
Nala bergegas menuju cafetaria. Ia harap akan mendapat jawaban dari semua pertanyaannya. Nala duduk di ujung ruangan sambil menunggu Ari datang.
Lima menit kemudian,
Ari tersenyum tipis menyapa Nala
“Silahkan duduk kak..” senyum Nala
“Aku tidak tau apa yang kakak suka, aku memesankan kakak es coklat. Mas Tama sangat suka ini..” ucap Nala
Ari menatap es coklat di atas meja.
“Terima kasih..” ucap Ari
Perlahan, Ari meminum es coklat itu. Hatinya sungguh teriris, rasa yang mengingatkan semua kebersamaannya dengan Tama dan orangtuanya semasa kecil dulu.
“Benarkah Tama sangat suka ini?” tanya Ari sambil menatap gelas yang ia pegang
“Sangat, bahkan setiap hari ia selalu meminum itu.. Aku saja sampai bosan melihatnya..” ucap Nala
Ari tersenyum mendengar ucapan Nala
Dulu, Tama selalu memarahinya jika ia minum es coklat kesukaannya karena Tama sangat benci hal itu. Tama selalu bilang jika coklat itu harus diminum panas bukan dingin.
Nala langsung terdiam menatap Ari, ia baru melihat kakak iparnya itu tersenyum lebar. Ari yang menyadari itu langsung memasang wajah datarnya kembali.
“Ada apa Nala? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ari
“Hmmhh.. apa kakak sudah mengambil keputusan mengenai pekerjaan mas Tama?” tanya Nala perlahan
“Apa kamu tidak ingin Tama mengundurkan diri?” Ari menatap Nala
“Tidak kak, bukan seperti itu.. aku hanya ingin tau keputusan apa yang kakak ambil..” ucap Nala
Ari terdiam sejenak
“Saya hanya menjalankan perintah pak Dany..” ucap Ari
Nala mengerutkan dahinya
“Saya sudah mengurus pengunduran diri Tama..” lanjutnya
Nala terdiam, sesungguhnya ia sudah menyiapkan dirinya untuk segala kemungkinan.
“Selain karena permintaan papa, apa ada hal lain yang menjadi alasan kakak?” tatap Nala
“Sudah saatnya, semua kembali pada tempatnya..” ucap Ari
“Lalu kakak?” ucap Nala
“Aku bukan siapa-siapa Nal..” senyum kecut Ari
“Benarkah?” tatap Nala
“Papa dan mami semakin menua, yang mereka miliki hanya anak-anaknya.. jika pergi adalah obat untuk mengobati rasa sakit kakak.. maka tolong kembali. Pulanglah, untuk mengobati luka semua orang yang kakak tinggalkan..” ucap Nala perlahan
Nala bangkit dari duduknya..
“Kakak pasti tau, sebentar lagi kakak akan memiliki keponakan.. setidaknya, tolong siapkan nama panggilan untuknya..” senyum Nala pengusap perutnya pelan kemudian pamit pergi
Ari terdiam menatap kepergian Nala.
***
__ADS_1
Nala mendorong kursi roda Tama menuju helipad yang berada di rooftop rumah sakit. Mereka akan pulang ke Bandung menggunakan helikopter yang di siapkan oleh ayah Tama.
Perjalanan mereka akan memakan waktu 40-50 menit mengudara.
Pukul 13.30,
Bandung
Nala dan Tama sudah sampai di rumah danau. Bi Inah menyambut mereka didepan pintu dan membantu sopir untuk memasukan barang-barang yang mereka bawa.
Nala menuntun Tama masuk ke dalam kamar mereka.
Sejak sampai di rumah danau, Tama hanya diam menatap sekeliling. Yang ia ingat dulu rumah itu masih dalam tahap pembangunan.
“Terima kasih..” senyum Tama saat Nala mendudukannya di kasur
“Mas ingin sesuatu?” tanya Nala
“Tidak, aku akan berbaring sebentar..” ucap Tama
“Baiklah.. aku ada di dapur, jika mas butuh apapun telpon aja ya?” ucap Nala
Tama mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya di kasur.
Nala termenung duduk di kursi makan. Banyak hal dibenaknya saat ini, ia bersyukur karena kehamilannya tidak rewel dan tidak sering mengalami morning sickness seperti ibu hamil pada umumnya.
“Bu, mau saya buatkan makanan?” tanya bi Inah
Nala menoleh kearah bi Inah dan tersenyum tipis
“Tidak bi, terima kasih..” ucap Nala pelan
“Ibu yang sabar ya? Kalo ada apa-apa bilang sama bibi..” bi Inah memegangi tangan Nala
Wanita paruh baya itu selalu perhatian pada Nala dan Tama layaknya seorang ibu kepada anak-anaknya.
Nala tersenyum dan mengangguk
“Terima kasih bi..” ucap Nala menatap bi Inah
Tiga puluh menit kemudian,
Nala merasa sedikit pusing lalu kembali ke kamarnya. Ia melihat Tama tertidur lelap.
Perlahan, ia ikut membaringkan dirinya di samping sang suami. Nala menutup matanya dan mencoba untuk tidur untuk menghilangkan pusing yang ia rasakan.
Beberapa saat kemudian, Tama terbangun dan terkejut mendapati dirinya berada satu kasur dengan Nala. Ia menatap Nala yang tertidur.
Jantung Tama berdegup kencang saat Nala berbalik menghadap Tama dan memeluknya.
Tama membetulkan tangannya perlahan agar Nala merasa nyaman kemudian mengelus lembut kepala istrinya itu.
“Mas bangun?” ucap Nala pelan sambil terus menutup matanya
“Hemh? Iya..” ucap Tama gugup
Nala mengencangkan pelukannya dan membaringkan kepalanya diatas dada bidang sang suami.
Sesaat kemudian, Nala mendongakkan kepalanya menatap Tama
“Jantung mas berisik banget..” senyumnya
“Hemh?..” Tama ikut menatap Nala
__ADS_1
Perlahan, Nala menyentuh pipi Tama, ia sangat merindukan suaminya itu.
Nala mencium bibir Tama dengan lembut.
Mata Tama terbelalak, ia begitu terkejut. Selama ia sadar pasca kecelakaan itu, ini adalah ciuman pertama bagi Tama.
Meskipun dengan hati yang bergemuruh dan detak jantung yang tidak beraturan. Namun, Tama mulai menikmati ciuman itu. Rasa sesak di dadanya perlahan memudar tergantikan dengan curahan rasa cinta yang Tama rasakan kepada Nala selama ini.
Tama memegangi wajah istrinya itu. Ia tersenyum dengan wajah yang sudah memerah tersipu.
Tama kembali mencium bibir Nala, ia ingin Nala tau jika dirinya selama ini sangat menyayangi Nala.
***
Keesokan harinya,
Nala duduk di meja kerjanya, ia menatap ruangan Tama dihadapannya. Ia begitu merindukan saat-saat Tama berada disana dengan senyumnya.
“Nalaa?” Dwi berlari kecil ke arah Nala
“Wi….” Nala tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu
“Lu Udah masuk gawe Nal? Udah baik-baik aja?” tanya Dwi dengan rasa bahagia
Nala mengangguk dan tersenyum
“Mas bule gimana Nal?” tanya Wi dengan tatapan sedih
“Hemmhh.. masih belum ingat apa-apa, tapi kondisinya sangat baik..” ucap Nala
“Yang sabar ya Nal..” Dwi mengelus wajah cantik sahabatnya itu
“Iya tante Wi..” senyum Nala
Dwi mengerutkan keningnya
“Tante?” tanya Dwi tak mengerti
Nala tertawa kecil dan mengusap perutnya memamerkan kehamilannya pada Dwi.
Dwi membelalakan matanya
“Ya ampun.. lu hamil Nal?” tanya Dwi antusias
Nala tertawa dan memeluk Dwi erat
“Selamat sayangku..” ucap Dwi mengeratkan pelukan Nala
Disisi lain,
Tama berjalan perlahan kearah ruang keluarga, ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan istrinya.
“Bapak butuh sesuatu?..” tanya bi Inah pelan menghampiri Tama yang terlihat bingung
“Nala kemana bi?” tanya Tama
“Ibu sudah berangkat ke kantor pak, tadi ibu titip pesan kalo ibu minta maaf karena pergi tidak pamit ke bapak soalnya ga tega untuk bangunin bapak..” ucap bi Inah
“Ooh.. iya bi Terima kasih..” ucap Tama
Bi Inah pun kembali ke dapur
Tama berdiam diri sambil melihat sekeliling. Terdapat foto pernikahan besar pada dinding, kemudian ia mengambil album foto yang ada pada rak.
Senyum Tama mengembang saat melihat satu persatu foto pernikahannya dengan Nala. Ia begitu bahagia dan bersyukur.
***
__ADS_1