Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#47


__ADS_3

Aldi berusaha mendekat pada Naura namun Rendy menghadang tubuh Aldi.


“Siapa lu?” tanya Aldi sinis pada Rendy


“Rendy..” tatap sinis Rendy


“Ooowhh jadi elu? Emang dasar b*ngs*t!!!!” marah Aldi


Aldi melayangkan pukulan pada Rendy namun meleset. Aldi tersungkur kelantai. Beberapa karyawan pria dan security berusaha melerai perkelahian mereka. Aldi terus menerus berusaha memukul Rendy namun rendy selalu bisa menghindar dan menangkis pukulan itu.


Beberapa saat kemudian, situasi mulai terkendali. Rendy dan Aldi sudah dipisahkan oleh orang-orang disana.


Naura sangat syok dan bingung dengan apa yang terjadi.


“Inget ucapan gua hari ini, gua bakal buat perhitungan sama lu!!..” teriak Aldi menunjuk Rendy


Aldi keluar dari café dengan marah.


Beberapa orang sudah kembali ketempat mereka. Rendy duduk terdiam dengan nafas terengah menahan amarahnya. Ia tidak bisa melawan Aldi karena saat ini sedang memakai seragamnya dan tidak ingin masalah semakin rumit jika sampai melibatkan pekerjaannya.


 


Naura duduk perlahan dihadapan Rendy dengan membawa segelas air.


“Diminum mas..” ucap Naura


“Terima kasih Naura..”senyum Rendy


Naura menatap Rendy dengan segudang pertanyaan dibenaknya


“Sebenarnya ada apa ini mas?” tanya Naura


Rendy menoleh ragu kearah Naura


“Sepertinya mantan pacarmu baru saja di pecat dari tempat ia bekerja..” ucap Rendy


Naura mengerutkan alisnya tidak mengerti


“Dia melakukan beberapa penggelapan dana.. dan sepertinya dia tahu jika aku terlibat dalam membuka kedoknya..” jelas Rendy


Naura tentu saja sangat terkejut dengan apa yang Rendy sampaikan.


“Bagaimana mas Rendy bisa tau semua itu?” tanya Naura dengan wajah yang sulit diartikan


Rendy menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung pada Naura


Rendy malu untuk mengakui bahwa dirinya selama ini mencari tahu tentang Aldi karena ingin membalas perlakuan buruk Aldi pada Naura.


“Mas Rendy cari tau tentang Aldi?..” tebak Naura


“Heheh..” cengir Rendy


Naura menepuk jidatnya


“Tapi kok bisa sampe berhubungan dengan kerjaan dia?” heran Naura


“Heemmmhh… gimana yaa? Itu.. perusahaan tempat dia kerja, perusahaan milik ayah temanku..” ucap Rendy


“Hah?..” tak habis pikir Rendy membuat Naura terkejut


“Awalnya aku juga ga tau, tapi.. saat aku mencari info tentang dia, aku baru tau dia kerja dimana..” Jelas Rendy


“Tapi gimana mas tau kalo dia ada penggelapan dana?..” tanya Naura


Rendy menghempaskan nafasnya kasar.

__ADS_1


“Mas, tolong ceritakan semuanya sama aku..” mohon Naura


“Tolong jangan marah sama aku ya Na?” tatap Rendy ragu


Naura mengangguk menatap Rendy serius


 


Rendy terdiam sesaat, ia memberanikan dirinya untuk jujur pada Naura.


“Sebenarnya, sebelum kamu tau tentang pengkhianatan dia, aku sudah tau lebih dulu..” tatap Rendy


Naura terdiam mencoba fokus mendengarkan Rendy


“Aku pernah bertemu dengannya di satu restoran.. Aku kesal karena dia menghianatimu dan dari situlah aku mencari tau tentang dia ” ucap Rendy


“Lalu?..” tanya Naura


“Awalnya aku hanya bertanya pada temanku tentang kebenaran Aldi bekerja diperusahaanya, tapi ternyata temanku mencari tahu tentang Aldi terlalu dalam dan yaahhh ketemulah data itu..” jelas Rendy


“Agak ga sengaja juga yaa dapet kartu As..” cengir Rendy


Naura memegangi kepalanya yang sakit karena begitu banyak hal yang terjadi hari ini.


“Hemmhh kayanya dia juga cari tau kenapa bisa ketauan..” ucap Rendy


“Lalu? Bagaimana?” tanya Naura tampak khawatir


Rendy tersenyum mengangkat bahunya


“Ga usah khawatir, banyak polisi yang jagain aku.. hahaha..” Rendy menepuk jidat Naura berusaha mencairkan suasana


Namun, Naura tetap merasa khawatir. Ia sangat tau bagaimana sifat Aldi.


Aldi tidak akan mungkin bisa melepaskan Rendy begitu saja.


 


***


Rendy menghubungi Tama, ia memperingatkan Tama untuk berhati-hati karena Aldi bisa saja berbuat nekat.


Bagaimana pun Rendy cukup menyesal karena melibatkan Tama dalam urusannya.


 


 


Disisi lain,


Aldi menghubungi seseorang diseberang sana. Saat ini, hidupnya sungguh hancur. Ia kehilangan pekerjaannya dan Naura memutuskan hubungannya begitu saja, sedangkan ia harus menikahi wanita yang selama ini hanya menjadi pemuas nafsunya saja karena Naura sangat menjaga dirinya dan tidak bisa ia bujuk dengan mudah untuk bisa tidur dengannya.


“Cari orang itu sampai dapat..” ucap Aldi lalu memutuskan sambungan telponnya


Aldi membanting ponselnya ke kasur


“AAGGHHHHHH!!!..” teriaknya kesal


 


 


 


Satu minggu kemudian,

__ADS_1


Nala dan Tama saat ini sedang berada di bandara. Mereka akan melakukan perjalanan bulan madu ke pulau Bali.


Tama ingin mengajak Nala berbulan madu ke Eropa namun mereka tidak bisa pergi terlalu jauh karena cuti yang terbatas. Nala dan Tama satu departemen jadi tidak memungkinkan bagi mereka mengajukan cuti panjang sedangkan pekerjaan mereka tidak ada yang menghandle.


 


Perjalanan yang begitu panjang cukup melelahkan bagi Nala. Ia tertidur bersandar dipundak suaminya sambil menunggu waktu naik kedalam pesawat.


Tama memegangi tabletnya menyusun jadwal selama di Bali. Ia ingin perjalanan pertamanya dengan Nala berkesan dan menyenangkan.


 


Setelah menunggu tiga puluh menit, mereka pun menaiki pesawat. Nala yang masih mengantuk melanjutkan tidurnya di pesawat.


 


Pukul 20.30 WITA,


Tama dan Nala sudah sampai di Villa, pemandangan yang sangat indah langsung membuat Nala terbangun dari kantuknya sepenuhnya.


“Mas, ini indah banget..” takjub Nala


Villa dengan kolam renang pribadi yang langsung terhubung dengan pantai. Bangunan villa yang didominasi jendela besar bak rumah kaca dan taman yang dipenuhi bunga sangat membuat nyaman penghuni disana.


Tama tersenyum lalu membawa barang-barang mereka kedalam villa.


Nala berkeliling melihat-lihat fasilitas disana. Nala tersenyum mendapati bathtub yang menghadap pemandangan yang tak kalah indah.


“Gimana sayang?” Tama memeluk istrinya dari belakang


“Aku suka banget..” Nala memutar badannya menghadap Tama


Ia melingkar kan tangannya dileher Tama lalu menciumnya dengan lembut. Tama dengan senang hati menyambut ciuman itu, ciuman yang lama kelamaan menuntut lebih.


Sesaat kemudian, Tama melepaskan ciumannya perlahan


“Hemmhh.. sayang, kita sholat isya dulu ya?..” senyumnya mengembang


Nala tertawa kecil dan mengangguk.


“Aku juga mau mandi dulu mas.. lengket” ucap Nala


Nala kemudian mengambil pakaian tidurnya dan bergegas bergantian mandi setelah Tama selesai mandi.


Tiga puluh menit kemudian,


Tama sudah siap duduk diatas sajadahnya. Nala menghampirinya yang juga sudah siap memakai mukena.


Mereka menunaikan sholat isya yang dilanjutkan dengan sholat sunah.


Setelah selesai, Tama membuka Al-Qur’an pada ponselnya lalu mengaji, sedangkan Nala merapikan perlengkapan sholatnya dan masuk kembali ke kamar mandi.


Jantung Nala saat ini sangat berdegup kencang. Ini saatnya ia akan memberikan hak suaminya yang selama ini tertunda. Nala mondar mandir didepan cermin sesekali melihat pantulan dirinya.


Nala berusaha mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk suaminya.


Setelah sudah tidak terdengar lagi suara Tama mengaji, dengan dada yang bergemuruh Nala memberanikan diri membuka pintu dan keluar dari sana.


“Mas..” ucap Nala pelan


Tama yang sedang melipat sajadah langsung terdiam melihat Nala.


Nala sangat terlihat cantik dengan riasan natural dan pakaian tidur tipis yang cukup mengekspos sebagian besar tubuhnya itu.


Sajadah yang Tama pegang pun terjatuh saat Nala dengan perlahan menghampiri suaminya. Tama masih saja terdiam mematung menatap istrinya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2