
Singapura, Oktober 2020.
Ray termenung duduk menatap jendela kamarnya. Kurang dari dua bulan ia akan menikahi seseorang. Pada akhir minggu ia akan kembali ke Indonesia secara permanen. Ia mendapatkan perkerjaan disalah satu rumah sakit besar di Jakarta.
“Mas, barangnya apa ada lagi yang mau dibawa?” Adelia membuka pintu kamar Ray dan melihat calon suaminya itu terduduk melamun.
“Mas..” ucap Adelia perlahan
Ray yang menyadari Adelia dihadapannya pun terkejut.
“Ada apa Del?” ucapnya
“Barangnya apa masih ada yang mau dibawa? Itu orang ekspedisinya sudah mulai bawa barangnya..” senyum Adelia
“Ohya.. sebentar nanti saya keluar..” Ray pun bangkit dan melihat-lihat barang-barangnya.
Adelia pun meninggalkan Ray. Semenjak tanggal pernikahannya di putuskan sikap Ray menjadi semakin diam dan tertutup. Bahkan Adelia lah yang menyiapkan persiapan pernikahan dan kepulangan mereka ke Indonesia seorang diri.
Adelia memaklumi Ray yang semakin jauh darinya. Ia berpikir ini semua sangat berat bagi Ray karena itu, dia tidak keberatan menerima sikap apapun dari Ray sekarang.
Ting..Tong…
Suara bel pintu membuyarkan lamunan Adelia. Ia bergegas membukakan pintu, Adelia pikir itu orang ekspedisi yang masih akan menurunkan barang-barang Ray. Namun, ia mendapatkan seorang pria membawa ransel dan berwajah datar dihadapannya.
“Hallo.. I’m sorry, may I help you?” sapa Adelia ramah. Ia mengira pria itu orang singapura karena wajah orientalnya.
“Gua mau ketemu Ray, dimana dia?” ucapnya sambil membuka pintu lalu masuk melewati Adelia begitu saja.
“Raayy!!..” Teriaknya
“Hey, kamu siapa? Kenapa seperti ini?” ucap Adelia
Ray yang mendengar keributan diluar langsung mencari asal suara.
“Rendy..” ucap Ray terkejut melihat sahabatnya ada disana
“Brengsek!!..” Tanpa aba-aba Rendy mendekati Ray kemudian meninju pipi Ray dengan keras, Ray terjatuh kelantai. Seolah belum puas, Rendy menarik kerah baju Ray kemudian meninjunya bertubi-tubi.
Adelia teriak mencoba meleraykan keributan itu. Ray hanya diam tidak melawan ketika sahabatnya menghajar dia habis-habisan.
Rendy dan Ray dipisahkan oleh petugas ekspedisi yang datang kesana. Wajah Ray yang babak belur penuh luka dan berdarah membuat Adelia marah dan memaki Rendy.
__ADS_1
Setelah beberapa saat keadaanpun mulai kondusif. Para petugas ekspedisi sudah pergi menyisakan Ray yang sedang diobati oleh Adelia dan Rendy yang terduduk diujung ruangan.
“Sebetulnya anda siapa sih? Kenapa anda memukul orang sembarangan?” Adelia menatap Rendy marah.
Rendy hanya tersenyum kecut kearah Ray dan menatapnya
“Masih untung gua baru bisa datang kesini sekarang. Jadi, emosi gua udah mulai berkurang banyak. Kalo sampe saat itu gua langsung datang, mungkin lu udah mati Ray”. Ucap Rendy kemudian mengambil ranselnya dan melangkah menuju pintu keluar.
“Lu nginep dimana? Nanti gua kesana?” ucap Ray sambil terengah
Adelia langsung menatap Ray heran
“Hotel X kamar 987. Yaa..Lu memang harus kesana dan kasih gua jawaban!!” Rendy pun berlalu
Ray bangkit menuju kamarnya.
“Mas, kamu mau apa? Ga mas, aku ga izinin kamu nemuin dia.. kamu bisa kenapa-napa mas..” Adelia mencoba mencegah Ray.
“Dia sabahat saya dan saya sudah melakukan kesalahan yang besar. Kamu tenang aja, dia ga akan berbuat hal yang lebih dari ini.” Ucap Ray
“Pulanglah Del.. saya mau istirahat sebentar” sambungnya kemudian masuk kedalam kamar.
Adelia mau tidak mau harus pulang meskipun ia masih sangat khawatir dengan Ray.
Ray melemparkan sekaleng minuman bersoda pada Rendy, kemudian membuka kaleng lainnya untuk dirinya sendiri. Ray duduk disisi sofa sambil memandang city light singapura yang begitu indah dari lantai sembilan itu.
“Kabar dia gimana sekarang Ren?” ucap Ray tanpa menoleh
“Udah baik-baik aja. Tapi, lu pasti ga akan mau tau kabar dia tiga bulan kebelakang gimana..” jawab Rendy sambil menatap Ray
“Gimana gua ga tau kalo setiap hari lu neror gua dengan makian, dari sikap lu itu juga udah kebaca” Ray sambil meminum minumannya.
“Jadi udah kebaca kalo dia syok sampe harus dirawat di rumah sakit beberapa hari?”
Ray pun menatap Rendy dengan terkejut.
“Ga usah sok kaget! Katanya udah kebaca!” ketus rendy sambil mendudukan diri di atas kasur.
Merekapun terdiam beberapa saat.
__ADS_1
“Lagian lu tuh kenapa harus ngelakuin hal itu sih Ray? Gua cuma ga ngerti jalan pikiran lu. Lu nyakitin orang yang lu sayang, yang kita sayang! Lu juga nyakitin gua Ray!” Rendy mulai tersulut emosi dengan nafas tersenggal menahan amarah.
“Gua ga sangka, kok lu bisa sekejam itu” lanjutnya terbata
Ray masih terdiam, ia memejamkan matanya mengingat ingat kejadian pada hari itu. Matanya kini juga sudah basah. Ia kembali menatap keluar jendela.
“Gua udah gila Ren, gua udah kehilangan akal..” isaknya
“Gua putus asa, gua memang brengsek” lanjutnya sambil menundukan kepala meremas kencang kaleng minuman yang sudah kosong ditangannya.
Rendy mendekati Ray lalu memeluk sahabatnya itu. Ray menangis mengeluarkan semua sesak didadanya. Sebesar apapun penyesalannya saat ini tidak akan merubah apapun.
Saat ini, Ray betul-betul sudah kehilangan Nala. Dia bahkan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Setiap waktu selalu terlintas wajah Nala yang sedang menangis meminta ampun padanya.
Tidak ada alasan yang bisa dia jelaskan mengapa ia melakukan itu, sesungguhnya Ray juga tidak mengerti apa yang sudah ia lakukan. Hanya penyesalan saja yang tersisa.
***
Esok harinya,
Rendy dan Ray sedang menikmati makan siang mereka bersama disebuah restoran di sebrang hotel tempat Rendy menginap.
Rendy memperhatikan sahabatnya itu, tampak raut wajah kelelahan dengan kantung mata menghitam dan tubuh yang mengurus. Rendy tau jika Ray selama ini juga begitu depresi dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap Nala.
“Semalem Nala chat gua nanya kabar lu”. Ucap Rendy
“Gua kalo jadi Nala pasti udah ngapus nama lu di hidup gua. Ajaibnya, waktu itu setelah pulang dari RS dia malah orang yang paling khawatir sama lu. Terlebih hampir tiga bulan ini lu sama sekali gada kabar. Kalo gada Tama pasti Nala juga udah nyusul lu kesini buat pastiin apakah lu baik-baik aja” ucap Rendy yang membuat Ray menatapnya.
“Gua tau ini berat buat lu, tapi gua rasa lu harus temuin dia Ray. Lu pasti tau sesayang apa dia sama lu dan seberarti apa lu buat dia. Sesakit apapun lu nyakitin dia, dia selalu butuh lu dihidupnya..” jelas Rendy.
“Minta maaflah dengan layak sama Nala.” Rendy berdiri dari duduknya
“Gua pamit balik duluan, gua tunggu lu di Jakarta..” Rendy menepuk pundak Ray dan kemudian berlalu.
Hati Ray terasa tercabik-cabik saat ini. Iya menatap wajah Nala dilayar ponselnya, Ray terisak pelan menahan sesak didada. Ia sudah tidak memperdulikan orang-orang yang melihat kearahnya.
Rendy membuka pintu taxi kemudian berbalik melihat kearah Ray dibalik jendela, ia hanya menarik nafasnya dalam. Apa yang terjadi pada kedua sahabatnya ini sangat membuat hatinya juga hancur. Rendy pun masuk kedalam taxi menuju bandara.
__ADS_1
***