
Tama dan Nala kembali ke ruangan mereka. Tama masih belum bisa duduk terlalu lama dan kondisinya masih lemah.
Ia membaringkan tubuhnya dibangkar.
“Mas istirahat ya? Nanti siang kita ketemu bayi kita..” ucap Nala
“Ketemu?” Tama antusias
“Iya.. dokter bilang akan mengecek kandunganku dan melakukan USG..” senyum Nala
Tama tersenyum dan mengangguk
“Bangunkan aku ya sayang?” ucap Tama
“Iyaa..” jawab Nala
“Janji? Jangan pergi tanpa aku..” tanyanya lagi
“Janji..” Nala menyelimuti suaminya kemudian mengusap pelan kepala Tama
Efek obat yang Tama minum cukup kuat membuatnya sangat mengantuk dan tertidur dengan cepat.
Bu Katy menghampiri Nala
“Kamu juga tidurlah sayang..” ucapnya
“Iya nak, kamu tidur dulu sebentar sebelum pemeriksaan nanti.. papa dan mami akan pergi dulu sebentar ya?” pak Dany mengelus kepala Nala
“Papa dan mami mau kemana?” tanya Nala
Pak Dany dan bu Katy saling pandang
“Bertemu dengan polisi.. sepertinya kecelakaan ini di sengaja dan ada seseorang yang mengaturnya..” ucap pak Dany yang mengejutkan Nala
“Jangan khawatir, papa akan menghandle semuanya.. tolong temani suamimu..” ucap pak Dany
Nala mengangguk dan berpamitan dengan kedua mertuanya.
Hati Nala begitu resah, ia tidak tau jika ada seseorang yang berniat jahat kepada suami dan sahabatnya.
Siang harinya,
Nala dan Tama juga kedua orangtua Tama begitu antusias duduk dihadapan dokter kandungan.
“Yuk bun silahkan berbaring disini..” Alma meminta Nala membaringkan badannya
Suster membantu Nala bersiap untuk melakukan USG
“Nah ini kantung janinnya..” tunjuk Alma
“Sudah tujuh minggu yaa, kondisinya sangat sehat..” lanjutnya
Semua orang tampak sangat bahagia
Tama tak hentinya menatap layar monitor, ia memegang tangan istrinya dengan penuh haru.
“Mau dengar detak jantungnya?” tanya Alma
Tama langsung mengangguk
Deg..deg..deg..deg..deg..deg……
Suara detak jantung sangat jelas terdengar
Nala dan Tama meneteskan air mata. Orangtua mereka pun juga tak kuasa menahan haru.
Setelah selesai,
Alma memberikan resep vitamin untuk Nala dan memberi tahukan nasehat kehamilan.
“Tolong berhati-hati ya bunda.. Jangan kelelahan juga stres..” jelas Alma
“Terima kasih banyak dok..” senyum mengembang Nala
Mereka kembali ke kamar rawat Tama.
Bu Katy dan Pak Dany pamit untuk kembali ke hotel, mereka membiarkan Nala dan Tama lebih banyak waktu berdua.
__ADS_1
“Pa, orang-orang didepan siapa?” tanya Tama
“Mereka akan menjaga kalian disini, tak usah dipikirkan mereka tak akan gangu..” ucap pak Dany
Nala hanya terdiam menatap ayah mertuanya. Ia yakin ada sesuatu yang tak beres yang mengharuskan mereka di jaga oleh beberapa bodyguard.
Pak Dany dan bu Katy pun berlalu.
Tama menatap Nala sambil terus memegangi foto USG anaknya.
“Kenapa sayang?” Nala heran karena Tama terus menatapnya
“Ga apa-apa, aku pikir tadi aku bermimpi.. ternyata pas bangun kamu masih menjadi istriku..” ucap Tama
Nala mengerutkan keningnya. Ia hampir saja lupa jika suaminya mengalami amnesia dan pastinya akan selalu merasa kebingungan.
Nala mengecup pipi Tama dengan lembut. Seketika badan Tama menegang. Ia sangat terkejut.
Nala tertawa kecil melihat wajah Tama.
“Seneng ya ngerjain aku?” protes Tama
“Aku bahkan ga ingat gimana rasanya mencium istriku..” Tama membuang nafasnya kasar
“Mau di ingetin?” goda Nala
Tama memasang wajah peringatan pada Nala dan membuat Nala tertawa keras.
***
Dua hari kemudian,
Nala berjalan perlahan menemui Rendy di kamarnya.
Rendy tersenyum bahagia dengan kedatangan Nala
“Loh, ibu dan bapak mana Ren?” tanya Nala yang melihat Rendy disana sendirian
“Bapak Udah mulai kerja, ibu lagi ambil keperluan dirumah..” jawabnya
Nala mengangguk kemudian duduk disamping Rendy
“Wiihh bagus nih aksesoris?” Nala melihat gips yang terpasang dilengan Rendy
“Tama gimana Nal?..” tanya Rendy
“Sangat baik, kalo kondisinya terus stabil kata Ray bisa cepet pulang..” senyum Nala
“Syukurlah..” ucap Rendy
“Hemmhh.. Ren, gua mau tanya sesuatu boleh?” tanya Nala
Rendy mengangguk
“Pas kejadian, sebenarnya ada apa?” ucap Nala perlahan
“Kenapa lu segitu merasa bersalahnya sama mas Tama?” lanjutnya
Rendy terdiam, ia mengingat-ingat apa yang terjadi.
Perlahan, Rendy menceritakan apa yang terjadi. Awal mula dirinya bisa terlibat masalah dengan Aldi. Sedari awal Rendy menyadari ada yang tak beres dengan kecelakaan yang menimpa dirinya dan Tama, hingga kemarin siang beberapa polisi menemuinya dan meminta keterangan dari dia.
“Seharusnya dari awal gua ga melibatkan Tama. Maka dari itu gua sangat menyesal..” ucap Rendy
Nala terkejut dengan apa yang terjadi
“Tapi Nal.. kenapa kata polisi hanya gua yang bisa di mintai keterangan?” tanya Rendy heran
Nala hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin Rendy makin merasa bersalah jika tau Tama mengalami amnesia karena kecelakaan itu.
“Yaudah lu istirahat gih, gua mau balik kesana lagi..” ucap Nala
“Eh tungguin.. Gua mau ikut..” ucap Rendy
“Gua bete disini sendirian, mending ngegibah sama laki lu..” Rendy tersenyum lebar
Ia perlahan bangun dari bangkar nya dan duduk di kursi roda
“Dorongiiinn cintaa..” rengeknya
Nala bingung harus melakukan apa, jika Rendy berbincang dengan Tama, ia akan tau jika Tama amnesia
__ADS_1
“Ayook buruan..” ucap Rendy lagi
Dengan berat hati Nala membawa Rendy keruangannya. Ia hanya berdoa agar tidak ada hal buruk terjadi.
Sesampainya disana, Tama menatap kedatangan Rendy dan Nala
“Heyy bro..” teriak girang Rendy
Tama tersenyum canggung
Nala membawa Rendy ke samping Tama
“Gimana lu? Masih sakit?” tanya Rendy
Tama mengangguk
“Kamu juga?” tanyanya canggung
Nala menatap kearah mereka. Rendy mengerutkan keningnya
“Kenapa lu? Geli banget anjir gua..” tawa Rendy memukul pundak Tama dengan tangan kirinya
Nala yang sedari tadi menghubungi Ray sangat cemas.
“Ray cepet kesini..” ucap Nala pelan sambil memegangi ponselnya
"Lu kok asing amat sih gua perhatiini?.." ucap Rendy menatap Tama
“Wooy..” teriak Ray dari arah pintu
Mereka terkejut dengan kedatangan Ray
Ray mendekat dengan napas terengah
“Kenapa lu? Kaya dikejar setan aja?” tanya Rendy pada Ray
Ray menoleh ke arah Nala
“Olahraga..” cengir nya pada Rendy dan Tama
“Ga ngerti lagi deh gua sama kelakuan lu Ray..” ucap Rendy
Tama hanya berdiam diri sambil memperhatikan Rendy dan Ray yang sedang mengobrol.
Rendy yang menyadari itu pun penasaran
“Lu kenapa sih Tam? Diem aja..” tanya Rendy
“Dia masih sakit pea.. jangan banyak tanya” Ray menjitak kepala Rendy
Rendy menggerutu sendiri
“Oya Tam, mobil lu gimana? Siapa yang ambil kesana?” tanya Rendy
Ray dan Nala langsung saling pandang
Sedari kemarin Nala dan Ray mencari-cari keberadaan mobil itu, ponsel Tama hilang saat kecelakaan sehingga ia tidak bisa mencari informasi dari sana.
“Hemh.. emang mobilnya dimana?” tanya Nala
“Lah belom diambil? Itu di Car Wash deket kantor gua, yang di deket pertigaan..” ucap Rendy
Nala mengangguk kemudian menatap Ray. Ia langsung mengirimi Dimas pesan untuk mengambil mobilnya.
“Kenapa dah belom diambil?” tanya Rendy
“Belom sempet, tau sendiri kemaren gimana.. Nanti kak Dimas kesana ambil” ucap Nala
“Oowh.. Untung mobil gua ada asuransi jadi bisa diganti hehehe..” ucap Rendy
Nala menatap Rendy tajam
Rendy langsung menciut
“Eeuuhh.. Ray, anterin gua ke kamar yuk? Pala gua sakit aduuhh..” Rendy menatap Nala ngeri
“Dadah Tam, tar ngobrol lagi..” Rendy kemudian berlalu bersama Ray
Nala menarik nafas lega akhirnya Rendy tidak mengetahui kondisi Tama. Ia membaringkan tubuhnya di sofa.
****
__ADS_1