
“Kita adakan pernikahan disini aja ya mas?..” Nala membalikan badannya menatap Tama dengan senyum antusiasnya
“Disini?..” Tanya Tama yang hanya dijawab anggukan oleh Nala
“Halaman rumah kita cukup luas dan ada danau, pasti indah jika di penuhi dekor bunga”. Ucap Nala
“Trus nanti aku mau meja untuk ijab kabulnya didekat danau sana dan dipasangkan lampu-lampu gitu pasti cantik banget..” lanjut Nala sambil menunjuk danau didepannya
Tama mendengarkan apa yang Nala jelaskan dan ia melihat sekeliling dengan seksama
“Hmmm.. bisa sih sayang, tapi apa kamu ga risih nanti rumah didatangi banyak orang bolak balik untuk dekor dan sebagainya?” ucap Tama
“Ga dong mas, malah aku bisa semau aku untuk dekornya nanti tanpa harus ikutin aturan yang punya tempat kan?..” senyum Nala
Tama pun ikut tersenyum dan menganggukan kepalanya
“Okay kalo gitu, aku bakal setuju dengan semua yang kamu mau..” ucap Tama sambil membelai kepala tunangannya yang tersenyum antusias sambil terus membicarakan konsep pernikahan mereka nanti disana.
***
Lima hari kemudian,
Jakarta,
“Sayang, barang-barang kamu aku masukin dulu kekamar ya? Mumpung ka Dimas juga mau kekamar”. Ucap Tama sambil mengambil koper Nala
“Iya mas, kalo gitu aku susul kak Sinta di kolam renang ya? Katanya si kembar lagi pada berenang disana”. Jawab Nala sambil melihat sekeliling
Nala pun berjalan mencari arah menuju kolam renang.
Saat ini, keluarga Nala sudah berkumpul di hotel tempat Ray dan Adelia akan melaksanakan pernikahan di Jakarta. Nala dan Tama baru saja sampai dari bandung dikarenakan masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
“Nalaaa…” sapa seseorang dibelakang Nala
Nala pun menoleh dan mendapati gadis cantik sedang tersenyum ke arahnya
“Adelia..” ucap Nala senang dan mereka pun langsung berpelukan
“Ih kok baru sampe sih? Aku udah nungguin kamu dari kemaren tauk” ucap Adelia
“Iya maaf ya Del, aku masih ada kerjaan kemaren..” senyum Nala
Adelia pun kembali memeluk Nala dengan gembira.
Beberapa saat kemudian, Nala dan Adelia sudah bermain bersama si kembar di sisi kolam renang. Mereka menghabiskan waktu bersama sambil bercanda ria.
“Adel, ibu cari kamu dari tadi ternyata disini?”. Bu Rani tiba menghampiri mereka
“Eh ya bu, ada apa?” Ucap Adel melihat ibunya
Bu Rani pun menoleh ke arah Nala yang asing baginya
“Ini Nala bu, kerabat mas Ray..” Adelia memperkenalkan Nala
__ADS_1
Nala pun tersenyum lalu menyalami bu Rani
“Waahh Nala cantik sekali..” bu Rani begitu takjub melihat Nala yang terlihat cantik baginya
“Terima kasih tante..” Nala tersenyum
“Sayang..” Tama menghampiri mereka
“Waahh.. ini suaminya Nala yaa?..” tanya bu Rani yang melihat kedatangan Tama
Tama yang kebingungan hanya tersenyum lalu menatap Nala
“Perkenalkan tante ini mas Tama, tunanganku..” Nala memperkenalkan Tama
“Tama, tante.. insya Allah kami akan menikah di bulan Februari..” sapa Tama ramah sambil menyalami bu Rani.
“Waah selamat yaa.. kalian bener-bener pasangan good looking..” ceplos bu Rani menatap Tama dan Nala yang dibalas senyuman oleh mereka
“oya, ibu lupa.. Del tadi ibu mau bilang, baju pengantin kamu udah datang.. yuk fitting terakhir, Ray udah disana nunguin..” ucap bu Rani
Bu Rani dan Adelia pun pamit dan berlalu. Nala dan keluarganya pun melanjutkan bermain disana.
Pernikahan Ray dan Adelia akan dilangsungkan esok pada sore hari. Mereka akan melakukan akad nikah ba’da ashar dan resepsi pada malam harinya.
***
Malam harinya, Nala dan Tama janji bertemu dengan Rendy di Café seberang hotel tempat mereka menginap. Rendy baru saja sampai kesana dengan wajah lusuh.
“Haduuhh.. hai kalian..” sapa Rendy lemas dan terduduk lesu membaringkan kepalanya di meja
“Ngapa lu Ren?” Tanya Nala penasaran
Rendy pun mengangkat tangannya seolah tidak mau diganggu
“Jangan tanya kenapa..” jawab Rendy sambil mengangkat kepalanya menatap Nala
“Sedih aku tuh, pesawat delay dua jam trus bagasi lama trus jalanan macet huhuhu…” rengek Rendy lalu membaringkan kepalanya lagi
Tama yang mengerti langsung pergi memesan milktea dan kue kesukaan Rendy. Beberapa saat kemudian Tama meletakkan minuman dan kue dihadapkan Rendy.
Mencium aroma makanan dan minuman kesukaannya, Rendy pun langsung terbangun tegap
“Aaahhhh… terima kasih cintakuuu…” Rendy melentangkan tangannya segera akan memeluk Tama
“Ih Jijikk..” Tama menangkis tangan Rendy yang dibalas tatapan tajam Nala
“Punya gua..” ucap Nala
“Yelah meluk doang ga boleh..” manyun Rendy kemudian tersenyum langsung melahap kue dan milktea nya.
Nala dan Tama hanya tersenyum melihat sahabatnya yang random itu.
“Ray mana? Kok ga keliatan?” ucap Rendy dengan mulut dipenuhi kue
__ADS_1
“Tau tuh belom keliatan dari pas kita dateng juga, mungkin lagi ada yang di urus..” ucap Tama
“Tadi sih katanya lagi fitting baju sama mau cek dekor..” sambung Nala
Rendy hanya mengangguk-angguk sambil terus makan.
Setelah puas berbincang, mereka pun kembali ke hotel.
Rendy dan Tama satu kamar, sedangkan Nala sendiri terpisah dengan kakak dan ayahnya.
Mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat.
***
Pukul 01.13 WIB,
Nala terbaring pada ranjangnya. Ia hanya membolak balikan badan karena tidak dapat memejamkan mata untuk tidur.
“Hmmm… udah jam satu..” ucapnya sambil melihat ponsel
Nala kemudian pergi keluar untuk mencari udara segar. Ia berjalan di taman hotel samping kolam renang. Ia menatap langit berbintang dan mendudukan dirinya pada kursi taman.
Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. namun, entah kenapa hatinya begitu gelisah.
“Naal..” suara sapa seseorang mengejutkan Nala
“Ray?..” Nala terkejut mendapati Ray berada disana
“Kok disini? Belum tidur?” Ray menghampiri Nala dan ikut duduk disampingnya
“iya, belum bisa tidur jadi kesini, lu sendiri ngapain disini? Bukannya tidur sana besok mau jadi penganten juga?” Nala pun tersenyum menggoda Ray
Ray hanya terdiam dan memandang wajah Nala.
Nala yang mendapat tatapan sendu dari Ray pun merasa sedih seketika
“Kenapa Ray?..” tanya Nala
“engga..” jawabnya kemudian tersenyum tipis lalu memalingkan wajah
“Engganya lu itu pasti ada apa-apanya” ucap Nala
Ray pun menganggukan kepalanya lalu tersenyum kecut
“Lucu aja, seharusnya mungkin saat ini akan menjadi saat yang paling aku tunggu jika itu pernikahan kita” senyum Ray
“Aku bahkan melamar kamu di mobil dan dengan enteng bilang kita akan nikah sepulang aku dari singapura. Tapi, nyatanya aku menikahi orang lain..” tunduk Ray
Nala terdiam mengingat kejadian pada awal tahun saat ia dan Ray pulang merayakan ulangtahun Nala.
“Makanya kalo ngelamar orang jangan sambil bercanda kan jadinya dianggap bercanda juga dicatatan malaikat..” Senyum Nala sambil berusaha mencairkan suasana
“Iya juga yaa..” Jawab Ray tertawa pelan
__ADS_1
Nala dan Ray pun kemudian terdiam dengan pikiran masing-masing
***