tama dan Ray terkejut dan menahan tawa mereka


Nala memukul punggung Ray kencang


“Adduuhh.. sakit ih..” protes Ray pada Nala


Nala hanya memelototinya sambil mengoceh pelan


“Kamu mau coba pake gaun ini Del?” bujuk Nala menenangkan Adelia


Adelia menghentikan tangisnya kemudian melepaskan pelukan Ray

__ADS_1


“Boleehh?” tanya Adel dengan senyum mengembangnya


“Boleh doong.. ayook aku bantu pakein..” Nala dengan senang menuntun Adelia bangun dari duduknya


Adelia yang tersadar melihat perutnya membuncit langsung menghentikan langkahnya


Nala yang menuntunnya pun ikut berhenti dan melihat ekspresi Adelia kembali sedih


“Kenapa?” tanya Nala


“Gak jadi…” Adelia kembali duduk disamping Ray


“Loh kanapa sayang?” Ray mengelus punggung Adelia


“Ga akan cukup, lihat perutku ada balonnya..” ucap Adelia dengan mata berkaca-kaca


Nala, Tama dan Ray kembali saling pandang. Mereka sangat heran dengan tingkah Adelia semenjak hamil, mood Adelia sangat mudah berubah dan kebiasaannya pun sangat berbeda.


“Hemmhh.. kalo gitu aku simpan dulu yaa gaunnya.. mas bisa bantu aku bawain?” Nala memberi isyarat pada Tama untuk meninggalkan Adelia dan Ray berdua.


Ray yang ditinggal pergi hanya bisa teriak minta tolong dalam bisiknya pada Tama dan Nala


“Kita ga ikutan..” ucap Nala pelan sambil menjulurkan lidahnya pada Ray. Tama hanya tertawa mengekori Nala


Ray kelabakan berusaha menenangkan istrinya itu dengan segala cara namun, Adelia masih menangis dan memarahi Ray.


 


 


Sesampainya di kamar, Nala dan Tama tertawa melihat Adelia dan Ray dari kejauhan.


“Husstt jangan kenceng-kenceng nanti mereka denger..” ucap Tama yang berusaha menahan tawanya


Seketika tawa Tama terhenti, ia terdiam dan menatap Nala dengan serius


“Apaan mas? Ngeliatinnya gitu banget?” Nala berusaha menghentikan tawanya


“Sayang.. Pliss, nanti kalo kamu hamil jangan kaya gitu yaa?” wajah Tama memucat


Nala yang mendengar ucapan Tama kembali tertawa kencang, ia memegangi perutnya karena tak bisa berhenti tertawa


“Sayang.. ih..” Tama makin merajuk


“Iya.. Iya.. kita liat nanti yaa mas hahahahah..” ucap Nala


 


 


 


 


Keesokan harinya,


Nala dan Tama sudah mulai cuti kerja, pernikahan mereka akan diadakan besok sore.


Bu Katy dan Vio sedang mengatur beberapa hiasan kecil di meja ruang tamu rumah danau. Nala dan Tama menyebut rumah mereka dengan sebutan rumah danau sesuai impian masa kecil Nala.


Bu Katy sangat bersyukur karena memiliki putra yang sangat mandiri seperti Tama, bahkan tanpa sepengetahuannya Tama sudah menyiapkan rumah yang begitu indah untuk keluarga kecilnya sendiri.


Meskipun Tama menolak menjadi penerus perusahaan ayahnya, namun Tama dapat membuktikan bahwa ia bisa bertanggung jawab akan dirinya sendiri dan masa depannya.


“Mam.. mami kenapa?” Tama terkejut melihat ibunya meneteskan air mata

__ADS_1


Bu Katy menggenggam tangan Tama dan mengelus pipi putranya itu


“Mami bahagia kamu akan menikah son, sangat bahagia.. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik, dan sudah memberikan mami menantu yang sangat baik hati juga..” ucapnya menatap Tama


Tama kemudian mencium tangan ibunya itu


“Terima kasih mami selalu support aku, aku juga sangat bersyukur karena memiliki keluarga yang sangat menyayangiku dan mendukung apapun pilihanku..” Tama juga tak kuasa menahan harunya


Katy memeluk anak sulungnya itu sambil masih dengan diselimuti rasa haru.


“Jadi hanya kakak yang dipeluk?” celetuk Vio menatap kemesraan ibu dan anak itu


Tama dan ibunya tertawa kemudian menarik Vio dalam pelukan mereka


Nala yang melihat itu dari kejuahan mengurungkan niatnya untuk membawakan minuman dan cemilan.


Nala kembali ke dapur dan memberikan ruang kepada mereka.


 


***


Bogor,


 


Pukul 22.20 WIB


Naura masuk kedalam rumahnya, ia menatap heran mendapati ayahnya duduk termenung diruang keluarga.


“Papa..” sapa Naura mendekati ayahnya


Pak Fajar tersenyum melihat putrinya


“Sudah sampai Na?” ucap pak Fajar


“Papa kenapa duduk bengong disini?” tanya Naura kemudian duduk disamping ayahnya


Pak Fajar kemudian memberikan kertas yang ia temukan di meja kamar putrinya itu.


Naura terkejut dan mengambil kertas tersebut.


“Apakah kamu ingin pergi nak?” tanya pak Fajar menatap Naura


“Tidak Pa.. ini hanya sekedar tawaran saja..” Naura tersenyum


“Naura, ada yang ingin papa sampaikan nak..” ucap pak Fajar


Naura mengangguk dan tak enak hati


“Sebetulnya, semenjak papa sakit dan kondisi papa menurun, papa ingin sekali pulang ke Solo. Papa ingin kembali tinggal disana dan menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman papa..” ucap pak Fajar perlahan


“Paa…” Naura memegang tangan ayahnya


“Papa mengurungkan niat papa itu karena papa tau kalau kamu tidak akan mau pindah kesana.. Namun, beberapa bulan ini ketika kamu memutuskan akan menikah dengan Aldi, papa merasa ini mungkin jawaban dari Tuhan untuk kita. Papa tidak akan khawatir jika meninggalkanmu sendirian disini karena kamu sudah punya suami dan akan mengatakan padamu saat nanti jika kamu sudah menikah..”


Pak Fajar terhenti sejenak menatap jendela


“Tapi, karena pernikahan itu pun batal jadi papa rasa papa harus mengurungkannya kembali..” tatap pak Fajar pada Naura


“Naura, papa tau jika kamu sangat ingin pergi ke Italia. Itu adalah cita-citamu sejak dulu.. Bagi anak cerdas sepertimu, bukan hal sulit untuk mendapatkan pekerjaan ataupun beasiswa untuk pergi kesana dan kamu pasti tau itu.. Papa tau, kamu tidak ingin pergi sejak dulu karena takut meninggalkan papa sendirian disini kan?” pak Fajar menggenggam tangan putrinya


“Tidak pa.. mana mungkin Naura tinggalin papa, Naura akan ikut papa ke Solo..” air mata Naura sudah mengalir menatap ayahnya


***

__ADS_1


__ADS_2