Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#55


__ADS_3

“April 2021?” tatap Tama


“Bukannya sekarang masih maret 2020?” lanjutnya


Tama memegangi kepalanya


“Mas.. jangan terlalu memaksakan diri..” tatap Nala khawatir


“Apa yang terjadi di satu tahun ini Nal?..” tanya Tama


“Sudahlah mas.. mas istirahat dulu yaa?” Nala menuntun Tama untuk berbaring


Namun, Tama menghiraukan Nala


 


Tama memberanikan diri untuk menyentuh tangan Nala.


“Tolong.. ceritakan apa yang terjadi..” Tama menggenggam tangan nala


Nala yang disentuh oleh Tama seketika tak bisa membendung lagi tangisnya. Ia tertunduk dan terisak.


 


“Nal..” Tama khawatir melihat Nala menangis


 


Perlahan, Tama memeluk Nala dengan lembut.


Nala memeluk suaminya dengan erat. Ia sangat merindukan Tama.


 


“Aku kangen kamu mas..” ucapnya pelan


Tama terdiam mendengar ucapan Nala, ia mengeratkan pelukannya.


 


Beberapa saat kemudian, Nala melepaskan pelukannya. Ia menatap Tama dan mengusap lembut wajah yang sejak kemarin ia rindukan.


Wajah Tama tersipu, ia masih tidak bisa percaya jika dirinya akan bisa memeluk Nala bahkan menikahi wanita itu.


“Jadi, kamu lupain semua kebersamaan kita? Bahkan pernikahan yang begitu membahagiakan?” tanya Nala


Tama merasa bersalah, ia menatap Nala dengan sedih


“Maafkan aku Nal..” ucapnya


 


Nala menggelengkan kepalaya


“Bukan seperti itu, suamiku tidak menyebut namaku lagi..” ucap Nala


Tama mengangkat alisnya


 


“Maafkan aku sayang..” ucap Nala sambil menuntun tangan Tama untuk membelai kepalanya


“Begini..” senyum lebar Nala


Tama tersenyum dan mengangguk


 


“Maafkan aku, sa yaang..” ucapnya terbata


Nala tersenyum lebar


 


“Mas bahagia tau kalo mas menikah sama aku?” goda Nala


Tama tertawa kecil lalu mengangguk


“Tapi, aku juga sedih..” jawabnya


“Kenapa?” tatap Nala


“Aku melupakan kebersamaan kita, aku pasti menjadi orang yang sangat bahagia satu tahun ini karena bisa bersama dengan orang yang aku cintai..” ucap Tama


“Tentu saja.. mas bahkan ga bisa sehari pun tanpa aku..” Nala menyombongkan dirinya


Tama tertawa lalu mengusap kepala istrinya.


“Terima kasih Nal..” ucap Tama


Nala memelototkan matanya


“Sayang..” ulang Tama


 


“Hemmh.. kita sudah berapa lama menikah?” tanya Tama


Nala mengambil ponselnya lalu memutar video pernikahan mereka.


“Ini..” Nala memberikannya pada Tama


 


Video berdurasi lima menit itu sungguh membuat hati Tama dipenuhi rasa bahagia dan haru. Nala menyadarkan kepalanya dipundak Tama sambil ikut menonton.


Air mata Tama mengalir merasakan begitu bersyukurnya ia bisa menikahi wanita yang sangat ia cintai.


Saat video berakhir, Tama kembali memeluk istrinya dengan haru dan bahagia.


 


“Mas bahagia?” tanya Nala

__ADS_1


“Tentu saja aku sangat bahagia.. Aku bahkan masih belum bisa percaya kalo ini nyata..” jawab Tama


Nala tersenyum


“Mau aku beri tahu sesuatu lagi yang bisa buat mas lebih bahagia?” ucap Nala


Tama menatap penasaran istrinya itu


“Apa?” tanya Tama pelan


 


Nala meraih tangan Tama, perlahan ia meletakkan tangan Tama diatas perutnya. Tama memperhatikan gerakan tangannya.


 


“Akan segera ada yang memanggil mas dengan sebutan Daddy..” senyum Nala lebar menatap Tama


Mata Tama kembali terbelalak, ia terbangun dan duduk dengan tegap menghadap Nala.


 


“Apa?..” ucapnya tak percaya


“Kamu akan segera menjadi ayah..” tangis haru Nala


 


 


Tama tak bisa lagi berkata-kata. Ia mengelus perut Nala dengan lembut sambil terisak


“Anakku..” ucapnya


Tama mencium kening Nala dan bersyukur


 


“Maafkan aku sayang, kamu pasti sangat ketakutan kemarin..” ucap Tama


“Tentu saja.. aku hampir menjadi single parent..” ucapnya cemberut


“Untung saja mas masih ngenalin aku, dan hanya kehilangan memori satu tahun ini.. gimana kalo mas ga kenal aku? trus aku hamil harus minta tanggung jawab siapa?” ucap Nala memukul pelan dada suaminya


Tama tersenyum dengan wajah sendu. Ia memeluk istrinya yang sangat luarbiasa. Ia bersyukur dan sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk bisa kembali bersama keluarga kecilnya.


 


 


 


***


Keesokan harinya,


 


Pagi ini, Nala membersihkan wajah Tama, mereka tertawa sambil bercerita.


 


Nala dan Tama menoleh ke arah pintu.


Orangtua Tama datang bersama Ray. Mereka tampak terkejut melihat kebersamaan Nala dan Tama.


Mereka terdiam menatap sepasang suami istri yang kembali kasmaran.


 


“Sepertinya ada yang sedang bahagia?” bu Katy menghampiri mereka


Tama tersenyum lebar


“Mana mungkin aku tidak bahagia mam..” ucap Tama


Bu Katy menoleh ke arah Nala


“Aku sangat bahagia memiliki istri yang luarbiasa dan calon bayi ini..” Tama mengelus perut Nala


 


“Oh God..” bu Katy menutup mulutnya seraya menghampiri Tama dan memeluknya


Ia menangis bahagia karena putranya sudah kembali sepeti biasanya.


Pak Dany dan Ray ikut terharu.


 


Ray mendekat kearah mereka.


“Kita cek dulu ya?..” senyum Ray


 


Ray dibantu salah satu perawat mengecek kondisi Tama.


Setelah beberapa saat, ia tersenyum dan menepuk bahu Tama


“Lu luar biasa Tam..” ucapnya


Tama memandang Ray masih dengan heran


“Apa kita cukup dekat? Sampe dokter bicara non formal ke pasien?” tanya Tama


Nala dan Ray tertawa mendengarnya


 


Tama menatap bingung Ray dan Nala yang menertawainya.


 

__ADS_1


“Kalo kepala lu lagi sehat, enak banget buat gua jitak” celetuk Ray


Nala semakin tertawa melihat ekspresi bingung suaminya.


“Nal, untung si Rendy lagi sakit ya? Kalo engga, Udah jadi sasaran empuk banget ini laki lu..” tawa Ray


Nala memegangi perutnya menahan tawa, ia teringat bagaimana dulu Rendy sangat senang menjaili Tama yang begitu lugu.


 


“Ih kamu kok malah ketawa sayang?” cemberut Tama


“Maaf mas..” Nala berusaha menghentikan tawanya


 


“Oya Ray, Rendy Udah selesai operasi?” tanya pak Dany


“Sudah pak, alhamdulillah berjalan lancar.. mungkin sebentar lagi siuman..” jelas Ray


“Ya ampuun..” Nala teringat sesuatu


“Mas aku pergi liat Rendy dulu ya? Aku janji akan ada disamping dia pas dia sadar dari operasi..” jelas Nala


 


Tama mengerutkan keningnya


“Rendy siapanya kamu emang? Kenapa kamu harus ada disamping dia daripada disamping aku?” cemberut Tama


Nala dan Ray saling pandang


 


“Rendy itu sayangnya kamu mas..” ucap Nala menahan tawa


Tama makin mengerutkan keningnya


 


Ray tertawa kecil melihat ekspresi Tama


 


“Udah.. udah.. lu mending ikut aja sana Tam..” Ray mengambil kursi roda disamping bangkar Nala


“Udah buruan sini naik gua dorongin..” ucap Ray


 


Tama yang masih kebingungan mau tidak mau duduk dikursi roda. Ia juga penasaran dengan siapa Rendy.


 


Ray, Nala dan Tama masuk kedalam ruangan Rendy.


Orangtua Rendy menyambut mereka.


“Nak Tama..” ibu Rendy memegang tangan Tama


Tama yang bingung menoleh ke arah istrinya yang hanya dibalas senyuman


“Terima kasih sudah berjuang dan bangun kembali..” ucap tulus ibu Rendy


Tama hanya mengangguk dan tersenyum


 


Ray kemudian membawa Tama ke samping bangkar Rendy. Tama menatap wajah Rendy yang nampak asing baginya.


 


“Dia yang berada didalam satu mobil sama lu pas kalian kecelakaan..” ucap Ray


Tama terkejut


“Mas dan Rendy malam itu pergi berdua untuk ngopi. Mas bilang sama aku kalo ada yang harus dibicarakan oleh kalian berdua..” jelas Nala


“Jadi, aku dan dia cukup dekat?” tanya Tama


Nala tersenyum


“Kita berempat bersahabat..” ucap Nala yang kembali mengejutkan Tama


Tama menoleh kearah Ray dan juga Rendy. Ia sangat terkejut karena tak menyangka bisa memiliki sahabat.


 


 


Jari jemari Rendy mulai bergerak.


Ray mengecek pergerakan bola mata Rendy.


Tak lama kemudian, Rendy terbangun. Ia mengedarkan pandangannya dengan lemah.


Tatapannya terhenti saat ia melihat Tama ada disampingnya.


“Tam...” ucapnya pelan


Tama terdiam melihat Rendy


 


“Ren..” panggil Nala


Rendy menoleh dan tersenyum lebar. Ia kembali menatap Tama


“Thanks bro udah bangun..” ucap Rendy, air matanya mengalir haru


Tama tersenyum menatap Rendy


 

__ADS_1


***


__ADS_2