Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#29


__ADS_3

Keesokan harinya,


Siang ini Ray, Rendy dan Tama sedang berada dirumah Nala dan mereka semua makan siang bersama.


“Gimana persiapan pernikahanmu nak?” Tanya pak Wisnu pada Ray


“Sudah hampir selesai Yah, doakan Ray ya Yah..” senyum Ray


“Ayah pasti mendoakanmu Ray..” pak Wisnu mengusap lembut kepala Ray


“Trus, anak bujang ayah yang satunya ini kapan akan menikah?” ucap pak Wisnu menatap Rendy


“Uhuk uhuk uhuk…” Rendy yang sedang minum seketika tersedak dengan pertanyaan pak Wisnu.


“Ya ampun ayah.. Rendy tuh terlalu special untuk bisa dimiliki” celetuk Rendy memasang wajah sok cool yang membuat semua orang disana tertawa


“om Rendy kan nanti mau nikah sama Suly, opah..” Ucap suly polos


“Ooh.. jadi Suly sekarang mau nikahnya sama om Rendy? katanya mau sama om Tama?” ucap Tama pasang wajah cemberut pada Suly


“Kan om mata biru mau menikah sama tante Nala.. Suly udah ga mau sama om mata biru” jawaban Suly kembali membuat semua orang disana tertawa.


Ray tersenyum menatap kearah Nala dan Tama. ia berharap mereka bahagia dengan pernikahaannya, begitupun dirinya. Ia akan berusaha ikhlas dan mencoba belajar menyayangi Adelia yang selama ini mencintainya.


Selesai makan siang,


Ray dan Nala duduk dikursi taman, sedangkan Rendy dan Tama mengambil beberapa cemilan dan minuman untuk mereka.


“Kalian jadi balik ke Jakarta malam ini?” Tanya Nala


“Iya, besok banyak jadwal operasi Nal. Rendy juga ada tugas ke manado 5 harian sebelum dia cuti” jawab Ray


“Kenapa Nal? Masih kangen sama gua?” teriak Rendy sambil membawa beberapa cemilan


“Ishh jijik..” jawab Nala


“Jijik jijik aja lu kalo ada apa-apa nyariin gua?” protes Rendy


“Ga bakal sekarang mah, kan ada gua.” Tama tak mau kalah


“Alaahhh.. tar juga lu kalo berantem palingan ngadunya ke gua Tam”. Rendy melemparkan tissue kearah Tama dan disambut tawa Tama yang renyah.


“Awas lu pada merit malah nyusahin gua ya.. gada pokoknya lu pada berantem sama pasangan trus gua terus yang jadi pelarian.. kapan gua mau dapet jodoh kalo ngurusin hidup kalian terus”. Rendy menyilangkan tangannya dihadapan Nala, Ray dan Tama.


“Jadi, dimana sosok Rendy yang sangat special itu yang tidak bisa dimiliki seseorang? Ga jadi nih spesialnya?” ejek Ray sambil mengelitik Rendy dengan puas


“Ray ampun.. Ray eehh..” mohon Rendy sambil menjerit kegelian

__ADS_1


Mereka pun menghabiskan hari bersama dengan kekonyolan masing-masing.


***


Jakarta, Pukul 20.30


Ray membaringkan tubuhnya pada sofa apartemennya. Perjalanan Bandung Jakarta cukup menguras energinya. Ray mencoba memejamkan matanya namun, ada hal yang membuatnya sulit untuk mencoba tidur.


Ting Tong…


Ray terbangun mendengar suara bel rumahnya berbunyi lalu ia pun bergegas membuka pintu.


“Assalamualaikum mas..” Senyum Adelia dibalik pintu


“Wa’alaikumsallam..” Jawab Ray


“Ini aku tadi masak, takutnya mas Ray belum makan malam jadi aku bawain..” Adelia menyodorkan kotak makanan yang ia bawa. Ray mengangguk dan menyuruh Adelia masuk.


Adelia pergi ke dapur dan meletakan makanan yang ia bawa.


“Mas mau makan sekarang atau untuk besok? Sekalian aku masakin nasi ya?” suara Adel terhenti ketika melihat Ray tersenyum menatapnya.


Entah kapan terakhir kali Adelia melihat senyum pada wajah Ray, seyuman itu membuat hatinya sangat bahagia.


Ray perlahan berjalan mendekati Adelia. ia meraih pinggang Adelia dan memeluknya dengan lembut.


Adelia hanya diam membisu, dadanya begitu bergemuruh penuh dengan kebahagiaan. Tak terasa Adelia pun menangis bahagia dalam pelukan Ray. Ia sangat bersyukur dengan sikap Ray yang mulai hangat padanya.


“Terima kasih mas..” Ucap pelan Adelia


Selama ini, Ray selalu bersikap acuh terhadap Adelia karena rasa bersalahnya terhadap Nala. Ia sangat tahu bahwa ia menyakiti Adelia, kemudian ia pun berjanji akan menyelesaikan masalahnya dengan Nala dan akan membuka lembaran baru dengan orang yang tulus mencintainya selama ini.


“Mungkin aku belum bisa berbuat banyak untukmu Del, tapi tolong bersabar menghadapiku.. aku butuh waktu dan aku butuh kamu..” ucap Ray menatap tulus Adelia


Adelia mengangguk dan tersenyum kemudian kembali memeluk erat Ray. Pelukan pertama bagi mereka.


***


Sudah tinggal menghitung hari menuju pernikahan Ray dan Adelia. persiapan sudah dilakukan seluruhnya dan hanya menunggu hari pernikahan tiba.


Kini, Adelia dan Ray sedang berada di sebuah supermarket. Mereka sedang membeli beberapa kebutuhan sehari-hari untuk di apartemen mereka nanti.


Adelia dan Ray memutusakan untuk tidak mengambil cuti bulan madu dikarenakan jadwal mereka yang padat. Mereka hanya akan mengambil cuti selama tiga hari untuk pulang ke Bandung satu minggu setelah mereka menikah.


“Sudah semua Del?..” Tanya Ray yang melihat troli belanjaan yang mulai penuh


“Hmm.. di daftar sih udah semua mas..” jawab Adel sambil melihat daftar belanjaanya sambil berjalan

__ADS_1


“Kita butuh itu ga Del?..” ucap Ray sambil menunjuk kearah bedcover


Adelia hanya mengerutkan keningnya sambil melihat arah yang dituju Ray


“Untuk apa mas?..” Tanya Adelia


“Kan kita hanya punya masing-masing satu set Del..” jawab Ray


Adelia pun terdiam, ia kini mengerti maksud Ray.


Meskipun hubungannya saat ini dengan Ray sudah lebih baik. Tapi, setelah mereka menikah nanti Ray meminta untuk sementara tidak satu kamar dengan Adelia.


Ray ingin hubungan mereka terjalin dengan natural dan tidak dipaksakan. Meskipun terasa berat bagi Adelia namun, alasan Ray juga masuk akal baginya dan ia pun menyetujui itu.


“oya.. yaudah aku pilih-pilih dulu ya mas..” Adelia pun mulai melihat-lihat beberapa set bedcover itu.


“Mas suka yang mana?.” Tanya Adelia


“Aku yang polos aja Del dan warnanya yang netral aja..” jawab Ray sambil menunjuk satu set berwarna abu.


Adelia pun tersenyum dan menganggukan kepalanya. Setelah selesai berbelanja, Adelia dan Ray pun bergegas pulang.


***


Bandung,


Nala dan Tama sedang mensurvey tempat yang akan menjadi lokasi pernikahan mereka dua bulan lagi. Mereka ingin pernikahan dengan konsep garden party, meskipun tidak mengundang banyak orang tetapi mereka ingin pernikahannya sangat berkesan.


“Gimana sayang menurutmu?..” Tanya Tama ketika selesai berkeliling


“Hmm.. terlalu luas ga sih mas untuk acara kita?” jawab Nala yang sedikit mengerutkan keningnya


“Iya sih.. tapi tempatnya bagus, banyak bunga..” ucap Tama


Nala hanya diam menatap sekeliling.


“Mau cari tempat lain sayang?..” ucap Tama lembut sambil menggenggam tangan Nala


Nala pun tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Beberapa saat kemudian Nala dan Tama sampai di rumah mereka. Rumah yang sudah satu tahun lalu Tama siapkan untuk Nala. Mereka membawa beberapa barang untuk menambah dekorasi rumah.


Nala berjalan keluar mobil sambil membawa bunga plastik yang akan ia rangkai untuk diletakan diruang tamu. Ia berjalan perlahan sambil melihat-lihat sekeliling dan terhenti sejenak.


“Kenapa sayang?..” ucap Tama saat melihat Nala terdiam ditengah halaman sambil menatap danau buatan dihadapannya.


“Kita adakan pernikahan disini aja ya mas?..” Nala membalikan badannya menatap Tama dengan senyum antusiasnya

__ADS_1


***


__ADS_2