
Bandung,
“Sayang, hari ini apa ayah ada dirumah?” Tanya Tama yang memarkirkan mobilnya didepan halaman rumah Nala.
“Kayanya ada, tadi pagi sih katanya hari ini ga ada jadwal di kampus. Kamu mau mampir?” tanya Nala
“Bolehkah?” Tama menatap kekasihnya itu
“Tentu.. yuk masuk”. Senyum Nala
Saat memasuki halaman rumah, terlihat pak Wisnu sedang bermain bersama Saba dan Suly dihalaman.
“Tante Nala…” si kembar pun berlarian menyambut Nala dan Tama. seperti biasanya Suly langsung minta digendong oleh Tama dan bertingkah manja.
Setelah puas bermain, merekapun masuk untuk menunaikan shalat magrib.
“Ada apa nak? Sepertinya ada yang kamu pikirkan?” Pak Wisnu mengelus punggung Tama ketika berjalan pulang dari masjid.
Dimas yang sudah mengerti dengan keadaan langsung menuntun mereka duduk di kursi teras rumah.
“Ada yang ingin saya sampaikan ke ayah dan kak Dimas.” Ucap Tama lalu terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang, ia mencoba mengatur nafasnya dan melanjutkan ucapannya.
“Jika ayah dan kak Dimas berkenan, saya ingin meminta restu pada ayah dan kak Dimas untuk menikahi Nala.” Ucapnya perlahan namun jelas.
Ayah dan Dimas pun saling bertatapan dan tersenyum. Kemudian, pak Wisnu melangkah mendekati Tama dan memeluknya.
“Tentu saja ayah merestuimu nak, tolong jaga Nala dengan baik”. Tak terasa air mata pak Wisnu bercucuran.
Dimas pun kemudian bergantian memeluk calon adik iparnya itu.
“Tau kan kalo kamu sampe nyakitin Nala, siapa aja bodyguard yang akan kamu hadapi?” senyumnya lalu memeluk Tama.
Hati Tama sangat bahagia, tinggal satu langkah lagi yang harus ia tempuh.
Nala, yaa.. kekasihnya yang harus ia lamar. Meskipun saat ini ia menjalin hubungan yang begitu bahagia dengan Nala tapi, ia tidak yakin jika Nala sudah siap menikah dengannya atau sebaliknya.
Sepulang dari rumah Nala, Tama menyampaikan kabar gembira itu kepada orangtuanya. Semua orang tampak bahagia dengan kabar tersebut.
“Jadi, kapan mami bisa punya cucu?” celetuk bu Katy sambil memegang erat lengan putranya itu.
“Mam, belom tentu kak Nala juga nerima lamaran kakak ini udah ngomongin cucu aja..” ucap Vio yang kemudian mendapatkan jeweran sang ayah.
“Doakan Tama ya Mam Pa, Vio. Semoga Nala menerima lamaran ini.” Ucap Tama dengan senyum lebarnya.
“Aamiin..” Ucap serentak semua orang.
__ADS_1
***
Satu minggu kemudian,
Pukul 17.45,
Tama masih fokus pada layar monitornya. Sudah satu minggu ini ia mencari-cari referensi bagaimana cara melamar Nala. Tama sudah membeli satu cincin bertahtakan berlian dengan design yang simple namun elegan, tapi ia masih kesulitan bagaimana nanti ia akan melamar kekasihnya itu.
Dwi yang sedari tadi berdiri dihadapan Tama menatap bingung karena Tama mengacuhkan keberadaannya disana. Dwi yang masih kebingungan dengan sikap Tama kemudian melambaikan tangannya didepan monitor.
“Mas, mas Tama… halo haloo mas…” Dwi masih berusaha memberitahukan keberadaanya
Tama yang terkejut melihat tangan Dwi pun langsung terbangun dari duduknya.
“Dwi? Ya ampun, kenapa? Ada apa?” ucap Tama syok
“Ya ampun mas Tama… plis deh saya dari tadi berdiri disini manggil-manggil masa ga keliatan segede gini?” jawab Dwi dengan heran
“ah ya? Masa? Aduh maaf Dwi saya ga sadar ada kamu” cengir Tama
Dwi hanya menggelengkan kepalanya kemudian memberikan berkas.
“Mas Tama mending buruan beres-beres, tuh Nala udah duluan keluar kantor mau pulang” kata Dwi
Tama yang tersadar melihat jam di dinding lalu bergegas merapikan barang-barangnya
Dwi yang masih bingung dengan sikap Tama hanya menggelengkan kepalanya melihat kepergian bos tampannya itu.
Nala yang sudah berada di area parkir menuju mobil Tama dikejutkan dengan seseorang yang menarik tangannya dari belakang.
“Eh Nala, ngapain lu kearah mobil calon cowok gua?” Sasa mengenggam erat pergelangan tangan Nala sambil dengan wajah masamnya.
Nala memutar malas bola matanya melihat Sasa disana.
“Kenapa sih lu Sa? usil banget jadi orang?” jawab Nala malas
“Elu yang kenapa? Ngapain lu deket-deket terus ke mas Tama? udah tau mas Tama itu cowok gua masih aja lu ganjen.. punya harga diri ga lu?” teriak Sasa
Sasa sengaja mengeraskan suaranya agar beberapa karyawan yang berlalu lalang disana mendengar bahwa Tama adalah kekasihnya dan Nala adalah wanita penggoda.
Sasa sangat iri dengan Nala karena kedekatan Nala dengan lelaki yang ia sukai, juga tentu saja karena kinerja Nala yang bagus dan disukai banyak orang. Ia ingin semua orang berpikir bahwa Nala bukan orang yang baik.
“Terserah deh lu mau ngomong apa Sa, gua males ngeladenin orang kaya lu..”
Nala pun melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Sasa dan beranjak mendekati mobil Tama.
__ADS_1
Sasa yang melihat itu langsung tersulut emosi dan kembali menarik tangan Nala kemudian menampar wajah Nala dengan keras.
PLAKK!!
Nala tertunduk dengan tamparan keras Sasa, ada sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya.
“Jangan berani-berani lu deketin cowok gua!!” bentak Sasa
Nala mengusap sudut bibirnya yang terluka kemudian memandang tajam kearah Sasa. Melihat respon Nala yang seolah menantangnya, Sasa pun kembali akan menampar Nala tapi tangannya terhenti karena cengkraman tangan seseorang dibelakangnya.
“Apa-apaan kamu Sasa?!” wajah Tama merah padam melihat kejadian itu
Sasa dan Nala terkejut dengan kedatangan Tama. Sasa yang panik mulai memainkan dramanya.
“Tolong aku mas, tadi Nala menghinaku dan berkata kasar. Aku hilang kendali trus aku reflek nampar Nala..”
Sasa berpura-pura memasang wajah sedihnya sambil melingkarkan tangannya pada lengan Tama.
Tama yang sudah tau sejak awal dengan apa yang terjadi sebenarnya pun langsung melepaskan tangan Sasa kasar.
“Jaga sikapmu Sasa” Tatap tajam Tama pada Sasa
Tama langsung menghampiri Nala dan mengecek pipi Nala yang merah dan sedikit luka disudut bibirnya
“Kamu ga apa-apa sayang?” Tanya Tama khawatir pada Nala
“Ga apa-apa kok mas” senyum lembut Nala
Sasa yang melihat dan mendengar Tama memanggil Nala dengan sebutan sayang pun langsung syok dan tidak percaya.
“Sa..yang? Maksud mas Tama apa manggil Nala sayang?” suara Sasa terbata dan badannya mulai gemetar
“Nala calon istri saya. dan kamu Sasa tolong jangan kurangajar dengan calon istri saya” tegas Tama lantang dan tentu saja pernyataan itu menarik perhatian orang-orang yang sedari tadi menonton disana.
Bak petir disiang bolong, Sasa langsung terduduk lemas mendengar ucapan Tama.
Dwi dan dua orang teman sekantornya yang berada disana beberapa saat setelah Tama datang pun langsung menghampiri sumber keributan itu.
Salah satu teman Dwi berusaha membantu Sasa berdiri kembali. Dengan kaki lemas Sasa pun menangis dan meminta penjelasan dengan pernyataan Tama yang begitu tidak masuk akal baginya.
“Mas Tama pasti bohong kan? Iya kan mas?” tangis Sasa memegang tangan Tama
“Kemarin mas Tama bilang punya pacar pas aku nyatain cinta ke mas Tama, tapi itu pasti bohong kan? karena mas Tama masih malu sama aku? Iya kan mas? dan ga mungkin pacar mas Tama itu Nala? Iya kan? Jawab mas!” ucap Sasa semakin menjadi
“Udah mas, mending mas bawa Nala pergi aja dari sini. Si Sasa mah ga akan berenti. Udah biarin aja dia ngamuk-ngamuk kaya orang gila disini” ucap Dwi
__ADS_1
Tama pun mengangguk dan langsung membawa Nala pergi dengan mobilnya. Sasa yang tidak terima pun berteriak dan menangis tanpa rasa malu.
***