Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#57


__ADS_3

Nala menarik nafas lega akhirnya Rendy tidak mengetahui kondisi Tama. Ia membaringkan tubuhnya di sofa.


 


“Kenapa sayang?” Tama heran menatap istrinya


“Hemh? Hehee engga mas..” cengir Nala


Nala mendekat pada Tama kemudian bersandar dipundak suaminya itu. Tak lama, Nala mengerutkan keningnya kemudian melihat kearah suaminya.


“Mas kenapa kok diem?” heran Nala


“Emh? Engga..” diam Tama


“Masih deg-degan deket-deket aku?” tanya Nala


Tama mengangguk kaku.


Hilangnya memori jangka pendek Tama menyebabkan dirinya baru merasakan kebersamaan dengan Nala. Sering kali ia merasa sesak nafas jika Nala tiba-tiba bersikap manja padanya. Ia sama sekali tidak ingat bagaimana dulu ia bersikap pada Nala dan yang ia ingat hanya rasa mengagumi dari jauh dan mencintai secara diam-diam.


Nala terdiam, ia juga merasa bingung jika memaksakan dirinya untuk bersikap sama terhadap suaminya yang sekarang dan dulu.


Nala takut jika Tama yang masih asing pada dirinya akan merasa tidak nyaman dengan sikapnya yang dulu.


Nala bangkit menuju bangkarnya dengan wajah sendu. Ingin rasanya ia tidur dalam dekapan Tama, apalagi kehamilan membuatnya sangat ingin dimanja oleh suaminya.


Tama menatap Nala terbaring membelakanginya. Ia kemudian mengambil ponsel yang baru dibelikan oleh Vio, ia membuka sosial medianya dan melihat-lihat semua foto dan video yang ia ambil satu tahun kebelakang saat bersama Nala.


Tama berusaha mengingat apa yang ia lupakan. Namun, kepalanya terasa kosong. Ia tidak mengingat apapun.


 


***


Sudah satu minggu setelah kejadian kecelakaan yang menimpa Tama dan Rendy.


Rendy hari ini sudah di perbolehkan pulang namun harus tetap melakukan rawat jalan. Rendy mendatangi kamar Tama sebelum ia pulang, ia ingin berpamitan.


 


“Loh bro kok sendirian?” Rendy celingukan mencari Nala


“Iya Nala dan orangtua lagi keluar sebentar..” jawab Tama sambil memainkan ponselnya


Rendy mengangguk


“Ngapain lu? Serius amat maen hape?” kepo Rendy mendekati Tama


Tama menoleh manatap Rendy


“Eh Ren lu tau ga kapan gua jadian sama Nala?” ucap Tama


Rendy mengerutkan keningnya


“Mana gua tau, lu yang jadian..” ucapnya


“Emang kenapa dah? Nala minta hadiah anniv?..” tanya Rendy


“Udah ga usah dipikirin, ceweknya mah emang gitu.. suka tiba-tiba ngasih kuis nanya ini itu, emangnya kita para cowok harus inget semua tanggal apa..” lanjutnya sambil memakan cemilan yang ada di meja


 


Tama menggaruk kepalanya lalu kembali fokus pada ponselnya.


Rendy yang baru menyadari ada dua bangkar diruangan itu cukup heran


“Ini kan kamar VVIP ngapain ada dua bangkar?” ucap Rendy


“Ooh.. itu dipake Nala..” ucap Tama tanpa menoleh


“Lah kan itu ada kamar didalem, ngapain pake bangkar? Cekcekcek dasar bucin segitu ga maunya tidur jauhan..” Rendy menggeleng -gelengkan kepalanya


Tama menoleh sinis


“Nala kan lagi hamil dan dia juga pasien disini..” ucap Tama

__ADS_1


Seketika Rendy menjatuhkan kue yang ia pegang kemudian menoleh kearah Tama


“Hamil?” beo Rendy


Tama mengangguk heran


“Emang lu ga tau?” tanya Tama


Rendy menggeleng cepat


“Ya ampun.. Jadi, Lu sama Ray bakal segera jadi ayah sedangkan gua masih aja ga laku?” Rendy terdiam


“Emang lu belom merit? Gua kira udah..” ucap Tama santai


 


Rendy kembali dikejutkan oleh ucapan Tama


“Hah? Gimana gimana?” tanya Rendy heran menatap Tama


 


Tama membuang napasnya kasar menoleh pada Rendy


“Gua kira lu Udah merit..” Jawabnya dengan wajah malas


 


Rendy terdiam, ia perlahan mendekat kebangkar Tama.


Iya memelototi Tama didepan wajahnya


“Emang segitu ga bolehnya apa gua deketin adek lu sampe lu ngomong gitu?” ucap sinis Rendy


“Ooh.. lu lagi deket sama Vio emang?” tanya polos Tama


Ekspresi wajah Rendy langsung berubah kembali, ia makin tidak mengerti dengan lelaki dihadapannya itu.


“kayanya lu beneran sakit deh Tam..” Rendy meletakan tangannya di kening Tama


 


“Ya maklum aja, gua kan ga inget apa-apa setahun ini..” ucap Tama santai


Bak petir disiang bolong, Rendy langsung membalikan tubuhnya kearah Tama


“Apa?” tanyanya


 


“Huuuhh..” Tama membuang nafasnya, ia sangat malas jika harus terus mengulang ucapannya


“Memori jangka pendek gua ilang dan gua ga inget kejadian setahun ini..” ulang Tama menatap Rendy


 


Kreeekkk…


Nala dan Ray masuk kedalam ruangan sambil bercanda dan tertawa.


Mereka langsung menghentikan tawanya saat melihat Rendy dan Tama berada didalam kamar dengan wajah Rendy yang kebingungan.


 


“Ren..” Nala perlahan mendekati Rendy yang terdiam menatap Tama


“Apa maksudnya dia kehilangan memori jangka pendek dan ga inget apapun selama setahun ini?” ucap Rendy menoleh ke arah Nala


Nala menutup matanya mendengar pertanyaan Rendy.


 


Ray mendekati mereka dan mengusap pundak Rendy


“Nanti gua jelasin ya Ren..” ucap Ray pelan

__ADS_1


 


Rendy kehabisan kata-kata, wajahnya sudah memerah menahan sesak di dadanya.


“Kalian sengaja nutupin dari gua?” mata Rendy sudah berkaca-kaca


Ia kemudian berbalik dan berjalan keluar


“Ren..” Nala mencoba memanggil Rendy namun ia terus berjalan


Air mata Nala sudah menetes. Ray menyusul Rendy keluar, sedangkan Tama menghampiri istrinya yang menangis. Ia tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


 


 


***


Rendy terduduk di taman rumah sakit. Ia terdiam menatap jajaran bangunan di hadapannya.


Ray perlahan mendekat dan duduk di sampingnya tanpa mengatakan sepatah katapun.


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


 


 


“Dari pada menyesali apa yang sudah terjadi, lebih bijak jika memperbaiki apa yang sudah ada dihadapan kita..” ucap Ray yang masih menatap ke depan


“Lu pasti tau betapa besarnya penyesalan gua dulu pernah menyakiti Nala.. gua nyiksa diri gua sendiri, tanpa gua sadari kalo itu juga menyakiti orang-orang yang sayang sama gua, akhirnya.. bukan hanya penyesalan terhadap satu orang. Tapi, banyak orang yang menjadi korban..” lanjut Ray


 


Rendy menunduk, entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia sudah melukai banyak orang bahkan saat ini Nala pasti sangat kesulitan dengan kehamilannya dan juga harus menghadapi suami yang kehilangan ingatan karena dirinya.


 


“Bantu Nala laluin semua ini Ren.. jangan biarin dia sendirian..” tatap Ray


Rendy menoleh kearah Ray dengan wajah sendu


“Lu masih punya kesempatan.. ingatan Tama ga hilang permanen, dia bisa ingat dengan beberapa stimulus dan terapi. Selama Tama berjuang untuk mengingat, Nala pasti butuh orang yang membantu dia melepaskan semua kegundahan di hatinya. Dan lu pasti tau siapa orang itu..” ucap Ray


“Bahkan Nala lebih nyaman cerita semua hal sama lu dari pada sama gua sejak dulu..” senyum Ray


Rendy menutup wajahnya dengan tangan kirinya. Ia menangis menumpahkan penyesalannya.


 


***


Ray dan Rendy kembali ke kamar Tama, Rendy terhenti saat akan membuka pintu dan mengatur napasnya sejenak.


Perlahan, ia masuk dan mendapati Tama sedang menenangkan Nala di sofa yang sudah tidak menangis lagi.


Nala bangun ketika melihat Rendy datang.


 


“Ren..” ucap Nala pelan


Hati Rendy sungguh hancur. Namun ia sudah berjanji pada dirinya jika ia akan menebus kesalahannya  itu.


 


“Tunggu gua sembuh Nal, gua janji ga akan lama.. nanti, gua akan sering pulang kebandung buat nemenin lu..” ucap Rendy menatap Nala


Ia kemudian beralih menatap Tama.


“Kuatin hati lu, gua bakal gerecokin hidup lu mulai sekarang..” ucapnya pada Tama


Nala menghampiri Rendy kemudian memeluk erat sahabatnya itu. Ia menangis dan bersyukur karena Rendy tidak meninggalkannya


***

__ADS_1


__ADS_2