
Kreeekkk…
Suara pintu pagar menghentikan kegiatan Tama.
Tak lama muncul bu Katy dibalik pintu depan dengan senyuman manisnya
“Son..” bu Katy memeluk putranya dengan erat
“Mami dari mana?” tanya Tama
“Ya dari rumahlah.. mami sengaja kesini karena tau kamu pasti bete sendirian..” senyum bu Katy
“Thanks mam..” Senyum Tama
“Bagaimana kabarmu hari ini son?..” tanya bu Katy
“Sangat baik, tadi sudah diganti perban oleh perawat mam..” Jawab Tama
“Syukurlah.. okay kalo gitu mami mau ke dapur dulu ya, mami tadi abis belanja trus mau masakin kamu makan siang dan juga mau kirim untuk Nala di kantor..” senyum antusias bu Katy
Tama tersenyum melihat tingkah ibunya yang sangat ceria.
Pukul 11.45 WIB,
Nala menghampiri pak Asep di lobby kantor. Ia sangat bahagia mendapatkan kiriman dari ibu mertuanya itu.
“Hai mam.. makanannya sudah Nala terima, makasih banyak ya mam sudah repot masak dan kirim untukku..” senyum Nala sambil menelpon mertuanya
“Tentu saja sayang, bagaimana kabarmu hari ini? Apa mual dan pusing?” tanya bu Katy
“Tidak mam, aku baik-baik saja.. anakku sangat baik dan pintar..” senyum Nala
“Persis ibunya..” tawa bu Katy
Mereka berbincang singkat kemudian Nala kembali ke kantornya.
Ia menggenggam erat bekal makanan ditangannya dengan bahagia.
“Bagaimana Nala mam?” tanya Tama
“Ia terdengar sangat baik son..” senyum bu Katy
Tama tersenyum lalu menunduk memainkan garpu dan sendoknya
“Hey, ada apa?” bu Katy menatap putranya
“Hemmh.. aku merasa bersalah pada Nala mam..” ucap Tama pelan
“Kenapa?” tanya bu Katy
“Aku belum terbiasa dengan kenyataan jika kini aku dan Nala sudah menikah. Aku selalu bersikap dingin pada Nala tanpa sengaja dan aku tau pasti itu membuat Nala sedih..” ucap Tama perlahan
Bu Katy menatap Tama sendu
“Mami tau ini mungkin terasa asing untukmu.. tapi, bukankah Nala adalah wanita yang selama ini kamu cintai? Perlakukan Nala dengan baik, tunjukan jika kamu sangat menyayanginya, son..” ucap bu Katy
“Ya mam.. aku sangat menyesal, aku ingin menunjukan perhatianku tapi aku tidak tau Bagaimana aku harus bersikap.. Nala kini sedang mengandung anakku dan dia pasti sangat membutuhkanku..” ucap Tama
Bu Katy tersenyum dan menggenggam lengan Tama
“Mami yakin kamu pasti bisa.” Senyumnya
__ADS_1
Jakarta,
Rendy duduk diruangan kerjanya, ia sudah mulai masuk kerja meskipun tangan kanannya masih terpasang gips. Ia merasa bosan karena tidak bisa melakukan apapun, ia hanya mendampingi Junior yang sedang menggantikannya bertugas.
Tok.. Tok..
“Permisi bang, ada yang nyari bang Rendy di luar..” Ucap Junior Rendy yang lainnya dari balik pintu
“Siapa?..” Rendy mengerutkan keningnya
“Perempuan bang, namanya Naura..” ucap juniornya
“Naura?..” Rendy langsung berdiri dari duduknya
Ia terdiam sejenak lalu bergegas keluar untuk menemui Naura
Sesampainya di luar kantor, Rendy menatap Naura yang sudah menutup mulutnya menahan tangis menatap lengan Rendy yang terluka.
Rendy langsung menghampiri Naura dan membawanya ke kantin yang cukup sepi. Mereka duduk saling berhadapan.
“Naura…” tatap Rendy
“Maafkan aku mas..” Naura tertunduk
Air mata Naura sudah mengalir deras. Ia sangat merasa bersalah terhadap Rendy
“Bagaimana kamu tau?” tanya Rendy
“Dari bang Reza..” ucap pelan Naura
“Reza?..” Rendy mengerutkan keningnya
Rendy menghembuskan nafasnya, ia tidak tau jika teman sekantornya ada yang mengenal Naura.
“Ini ada hubungannya dengan Aldi kan mas?” tatap Naura
Rendy terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Naura
“Tidak Na, ini hanya kecelakaan biasa..” ucap Rendy
“Jangan bohong mas, bang Reza sudah menceritakan semuanya..” ucap Naura yang mengejutkan Rendy
“Anjir ember banget si Reza..” gerutu Rendy pelan
“Bagaimana dengan teman mas Rendy yang juga ikut celaka?” tanya Naura
“Hemmhh… dia baik-baik aja..” senyum Rendy
Naura terdiam menatap pepohonan disana, hatinya sungguh hancur dan sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Rendy memperhatikan raut wajah Naura yang terlihat sangat lelah, ia tau jika Naura pasti banyak menangis sejak tau apa yang terjadi.
“Tidak usah dipikirkan Naura, ini sudah terjadi dan kami baik-baik saja..” ucap Rendy pelan
“Maafkan aku mas, tidak seharusnya mas Rendy terlibat dengan apa yang terjadi padaku dan Aldi..” ucap Naura
“Aku yang dengan sengaja melibatkan diri Naura, ini keinginanku..” ucap Rendy
“Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, lebih baik memperbaiki keadaan dan terus melangkah.. setidaknya seseorang pernah mengatakan itu padaku..” senyum Rendy
Naura menatap pria yang sangat ia kagumi itu, pria yang selama ini selalu menjadi penolongnya dan sangat tulus terhadapnya.
“Terima kasih mas..” senyum tipis Naura dengan sebulir air mata disudut matanya
***
__ADS_1
Bandung,
Pukul 18.00 WIB
Nala dan Dwi berjalan keluar kantor. Maskipun kehamilannya tidak menghambat aktivitasnya namun Nala mudah merasa kelelahan dan lebih sensitif.
“Gua balik duluan ya Nal..” Dwi melambaikan tangannya seraya berlalu menggunakan sepeda motornya
Nala tersenyum lalu berjalan perlahan menuju mobilnya. Ia menarik nafas yang terasa agak menyesakan. Tubuhnya terasa sangat letih dengan setumpuk pekerjaan yang lama ia tinggal karena kecelakaan yang menimpa suaminya.
Nala melajukan mobilnya perlahan memasuki jalanan Bandung yang cukup padat pada sore itu. Ia menatap sepasang muda mudi yang sedang berboncengan sepeda motor sambil mengobrol dengan tawa mereka.
Nala tersenyum getir mengingat bagaimana hubungannya dengan Tama saat ini. Hubungan yang seharusnya lebih membahagiakan tetapi menjadi asing dalam sekejap.
Lima belas menit kemudian, mobil Nala memasuki pekarangan rumah.
Tama yang sedang membaringkan tubuhnya langsung beranjak keluar kamar untuk menyambut sang istri.
“Assalamualaikum..” salam Nala memasuki rumah
“Wa’alaikumsallam sayang..” senyum Tama mengembang menatap istrinya
Nala menghampiri Tama dan mencium tangannya.
“Mas Udah makan?” tanya Nala
“Belum, nunggu kamu pulang sayang..” senyum Tama
“Yaudah kalo gitu aku mandi dulu sebentar ya mas..” senyum Nala seraya masuk kedalam kamar
Tama menatap wajah istrinya yang terlihat lelah dan merasa khawatir.
Selesai mandi Nala bergegas ke dapur untuk memasak makan malam.
“Bu, sudah ada makanan di meja..” Bi Inah mengejutkan Nala
“Hemmh?.. Siapa yang masak bi?..” tanya Nala
“Tadi mami ada kesini sayang dan masak banyak..” ucap Tama menghampiri
“Wah beruntungnya aku..” senyum Nala menuju meja makan
Nala sangat senang menatap beberapa menu yang tersaji disana. Nala dan Tama langsung memulai makan malam mereka.
“Sayang gimana hari ini?..” tanya Tama menatap istrinya yang terlihat semangat menyantap makanannya
“Hemm.. lumayan menyenangkan.. tapi, agak aneh aja sih biasanya ada mas disana..” wajah Nala seketika berubah sendu
Tama menggenggam tangan Nala dan menatapnya
“Maafkan aku ya sayang.. seharusnya aku bisa jaga kamu dikantor..” ucap Tama
Nala mengangguk dan tersenyum lebar
“Oya sayang, apa ga lebih baik kamu di antar jemput pak Asep aja tiap hari? Aku khawatir kamu cape nyetir sendiri..” ucap Tama perlahan
Nala berpikir sejenak dan mengangguk membuat Tama gemas.
“Bagaimana kabar kamu sayang hari ini?” tanya Nala
“Aku banyak sekali tidur hari ini, rasanya malah jadi lelah sekali..” Tama meregangkan lengannya yang nampak pegal
Nala mengusap wajah suaminya dan tersenyum menatapnya.
“Sangat bagus untuk penyembuhanmu mas..” senyumnya
***
__ADS_1