
“Apa harus menunggu aku seperti ini dulu baru kakak akan menemuiku?” ucap Tama dengan mata berkaca-kaca
Ari menunduk dan tak berani menatap adiknya itu. Perlahan Tama menghampiri Ari dan memeluknya
Nala hanya menatap dua orang itu dengan bingung.
“Maafkan aku..” ucap Ari
Tama semakin mengeratkan pelukannya
“Tolong jangan menghindar lagi..” tatap Tama yang dibalas senyuman Ari
Nala masih berdiri mematung didepan pintu
“Sayang, sapalah.. dia kakakku..” ucap Tama
Nala terkejut dan kebingungan. Ari menggeleng pelan pada Nala memberikan kode.
“Oh ya.. salam kenal kak..” ucap Nala canggung menyalami Ari
“Salam kenal..” senyum canggung Ari
“Hemmh, aku keluar sebentar ya? Kakak silahkan duduk..” senyum Nala kemudian ia pun bergegas pergi.
Nala berjalan perlahan dilorong, ia masih memikirkan Ari yang kini tiba-tiba menjadi kakak iparnya yang seminggu lalu memperkenalkan diri sebagai sekretaris ayah mertuanya.
Disisi lain,
Ari dan Tama duduk saling berhadapan.
“Aku hanya ingin kamu mengetahuinya sebelum aku mengambil tindakan.” Ucap Ari
Ari memberi tahu Tama jika pak Dany memintanya mengurus pengunduran diri Tama.
Tama terdiam memikirkan ucapan Ari.
“Jangan berpikir aku akan pergi lagi..” ucap Ari menatap Tama
“Sampai kapan kakak akan berpikir jika aku memilih bekerja di tempat lain karena omongan sampah orang-orang itu?” marah Tama
“Mereka pun ada benarnya..”ucap Ari
“Kak.. aku adik kakak, mami papa Vio.. kami keluargamu, bukan oranglain” ucap Tama menurunkan nada suaranya
“Pasti saat pernikahanku pun kakak tidak datang kan?” tanya Tama pelan
Ari terdiam menunduk
“Jika kakak masih menganggap aku sebagai adikmu, silahkan pilihkan jalan mana yang harus aku ambil..” lanjut Tama
***
Tiga puluh menit kemudian,
Nala masuk kedalam kamar dan hanya mendapati Tama terdiam duduk di sofa
“Loh kak Ari sudah pergi?” tanya Nala
“Iya sayang..” senyum Tama
Nala kemudian memasukan beberapa makanan dan minuman ke dalam kulkas. Ia merasa ada yang aneh dengan suaminya.
“Ada apa sayang?..” tanya Nala dan duduk di samping Tama
Tama menggeleng dan tersenyum
Nala menatap suaminya itu dengan seksama.
__ADS_1
“Kamu tau ga mas, kalo kamu itu paling ga bisa bohong sama aku?” senyum Nala
Tama tersenyum mengelus rambut istrinya
“Papa ingin aku berhenti kerja untuk fokus menjalani pengobatan..” ucap Tama yang mengejutkan Nala
“Lalu? Apa kamu menginginkannya?” tanya Nala
“Entahlah.. bagaimana menurutmu?” tanya balik Tama
Nala sangat tau jika Tama sangat mencintai pekerjaannya. Namun, keputusan berhenti demi kepulihan suaminya pun tentu saja adalah hal yang baik.
“Aku akan mendukung apapun keputusanmu mas..” senyum Nala
Tama menatap Nala
“Sebetulnya, keputusan ada ditangan kak Ari..” ucapnya
Nala mengerutkan keningnya tak mengerti
“Kok di kak Ari?” tanya Nala
“Kita lihat saja, apa yang akan dia lakukan..” senyum Tama
“Aku ga ngerti..” ucap Nala
“Hemmh.. mas, sebenarnya kak Ari itu siapa?” tanya Nala
“Di hari kamu kecelakaan, ia menemuiku di depan ruang ICU. Dia memperkenalkan diri sebagai sekretaris papa. Tapi ada yang janggal, dia sangat terlihat khawatir dengan kondisi kamu saat itu.. trus hari ini kamu memperkenalkan dia sebagai kakak?” ucap Nala
“Benarkah?” Tama terkejut
Nala mengangguk
“Bahkan kak Dimas bilang jika kak Ari terus menerus mengawasi kita dari kejauhan..” ucap Nala
Tama terdiam, lalu ia bergegas bangun dan menghubungi seseorang
Nala hanya melihat gelagat aneh suaminya itu.
Tama terduduk lemas pada bangkarnya lalu menutup sambungan telponnya.
Nala perlahan menghampiri Tama
“Mas?..” Nala mengusap wajah tampan suaminya itu
“Aku bahkan bersikap kasar sampai akhir..” ucap Tama pelan
Nala menatap lekat Tama yang terlihat sangat sedih
Perlahan, Tama menceritakan siapa Ari pada Nala dan apa yang terjadi pada mereka selama ini.
“Papa dan mami sangat marah dengan orang-orang yang menyakiti kakak, mereka melawan semua. Semakin dewasa, kak Ari memiliki pikirannya sendiri.. ia pergi kuliah ke luar negeri dan meninggalkan kami disini. Ia menghilang, bahkan orang-orang papa sangat kesulitan mencarinya.”
“Sampai suatu hari, Papa sakit keras karena memikirkan kak Ari yang tak kunjung pulang. Dan yaa.. seperti hari ini, tiba-tiba ia datang menghampiri..” Tama menatap istrinya
“Papa menggunakan alasan sakitnya untuk menahan kakak agar tidak pergi lagi. Akhirnya kakak luluh dan memutuskan untuk mengikuti apapun keinginan papa.
Dia sekarang mengurus perusahaan papa yang ada di Jakarta. Tapi, dia berubah menjadi oranglain. Dia sudah tidak memanggil papa dan mami seperti dulu. Dia menganggap jika dirinya hanya pegawai papa..”
“Bahkan semenjak kedatangannya.. ia tak pernah sekali pun pulang dan menemuiku, dia selalu bisa lolos jika aku mencarinya.. Vio bahkan baru beberapa tahun ini mengetahui jika ia memiliki kakak lain..
Hari ini, adalah pertemuan pertama kami setelah hampir sembilan belas tahun ia pergi..” tatapan Tama kosong
__ADS_1
Nala memeluk suaminya, ia tak menyangka jika Tama menyimpan luka yang mendalam di hidupnya. Orang yang selalu tersenyum dan selalu menjadi mentari baginya.
***
Nala duduk di kursi taman rumah sakit. Ia menatap kartu nama yang pernah Ari berikan padanya.
Dengan gugup, Nala mencoba menghubungi nomor tersebut.
Tuutt… Tuutt…
“Hallo..” Sapa seseorang di seberang sana
“Hallo kak, ini Nala..” ucap Nala perlahan
Ari yang sedang mengecek berkas menghentikan kegiatannya.
“Nala? Ada apa? Apa Tama baik-baik saja?” tanyanya
“Iya mas Tama baik-baik saja..” ucap Nala
Ari membuang nafasnya lega
“Ada apa Nal? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya penasaran
“Hemhh.. apa kakak ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan..” ucap Nala ragu
Ari berpikir sejenak
“Baiklah, nanti sore aku kerumah sakit.” Ucap Ari
“Kita bertemu di cafetaria aja ya kak?” ucap Nala
“Baiklah..” ucap Ari kemudian menutup telponnya
Besok pagi Tama sudah diperbolehkan pulang. Nala ingin berbicara dengan Ari sebelum ia pulang dan mungkin akan sulit untuk kembali bertemu.
Nala kembali ke kamarnya. Ia merapikan beberapa barang untuk kepulangannya besok.
Keluarga Nala sudah kembali ke bandung beberapa hari yang lalu.
Nala sudah harus kembali bekerja, sedangkan Tama akan dijaga oleh perawat yang setiap hari datang ke rumah mereka dan ART di rumah danau.
Sore harinya,
“Mas, aku ke cafetaria sebentar ya? Kamu ingin sesuatu?” tanya Nala
Tama menoleh kearah meja
“Masih banyak makanan disini, Apa kamu ngidam sesuatu sayang? Biar nanti aku suruh orang membelinya..” tanya Tama
“Engga mas, biar aku aja.. aku juga merasa agak pusing jika selalu berdiam diri..” senyum Nala
“Hmmh.. Baiklah, hati-hati..” senyum Tama
Nala bergegas menuju cafetaria. Ia harap akan mendapat jawaban dari semua pertanyaannya. Nala duduk di ujung ruangan sambil menunggu Ari datang.
***
__ADS_1