Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#27


__ADS_3

“Udah mas, mending mas bawa Nala pergi aja dari sini. Si Sasa mah ga akan berenti. Udah biarin aja dia ngamuk-ngamuk kaya orang gila disini” ucap Dwi


Tama pun mengangguk dan langsung membawa Nala pergi dengan mobilnya. Sasa yang tidak terima pun berteriak dan menangis tanpa rasa malu.


 


20 menit kemudian,


Tama membawa Nala pulang kerumah danau.


Tama mangambil kotak obat didapur kemudian mengobati luka di bibir Nala.


“Sakit ya sayang? Tahan sebentar ya” Tanya Tama


“Cuma perih aja kok mas” senyum Nala


Tama pun memeluk Nala erat


“Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu ya sayang. Aku salah” ucap Tama sesal dalam pelukan


“engga mas, mas ga salah apapun. Sasa aja yang keterlaluan” jawab Nala


“Sebetulnya, aku tau kalo beberapa lama ini Sasa selalu menjelekan kamu dikantor tapi, karena janjiku sama kamu yang ga ingin orang tau tentang hubungan kita. Aku berusaha menahan diri, tapi kejadian tadi sudah sangat keterlaluan. Aku ga bisa lagi biarin Sasa nyakitin kamu sayang..” ucap Tama


"Maaf juga karena belum bilang sama kamu kalo kemarin Sasa ada temuin aku didepan rumah dan menyatakan perasaannya terhadapku.." Lanjut Tama tertunduk


Nala pun mengusap pipi Tama


“Itu ga masalah mas. Tapi, kenapa mas bilang ke dia kalo aku calon istri kamu? itu pasti juga didengar sama semua orang yang ada disana?” Tanya Nala khawatir


“Kamu memang calon istriku..” senyum Tama menatap Nala


“Hemmh?” Nala ikut menatap heran kekasihnya itu


Tama terdiam melihat sekeliling rumah mereka. Dia menarik nafas dan membuangnya kasar


“Huuh.. harusnya ga kaya gini konsepnya..” gerutu Tama melihat keadaan sekitar


“kenapa mas?” Tanya Nala semakin bingung dengan tingkah Tama


“Sayang, sebetulnya aku udah mau siapin lilin disana” Tama menunjuk lantai di depan perapian


“Lilinnya dibentuk hati yang besar, trus aku juga mau bikin lorong lilin dari arah pintu depan menuju lilin symbol hati itu, dan aku taburin bunga mawar yang banyak banget sepanjang lorong. Trus, aku juga nanti bakal berdiri disana pegang bucket bunga baby breath kesukaan kamu dan berlutut dihadapan kamu..” Jelas Tama sambil menunjuk-nunjuk area yang dimaksud

__ADS_1


Nala yang semakin tidak mengerti hanya kengerenyitkan keningnya menatap Tama


“Buat?” tanyanya Nala


“Buat bilang… eh sebentar” Tama mengambil sesuatu dari dalam tasnya


Nala hanya memperhatikan tingkah aneh kekasihnya. Kemudian Tama kembali duduk disamping Nala


“Sayang, walaupun aku udah berusaha keras satu minggu ini begadang untuk siapin semuanya dan pada akhirnya tidak ada satu hal pun yang aku terapkan karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Tapi tolong, terima ketulusan hatiku ini..” Perlahan Tama membuka kotak kecil yang ia genggam, kemudian dia berlutut dihadapan Nala


“Nala, mau kah kamu menerima laki-laki yang penuh kekurangan ini menjadi suamimu dan teman hidupmu? Maukah kamu menikah denganku?” ucap Tama perlahan dengan senyum diwajah tampannya itu.


Nala terkejut dengan apa yang terjadi. Ia menatap Tama tidak percaya, entah kenapa jantungnya berdegup begitu kencang dan air matanya tanpa disadari sudah mengalir begitu saja.


Tama terkejut melihat Nala menangis, ia langsung terbangun dan kembali duduk disamping Nala


“Maafkan aku Nal, maaf bukan maksudku membebanimu.. maaf sayang..” Tama langsung mengenggam erat tangan Nala dan berusaha menenangkan kekasihnya.


Nala menggelengkan kepalanya pelan kemudian ia mengatur nafasnya dan mengusap air matanya


“bukan mas, bukan begitu.. aku menangis karna bahagia.. aku mau menikah dengan kamu..” ucap Nala tersenyum dan masih mengeluarkan air matanya.


Tama terdiam beberapa detik mendengar jawaban Nala, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Air matanya pun ikut mengalir bahagia. Tama kemudian memeluk erat Nala dan mencium keningnya.


 


***


Keesokan harinya,


Sasa sudah berada diruangan dengan tiga orang dihadapannya. Wajah Sasa pucat pasih karena sidang disiplin yang ia dapati. Ia mendapatkan hukuman disiplin yang layak karena melakukan kekerasan fisik dan keributan yang ia timbulkan kemarin kepada Nala dilingkungan kantor.


Sebelumnya Nala, Tama, Dwi dan beberapa orang menjadi saksi didalam sidang tersebut dan dibuktikan dengan rekaman pengawas yang ada.


Sesaat kemudian, Sasa keluar ruangan dengan wajahnya yang muram, ia melihat tajam kearah Nala yang juga sedang menatap kearahnya.


“Gua colok juga tuh matanya si Sasa” Ucap Dwi yang menatap Sasa sinis


“Sukurin tuh betino kena hukuman, puas banget gua hahahah” lanjutnya


“Ehemmm…” Nala mencoba mengendalikan ucapan Dwi yang mulai melantur. Dwi hanya nyengir sambil menatap sesuatu yang baru ia lihat pada jari manis Nala


“Eh, apa-apaan tuh? Liat liat coba?”

__ADS_1


Dwi dengan kilat menyambar tangan Nala dan menatap lekat cincin yang terpasang disana. Nala mulai panic dengan tingkah sahabatnya itu


“Jadi beneran Nal? Udah lamar melamar?” Ucap Dwi yang langsung dipotong oleh tangan Nala yang menutupi mulut Dwi agar teman bocornya itu tidak kebablasan.


“Wiiii…. Jangan kenceng-kenceng!!” bisik Nala sambil memelototi Dwi


“Yaa ampuun… selamat Nalaku sayang…” ucap Dwi berbisik menahan teriaknya sambil memeluk Nala.


Merekapun berpelukan sejenak lalu kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.


 


***


Dua minggu sebelum pernikahan Ray,


Saat ini, Ray dan Adelia sedang melakukan fitting busana pengantin mereka. Ini adalah fitting terakhir yang mengharuskan Ray hadir disana.


Ray mencoba satu set pakaian adat Sumatera Barat sesuai dengan asal Adelia. pakaian berwarna merah maroon yang dipenuhi benang berwarna emas itu sangat cocok digunakan oleh Ray, begitu juga dengan Adelia yang tampak cantik menggunakan busana pengantinnya.


“Waahh kalian benar-benar sangat serasi..” Tawa bahagia bu Rani, ibu dari Adelia


Adelia pun ikut tersenyum bahagia, sedangkan Ray hanya diam dengan wajahnya yang datar. Adelia yang menyadari hal itu dan hanya berusaha menutupi dengan senyum diwajahnya, agar orangtuanya tidak menaruh curiga.


“Apakah sudah selesai Del? Saya ada jadwal operasi sebentar lagi..” Ucap Ray pelan


“Sudah mas. iya, mas Ray berangkat aja ya ke rumah sakit. Aku masih ada beberapa yang harus di urus disini.” Senyum Adelia


“Baiklah, kalo begitu” Setelah mengganti pakaian, Ray pun pamit menyalami bu Rani kemudian bergegas pergi.


Entah kenapa hati Adelia begitu kecewa dan sedih melihat Ray yang sama sekali acuh terhadap persiapan pernikahan mereka.


“Calon suamimu ituloh Del, kenapa sih dia masih aja sibuk kerja? Udah tau persiapan pernikahan tuh butuh banyak waktu bersama..” gerutu bu Rani menatap mobil Ray yang meninggalkan area toko


“Udahlah bu, kan ibu tau bagaimana sibuknya kami dirumah sakit. Lagi pula pernikahan kami hanya sederhana saja tidak banyak hal yang harus di siapkan.” Adelia berusaha memberikan pengertian pada ibunya, juga mencoba menghibur dirinya sendiri.


Adelia dan bu Rani pun melanjutkan kegiatan mereka dengan memilih beberapa aksesoris yang akan dikenakan Adelia nanti.


Didalam perjalanan, Ray membanting stirnya kebahu jalan. Ia terdiam mengepalkan tangannya menahan rasa sesak yang bergemuruh didada.


Sudah begitu lama Ray menahan diri terhadap Adelia karena rasa bersalahnya pada Nala. Ray mengambil ponselnya dari dalam saku kemudian mencoba menghubungi seseorang.


***

__ADS_1


__ADS_2