Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#46


__ADS_3

Tama duduk disamping Nala ia mengelus kepala istrinya itu dengan rasa bahagia


“I love you so much..” ucap Tama menatap Nala


“Love you more..” Nala mengecup pelan suaminya itu


Tama tersenyum dan mengambil mug yang dipegang Nala kemudian menaruhnya pada nakas.


Tama perlahan mendekatkan wajahnya pada Nala seraya mencium lembut bibir Nala yang tentu saja disambut dengan senang oleh istrinya itu.


“Aaaww..” Nala melepaskan ciuman mereka dan merintih memegangi perutnya


“Kenapa sayang?” Tama terkejut


“Duh perut aku sakit mas..” rintih Nala


“Sakit gimana sayang? Mau aku ambilkan kompresan?” Tama tampak khawatir


Nala menggelengkan kepalanya, ia terdiam sesaat mengingat sesuatu.


“Mas, sekarang tanggal berapa?” tanya Nala


“Tanggal? Dua puluh dua, kenapa sayang?” jawab Tama bingung


Nala menatap Tama dengan wajah memucat kemudian ia merasakan sesuatu.


Nala bangun dari duduknya lalu ia bergegas lari masuk kedalam kamar mandi.


Tama yang masih kebingungan mengikuti Nala sampai ke pintu


“Sayang, kamu baik-baik aja?” tanya Tama yang mulai khawatir


Namun, tak ada jawaban dari Nala.


Hingga beberapa saat kemudian, Nala membuka pintu dengan wajah yang sendu


“Sayang? Kamu gapapa?” tanya Tama khawatir memegangi istrinya


Nala terdiam menatap Tama lalu menggelengkan kepalanya


“Aku ga baik-baik aja mas..” ucap Nala lemas


“Mau cek dokter? Aku telpon ya?” ucap Tama


Nala menggelengkan kepalanya lagi


“Mas…” tatap Nala lekat


“Ya sayang?..” jawab Tama


“Aku dapet..” ucap Nala pelan


“Hah? Dapet? Dapet apa?” tanya Tama tak mengerti


“Haid…” wajah Nala semakin sedih menatap Tama


Tama terdiam menatap istrinya, ia masih mencerna apa yang terjadi


“Haid?..” tanya Tama


Nala menganggukkan kepalanya sambil cemberut


“Terus kenapa? Apa haidnya sakit banget?” tanya Tama lagi


“Sakit sih tapi lebih nyakitin lagi karena ini malam pengantin kita..” ucap Nala


Wajah Tama kemudian berubah datar, ia baru menyadari apa yang terjadi.


“Ya Tuhan..” ucap Tama


Tama yang melihat istrinya tampak sedih langsung memeluknya dengan erat


“Ga apa-apa sayang.. sabar dulu yaa..” ucapnya mengelus punggung Nala


“Maafin aku ya mas..” Nala mengeratkan pelukannya


 


 


***


Dua hari kemudian,

__ADS_1


Nala dan Tama sudah masuk kerja seperti biasanya. Setelah drama malam pengantin, mereka mengundur waktu bulan madu mereka.


“Diihhh.. Penganten baru napa Udah masuk kerja dah?..” Dwi terkejut melihat Nala berada di mejanya


Nala hanya melambaikan tangan tanpa menoleh


“Emang ada kerjaan urgent?” Dwi duduk di meja kerjanya menatap Nala


“Engga sih..” jawab Nala


“Cuma ada tamu ga diundang aja..” lanjutnya


“Tamu? Oohhhh sodara lu yang kemarin ga dateng baru pada dateng yak?” tanya Dwi


Nala menoleh hingga tak dapat berkata-kata. Ia hanya mengangguk dan bingung bagaimana menjelaskan pada sahabatnya yang seperti petasan cabe itu.


“Iyain aja..” ucap Nala pelan sambil tak semangat menatap layar monitor.


 


 


Pukul 19.30 WIB,


Nala dan Tama berkunjung kerumah orangtua Tama. Ini kali pertama Nala akan mengunjungi rumah suaminya. Mereka telah membawa beberapa makanan kesukaan anggota keluarga disana.


 


Dreett Dreett…


“Hallo Ren?..” sapa Tama mengangkat telpon Rendy


Nala terlebih dulu keluar dari mobil dan membawa bingkisan yang sudah ia siapkan.


“Assalamualaikum…” Sapa Nala membuka pintu


“Wa’alaikumsallam sayang..” suara bu Katy tak percaya menantunya datang


“Sayang kok ga ngabarin mami mau dateng? Kan mami bisa masakin makanan kesukaan kamu..” bu Katy memeluk menantunya


“Iya sengaja mam, karena Nala ga mau mami cape masak buat Nala..” senyum Nala


Pak Dany dan Vio menyusul keruang tamu mendengar kedatangan Nala dan Tama


“Loh suamimu mana nak?” tanya pak Dany, ayah mertua Nala


“Kakak Vio kangeen..” Vio kemudian memeluk Nala dengan girang


 


Nala dan keluarga kemudian berpindah ke ruang keluarga untuk melepas rindu, tak lama kemudian Tama datang menghampiri.


Keluarga Tama sangat senang dengan kedatangan pengantin baru itu. Mereka mengobrol sampai larut.


“Kalian menginap disini kan nak?” pak Dany mengelus kepala Nala


Nala menoleh kearah Tama


“Heemmhh.. besok kami kerja Pa, nanti akhir pekan kami nginap disini yaa?” ucap Tama


“Kerja?..” beo bu Katy


“Iya mam, kami mengundurkan jadwal bulan madunya..” ucap Nala


“Ooowhh okay…” senyum bu Katy


“Kalo gitu Nala dan mas pamit dulu ya mam Pa Vio..” ucap Nala


Nala dan Tama memeluk satu persatu anggota keluarganya lalu pamit pulang karena malam semakin larut.


 


Diperjalanan,


“Mas, aku boleh tanya sesuatu?..” Nala menatap suaminya


“Ya sayang?..” ucap Tama


“Mas kenapa ga mau terusin perusahaan papa dan lebih memilih jadi PNS?” tanya Nala hati-hati agar tidak menyinggung Tama


“Hemmmhh.. sebetulnya dari kecil aku sudah diarahkan untuk bisa menjadi penerus papa. Tapi, aku ingin mengejar dulu impianku..” senyum Tama


Nala tersenyum menatap suaminya itu

__ADS_1


“Kamu ga usah khawatir, setelah Vio lulus kuliah dia akan belajar untuk membantu papa diperusahaan. Saat ini, dia juga sudah mulai ikut papa jika ada meeting..” Jelas Tama


“Aku kagum dengan keluargamu mas, mereka selalu mendukung pilihan anaknya..” senyum Nala


“Aku pun sangat bersyukur sayang..” Tama mencium tangan istrinya


 


 


 


Disisi lain,


Keesokan harinya..


Rendy menemui Naura di café.


“Hai Naura..” sapa Rendy


“Mas Rendy?.. Loh tumben mas?” Naura terkejut mendapati Rendy ada dihadapannya


“Hehe iya.. mampir kesini abis tugas..” ucap Rendy


“Silahkan duduk mas..” Lissa menghampiri mereka


Rendy tersenyum menoleh kearah Lissa


“Ini Lissa, sahabatku yang pernah aku ceritakan..” Naura memperkenalkan Lissa


“Rendy..” Rendy dan Lissa saling bersalaman dan berkenalan singkat


Lissa meninggalkan Rendy dan Naura agar bisa melanjutkan pembicaraan mereka.


“Bagaimana kabarmu Na?” tanya Rendy melihat Naura yang terlihat sudah membaik


“Aku baik mas..” senyum Naura


Rendy melihat beberapa kertas di meja.


“Heemmhh ini surat penawaran pekerjaan..” ucap Naura yang menyadari Rendy melihat berkasnya


“Italia?..” Rendy menatap Naura


Naura mengangguk dan tersenyum


“Kenapa? Apa kamu ragu untuk pergi?” tanya Rendy yang menangkap ekspresi sendu Naura


“Aku mengkhawatirkan papa..” ucap Naura memegangi kertas itu


Rendy terdiam menatap Naura


“Papa bilang ingin pulang ke Solo..” ucap Naura


“Mendadak?” tanya Rendy


“Papa berencana pulang setelah sakit terakhir kali, ia ingin bisa banyak waktu bersama keluarga dan teman-temannya disana..” kata Naura


“Lalu? Bukankah itu kesempatan juga untukmu bisa pergi?” ucap Rendy


Naura menatap Rendy


“Aku hanya takut jika kesehatan papa memburuk dan aku ga ada disampingnya..” tunduk Naura


“Jadi, kamu belum memutuskan?” Rendy masih menatap sendu Naura


Naura mengangguk menatap Rendy.


“Pikirkanlah dengan baik..” senyum Rendy menguatkan Naura


 


BRUUGGHHH..!!!


Seseorang membuka pintu dengan kasar dan membantingnya ke dinding. Naura dan Rendy menatap siapa yang datang. Lissa dan beberapa karyawan pun ikut melihat keluar.


“NAURA!!!...” teriaknya


Rendy bangun dari duduknya menatap tajam orang itu.


“Ada apa lagi Aldi?..” tanya Naura heran


“Ada apa?? Ga usah sok polos!!..” ucap Aldi menatap tajam Naura

__ADS_1


Aldi berusaha mendekat pada Naura namun Rendy menghadang tubuh Aldi.


***


__ADS_2