
Bandung,
Dua hari kemudian.
Tama menatap kearah Nala yang sedang bercanda bersama Dwi dan beberapa karyawan lainnya diwaktu istirahat dari balik kaca ruangannya. Tawa Nala kini sudah kembali utuh, sudah tidak ada lagi air mata tentang Ray dihari-harinya.
*Rendy:
“Ray baik-baik aja. Tapi kondisinya lebih buruk dari yang gua bayangkan, dia hanya masih butuh waktu. Dua hari lagi dia tiba di Jakarta, lu ga usah khawatirin dia. Fokus aja dengan Nala. Gua yang bakal jaga Ray disini..”
Pesan dari Rendy membuat hati Tama lebih tenang. Dia pun kembali melihat kearah Nala.
Selama ini, Tama dan Rendy selalu mencari cara agar bisa menghubungi Ray tapi selalu tidak berhasil. Tama tidak bisa meninggalkan Nala yang membutuhkannya untuk menemui Ray ke Singapura. Sedangkan Rendy harus masuk pendidikan untuk kenaikan pangkatnya dan tidak mungkin untuk pergi keluar negeri.
Meskipun Ray adalah rivalnya dan orang yang sudah menyakiti kekasihnya. Tapi, Tama begitu mengerti dengan situasi Ray saat itu. Rendy sudah menceritakan semua yang terjadi pada Ray dan Nala sampai semua pertanyaannya selama ini terjawab.
“Nal itu laki lu ngapa dah dari tadi gua perhatiin ngeliatin kearah lu terus tuh..” Dwi berbisik pada Nala. Seketika Nala langsung menoleh kearah Tama dan tatapan mereka pun bertemu.
“Duh.. Mas Tama kok ngeliatin gua terus sih dari tadi, kan jadi seneng gua..” ucap Sasa.
Salah satu karyawan yang sudah lama menyukai Tama. wajahnya yang cantik seringkali membuatnya begitu percaya diri, angkuh dan selalu menyepelekan oranglain.
“Dih pede! mas bule tuh lagi ngeliatin gua tau gak?!” Dwi yang memang selalu bersitegang dengan Sasa pun begitu muak dengan segala macam cara Sasa memberi tahukan kebohongan kepada semua orang bahwa Tama sedang menyukainya.
Nala yang malas mendengar mereka berdua bertengkar seperti biasanya pun langsung menarik tangan Dwi untuk kembali ke meja kerja mereka.
“Duuh pengen gua cabik-cabik rasanya tuh mulut si Sasa..” kesal Dwi
“Udahlah Nal, lu kasih tau aja semua orang kalo kalian tuh pacaran. Kesel banget gua sama betina satu itu ngaku-ngaku jadi pacarnya cowok lu terus, udah jelas-jelas semua orang disini juga tau dari dulu mas bule naksirnya sama lu. Dasar betino gilo halu” sambungnya
“Huuusstt Wii..” Nala memelototi Dwi. Dia sudah lelah rasanya memberikan alasan kepada Dwi kenapa hubungannya dengan Tama tidak ingin terungkap dikantor.”
Pukul 18.30 WIB
Dwi sudah pamit pulang, sementara Nala masih merapikan barang-barangnya.
Tuk..Tuk.. *Suara pulpen di ketukan keatas meja
“Eh Nala.. permisi ya Nal, gua bingung deh kenapa lu tuh selalu bilang ke orang-orang kalo mas Tama yang notabene calon cowok gua, tuh suka sama lu. emang ga cape ngayal?” Ucap Sasa dengan wajah merendahkan Nala.
__ADS_1
Nala yang cukup lelah dengan aktifitasnya seharian hanya diam. Dia terlalu malas meladeni wanita dengan berjuta kalimat bohongnya itu.
“Kok diem aja? Kenapa? Bingung ya mau jawab apa? Dasar pelakor!” Sasa menyilangkan tangannya didepan dada.
Dengan malas Nala berdiri dan tertunduk menyamai tinggi Sasa yang hanya sebahunya.
“Iya bingung, bingung kenapa lu ga ngerasa cape selalu hidup dalam imajinasi lu sendiri.” Tatap sinis Nala diwajah Sasa.
“Permisi!” Lanjut Nala meninggalkan Sasa dengan wajah yang sudah siap mencengkramnya.
Mood Nala benar-benar hancur saat ini. Banyak sekali pekerjaannya ditambah dengan kelakuan Sasa beberapa minggu ini semakin menjadi.
“Hey kok disini? Aku dari tadi nunggu kamu loh dimobil?” Tama mengejutkan Nala yang terdiam ditepi jalan
“Yaampun, iya maaf mas..” ucap Nala kebingungan
Tama hanya menarik nafasnya kemudian membawa Nala masuk kedalam mobilnya.
“Kamu lagi mikirin apa sih sayang?” Tama menggenggam tangan Nala dan menaruh di pipinya sambil menyetir.
“Gapapa mas, cape aja banyak kerjaan..” jawabnya sambil menatap jalanan dihadapannya.
“Mau aku bantu?” senyum Tama
Beberapa menit berjalan, Tama fokus didepan kemudinya sementara Nala tertidur karena kelelahan.
“Sayang, hari ini lagi pengen makan apa?” Ucap Tama sambil melihat-lihat restoran
“Sayang..” Tama terkejut melihat Nala sudah tertidur lelap disampingnya.
Tama hanya tersenyum lalu memutar balikan arah tujuannya. Setelah 20 menit ia pun memarkirkan mobilnya. Tama mengangkat tubuh Nala secara perlahan dan membaringkannya pada kasur lalu menyelimutinya.
Ia pun kemudian bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Karena kegemarannya dia sempat mengikuti sekolah khusus tataboga. Jika bukan menjadi seorang arsitek mungkin saat ini dia sudah menjadi seorang chef.
60 menit kemudian beberapa menu sudah siap tersaji. Ia pun kembali menuju kekamar untuk membangunkan Nala.
“Sayang..” elus lembut Tama dipucuk kepala Nala
Nala pun bergeliat bak ulet bulu. Ia terkejut Tama ada dihadapannya dan langsung terduduk melihat sekeliling.
__ADS_1
“Loh mas kok aku disini?” Nala keherana karena mendapati dirinya berada dirumah masa depan mereka
“Yuk kita makan, aku udah masakin..” Tama tersenyum menggenggam tangan Nala menuntunnya ke meja makan.
“Hari ini mas masak apa?” Tawa Nala kegirangan bergeliat ditangan Tama.
***
Jakarta,
Ray menginjakan kakinya keluar pintu bandara. Terlihat Rendy sudah bersandar didepan mobilnya melambaikan tangan kearah Ray.
Ray sudah membeli satu unit apartemen didekat rumah sakit tempat ia bertugas, rencananya setelah menikah Ray dan Adelia akan memulai kehidupan mereka di kota Jakarta. Meskipun beda rumah sakit tapi tempat Adelia bekerja juga tidak begitu jauh dari tempat mereka tinggal.
Persiapan pernikahan sudah hampir selesai, hanya saja Ray selalu beralasan jika Adelia mengajaknya untuk fitting busana pengantin. Dia akan menyetujui apapun pilihan Adelia hanya satu pintanya, ia ingin pernikahan yang hanya dihadiri keluarga dan sahabat dekat saja.
Saat ini, Adelia tengah pulang ke Padang untuk menyiapkan berkas pengajuan pernikahan yang akan diselenggarakan di Jakarta.
Rendy dan Ray memasuki parkir apartemen. Ray tidak membawa banyak barang dari Singapura karena sebagian sudah ia kirimkan ke rumahnya di Bandung.
“Adel sama keluarganya kapan tiba di Jakarta?” Tanya Rendy sambil membuka jendela yang cukup besar di ruang tamu.
“Akhir bulan ini. Mereka udah sewa satu unit di tower ini untuk sementara tinggal disini.” Ucap Ray cuek sambil memasukan bahan makanan dan minuman kedalam kulkas.
Rendy yang melihat sahabatnya tampak acuh dengan hal yang berhubungan dengan pernikahannya merasa sangat sedih.
“Lu yakin mau nikahin Adel?” tatapnya
“Hmm..” Ray pun berlalu membaringkan tubuhnya pada sofa panjang.
“Ray..” tatap Rendy
“Udahlah Ren gua cape, lu berangkat gawe sana katanya ada piket? .” Ray pun menutup matanya untuk tidur
“Yaudah gua jalan”. Cemberut Rendy
“Hmm.. Thanks udah jemput”.
Selepas Rendy pergi, Ray membuka matanya. Ia terdiam memikirkan apa yang akan terjadi dengannya nanti. Ia kemudian menatap sekeliling, apartemen itu cukup luas dengan satu kamar utama dan kamar tamu, ruang tamu, dapur dan ruang makan.
__ADS_1
Ray berdiri dan membawa kopernya kedalam kamar tamu. Ia memasukan pakaiannya kedalam lemari dan kemudian membaringkan dirinya diatas ranjang.
***