Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#39


__ADS_3

Tiga minggu kemudian,


Bandung


Nala dan Tama hari ini sedang melakukan fitting busana pengantin mereka. Nala memilih kebaya kutu baru dengan design modern berwarna broken White dipadukan dengan siger sunda. Sedangkan Tama akan memakai beskap modern khas sunda untuk akad nikah mereka.


Tama dan ibunya begitu terpesona saat Nala menggunakan kebayanya.


“Cantik sekali menantuku..” Girang bu Katy


Nala tersenyum menatap calon mertuanya itu,


“Mas suka?” tanya Nala menatap Tama yang sedari tadi hanya tersenyum padanya


“Sampe ga bisa berkata-kata..” ucap Tama


Bu Katy pun memeluk putranya itu


Mami ga sabar bangeett..” ucapnya antusias pada Tama


“Apalagi yang mau nikahnya mam..” jawab Tama sambil tertawa


 


Pelayan yang membantu Nala pun kemudian datang membawakan beberapa gaun.


“Permisi kak, ini untuk pilihan gaun kemarin..” ucapnya pada Nala


Nala kemudian menatap Tama untuk minta pendapat. Tama melihat-lihat lima gaun yang ada dihadapan mereka.


Nala ingin menggunakan gaun simpel untuk acara resepsinya nanti.


“Nomor dua dan empat nampak bagus sayang..” ucap Tama


“Saya coba dulu ya mbak..” ucap Nala pada pelayan


“Baik, silahkan ikut saya kak..” ucapnya


Beberapa saat kemudian, Nala pun mengganti kebaya dengan gaun yang Tama pilihkan.


Setelah mencoba kedua gaun tersebut, Tama dan bu Katy pun bingung memilih, karena kedua gaun tersebut sangat cantik digunakan oleh Nala.


“Kamu suka yang mana sayang?..” tanya bu Katy pada Nala


“Hmmm.. Aku juga suka keduanya mam..” tawa Nala


“Yaudah kita beli keduanya..” mata bu Katy pun berbinar


“No mam, kita hanya butuh satu..” ucap Nala sambil memeluk calon mertuanya


Mereka pun beberapa saat masih saja sibuk memilih.


 


 


Jakarta,


Adelia nampak pucat terduduk diruang istirahat sambil mengompres kram perutnya. Ia menatap ponselnya kemudian tersenyum mendapatkan telpon dari suaminya.


“Ya mas?..” senyum Adelia mengembang


“Sayang, kamu udah selesai tugasnya?..” tanya Ray diseberang sana


“Aku masih ada follow up dua pasien lagi mas.. kayanya sekitar dua puluh menit lagi” jawab Adelia


“Hmmm.. berarti aku jemput kamu satu jam lagi?” ucap Ray sambil mengecek jam tangannya


“Iya mas.. nanti aku tunggu yaa..” senyum Adelia

__ADS_1


Adelia menutup telponnya, sesaat kemudian Adelia keluar untuk membeli minuman dingin. Entah kenapa rasanya hari ini terasa begitu panas dan ia selalu ingin meminum minuman dingin.


“Adel..” sapa seseorang


“Hey Des, lagi istirahat juga?” senyum Adelia pada temannya Desi


“Iya, haduh.. hari ini bener-bener kewalahan ya kita?..” keluhnya sambil menempelkan botol air mineral dingin dikening


Adelia mengangguk dan tertawa


“Del, muka kamu kok pucet banget? Ga pake lipstik ya?” tanya Desi menatap Adelia


“Masa sih? Barusan udah pake kok, masa iya ga keliatan?” ucap Adelia heran


Desi pun mengecek Adelia.


“Kayanya kamu kecapean deh Del, pulang gih izin..” ucap Desi


Adelia tersenyum menggelengkan kepalanya


“Ada apa ini bu ibu?” suara seseorang di samping mengejutkan mereka


“Eh dokter Candra..” senyum canggung Desi


“Silahkan duduk dok..” ucap adelia


Candra ikut bergabung duduk bersama mereka


“Dokter Adel, kok wajahnya pucat? Sakit?” ucap Candra


“Iya kan dok? Saya juga tadi bilang gitu..” balas Desi


“Saya tadi suruh izin pulang tapi dia ga mau..” lanjut Desi


“Saya baik-baik aja Dok, sebentar lagi juga saya selesai..” senyum Adelia


“Tidak Del, kamu harus pulang.. dokter Desi bisa gantikan tugas dokter Adelia?” ucap Candra


“Mari saya antarkan pulang..” Candra pun memegang tangan Adelia


Adelia terkejut dan langsung melepaskan tangan Candra


“Maaf dok, terima kasih.. tapi saya baik-baik aja” ucap Adelia kemudian pergi meninggalkan mereka


Baru saja beberapa langkah, Adelia terjatuh tak sadarkan diri


Candra dan Desi terkejut kemudian membawa Adelia ke ruang perawatan


 


Beberapa saat kemudian,


“Des, tolong jaga Adelia dulu ya.. saya ada pasien sebentar..” ucap Candra


“Baik dok..” jawab Desi


Desi mengecek kondisi Adelia. Candra yang awalnya ingin menangani Adelia namun tidak sempat karena sudah mendapatkan panggilan.


Saat sedang mengecek kondisi Adelia, Desi pun sempat terdiam dan heran


“Dess…” ucap Adelia yang mulai tersadar


“ya Del? Apa yang kamu rasain Del?..” tanya Desi


Adelia memegang kepalanya yang sakit


“Kepalaku sakit, perutku juga agak keram..” keluh Adelia


Desi menatap heran Adelia

__ADS_1


“Del, aku rasa kamu hamil..” ucap Desi menatap Adelia


Adelia langsung menatap temannya itu dan mengingat-ingat kapan terakhir dirinya menstruasi


“Del, emang kamu udah nikah?” tanya Desi yang penasaran


Adelia hanya mengangguk dan masih terkejut


“Hah serius Del?..” Desi terkejut tidak percaya


Lalu ia pun menelepon salah satu teman mereka yang merupakan dokter kandungan.


“Del yuk ikut aku..” Desi menuntun Adelia untuk duduk dikursi roda lalu membawanya


“Mau kemana des?” tanya Adelia bingung


“Kita cek ke Rissa..” jawab Desi


Adelia kini sedang melakukan tes kehamilan. Sesuai prediksi Desi, tes kehamilan itu menunjukan dua garis.


Rissa kemudian melakukan USG kepada Adelia


“Itu kantungnya Del, lihat ada titik disana..” tunjuk Rissa pada layar monitor


Adelia hanya terdiam dan menatap layar monitor. Dirinya masih belum tersadar sepenuhnya karena perasaan yang campur aduk.


“Usia kandungan kamu tujuh sampai delapan minggu..” senyum Rissa menjelaskan


“Selamat ya Del..” Desi memeluk Adelia dengan bahagia


Adelia menangis haru menatap photo USG yang digenggamnya


“Terima kasih Ris.. Des..” ucapnya pada dua temannya itu


 


Setelah melakukan konsultasi bersama Rissa. Adelia dan Desi pun kembali berjalan perlahan menuju ruangan mereka.


Desi tampak bahagia mengobrol dengan Adelia dan bertanya-tanya mengenai pernikahan Adelia yang tidak ia ketahui.


“Loh kalian kok malah disini?” ucap Candra dengan nafas terengah


“Iya Dok, tadi Adelia sudah di periksa..” ucapan Desi terpotong karena Candra meraih kursi roda Adelia dan membawanya pergi


Karena kondisinya yang masih cukup lemah, Adelia tidak bisa berbuat banyak saat Candra membawanya.


Kini, Adelia dan Candra berada di mobil. Candra kekeh ingin mengantarkan Adelia pulang meskipun Adelia sudah berusaha menolak.


 


Ray yang sedari tadi menelepon istrinya namun tidak mendapatkan jawaban berusaha untuk mencari keberadaan Adelia.


“Maaf, apa dokter Adelia ada?” tanya Ray pada salah satu perawat


“Dokter Adel?..” beo perawat itu sambil mengingat-ingat


“Oya, sekitar sepuluh menit yang lalu dokter Adelia pergi bersama dokter Candra..” Ucapnya


“Dokter Candra? Pergi kemana?” tanya Ray heran


Namun perawat itu pergi tanpa menjawab Ray dikarenakan ada pasien urgent mendadak masuk.


 


Ray terdiam beberapa saat, entah kenapa rasanya kecewa mendengar Adelia pergi dengan lelaki lain. Terlebih Adelia tidak mengabarinya dan sulit dihubungi.


Sudah beberapa hari ini suasana hati Ray terganggu. Ia sering mengalami mood swing dan merasa kesal tanpa alasan.


Ia kemudian memutuskan untuk pulang dan menunggu Adelia di rumah.

__ADS_1


***


__ADS_2