
“Silahkan duduk..” sapa terapis
“Bagaimana kondisi suami saya dok?” tanya Nala
“Saya dan pak Tama sudah melakukan sesi pertama dari terapi yang dijalani. Sesi ini untuk penjajakan awal dan untuk melihat bagaimana kondisi yang pak Tama alami.” Ucap terapis
“Pak Tama sudah saya jadwalkan melakukan tiga kali sesi dan waktu yang dibutuhkan tergantung bagaimana nanti kondisi pak Tama, kemungkinan bisa memakan waktu dua sampai empat jam. Tapi, sesi terapi ini juga bisa ditambah jika memang dibutuhkan..” Jalas terapis
“Apa saya masih harus di rawat inap dok?” tanya Tama
“Tidak, kondisi pak Tama sudah bagus, sudah boleh pulang ke rumah tapi harus diingat bahwa pak Tama tidak boleh melewati satu sesi terapi pun..” senyum terapis
Tama, Nala dan Rendy pun bersukur
“Terima kasih banyak dok..” ucap mereka seraya pamit
Setelah selesai menjalani tahap awal terapi, Tama dan Nala bersiap untuk pulang ke rumah mereka.
Dreett.. Dreett..
Nala tersenyum menatap layar ponselnya
“Hallo Pa..” sapa Nala mengangkat telponnya
“Hallo sayang, bagaimana kondisi suamimu?” tanya pak Dany
“Mas Tama sudah boleh pulang Pa, ini kami sedang bersiap untuk pulang..” ucap Nala
“Syukurlah nak, bagaimana jika kalian sementara tinggal dirumah utama sayang? Sampai kondisi suamimu benar-benar membaik dan selesai menjalani pengobatan? Papa sangat khawatir kamu juga kelelahan harus bekerja sambil merawat suamimu, kalau dirumah kan ada papa dan mami?” ucap pak Dany perlahan
Nala menoleh kearah suaminya yang saat ini sedang tertawa dan bercanda dengan Rendy.
“Baiklah Pa.. Nala akan sampaikan ke mas Tama dulu ya?” ucap Nala
“Iya sayang, kabari papa jika kalian akan pulang, papa akan meminta sopir untuk menjemput kalian” ucap pak Dany kemudian menutup panggilannya
“Apa kata papa, sayang?” tanya Tama
“Papa bilang, bagaimana kalau kita sementara tinggal dirumah utama sampai kamu membaik? Papa khawatir jika aku akan kesulitan ninggalin kamu dirumah karena juga harus bekerja..” jelas Nala
Tama berpikir sejenak
“Bagaimana menurutmu, sayang?” tanya Tama
“Hemmhh.. aku memang akan lebih tenang jika kamu bersama mami dan papa jika aku pergi bekerja..” ucap Nala
“Baiklah kalau begitu, kita sementara akan tinggal disana..” ucap Tama
Nala tersenyum dan mengangguk
“Terus aku tinggal dimana?” tanya Rendy memasang wajah polos
“Siapa elu?” ucap Nala sambil menoyor kepala Rendy
Tama tertawa puas melihat Rendy menggerutu sendiri
***
Malam harinya,
Tama, Nala dan Rendy sampai dirumah orangtua Tama.
Orangtua Tama dan Vio menyambut bahagia kedatangan mereka.
Jangan tanya bagaimana Rendy saat ini, bibirnya tak henti menyunggingkan senyum menatap Vio
“Istighfar Ren..” celetuk Nala menyenggol lengan Rendy
“Awww.. sakit Nal..” gerutu Rendy karena Nala menyenggol tangan kanannya yang masih belum pulih
__ADS_1
Semua orang tertawa melihat mereka
“Nak Rendy juga tinggal saja disini, temani Tama..” ucap bu Katy
“Beneran tante? Boleh?” tanya Rendy antusias
“Mending jangan mam, yang ada bukan nemenin mas Tama tapi modus ke yang lain..” ucap Nala
“Huuusshh.. anda jangan mengganggu..” Rendy memelototi Nala
“Isshhh..” Nala menatap tajam Rendy yang cengar cengir kepada Vio
Bu Katy dan Pak Dany menggelengkan kepala mereka dan tertawa.
“Yuk kita makan malam..” ucap pak Dany
Mereka bersama-sama menuju meja makan
“Aku ditinggal?” ucap seseorang di atas tangga
Semua orang menoleh ke asal suara
Ari tersenyum lebar disana
“Kakak?...” Tama tak percaya mendapati Ari berada disana
Ari berjalan menuruni tangga perlahan. Ia menatap Tama dengan wajah penuh kerinduan.
Ari memeluk Tama dengan erat
“Bagaimana mungkin kakak pulang?” ucap Tama dalam pelukan
“Apa aku mimpi?” Tama melepaskan pelukan Ari kemudian menatap lekat kakaknya itu
“Ada yang menyuruh kakak pulang..” senyum Ari menatap Nala
“Terima kasih kakak sudah mau pulang..” ucap Nala
“Tidak, kakak justru yang harus berterima kasih kepada adik kakak ini.. terima kasih sudah menyadarkan kakak..” senyum Ari yang juga sudah meneteskan air mata
Semua orang merasa haru. Bu Katy ikut memeluk Nala dan kedua putranya.
***
Empat bulan kemudian,
Jakarta,
Adelia dan Ray sedang mempersiapkan kebutuhan anak pertama mereka. Kandungan Adelia saat ini telah memasuki bulan ke sembilan.
Ray dan Adelia sangat antusias menyambut kelahiran bayi mereka. Meskipun tidak banyak yang disiapkan namun kehebohan calon orangtua baru itu sangat terlihat di kediaman mereka.
“Mas, koper yang untuk aku lahiran dimana?” tanya Adelia sambil merapikan tempat tidur si kecil
“Duh, kemarin aku taro mana ya?..” Ray celingukan mencari
“Ya ampun.. kan aku Udah bilang tolong simpan di dekat pintu jadi kalo tiba-tiba harus lahiran nanti ga ketinggal..” Adelia meninggalkan pekerjaannya dan membantu Ray mencari
Hampir lima menit mencari namun mereka tak kunjung menemukan koper tersebut.
Ting.. Tong..
Suara bel menghentikan kegiatan mereka yang tengah sibuk itu
__ADS_1
Ray membuka pintu dan terheran karena security tersenyum dibalik pintu
“Selamat sore pak Ray..” sapa security
“Oh iya, selamat sore pak.. Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Ray
Adelia ikut menghampiri ke depan pintu
“Ini koper pak Ray?” security itu menunjuk sebuah koper yang tersadar di samping pintu keluar
“Ya Tuhan.. Betul pak, ini bapak dapet dari mana ya?” tanya Ray dengan wajah bingung
“Itu ada disamping pintu luar, saya dari semalam patroli liat ada koper disitu saya kira sengaja karena pak Ray dan bu Adelia mau pergi tapi ternyata sampai sekarang masih disitu..” senyum security
“Astaghfirullah mas…” Adelia menjewer gemas kuping suaminya itu
“Aduhh.. iya maaf sayang, kayanya aku ga sengaja bawa pas mau buang sampah kemaren.. Hehe tapi bener kan aku taro deket pintu?..” ucap Ray memegangi kupingnya
“Duh ga tau deh..” Adelia memegangi kepalanya
“Hehe terima kasih banyak ya pak..” cengir Ray pada security
“Iya sama-sama pak Ray, lain kali hati-hati ya pak.. saya permisi..” pamit security
Adelia sangat gemas dengan keteledoran suaminya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali kekamar.
“Hehe maaf sayang..” teriak Ray menatap istrinya
Kehebohan mereka terus berlanjut hingga malam tiba
Disisi lain,
Naura menyeret kopernya dan berjalan perlahan menuju pintu masuk. Langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya
“Naura..” teriaknya
Naura terkejut mendapati Rendy dikejauhan
Rendy berjalan perlahan menghampiri Naura
“Ga mau pamit?” ucap Rendy setelah sampai dihadapan Naura
Naura masih terdiam menatap Rendy
Rendy mengulurkan tangannya
“Selamat jalan.. semoga kamu selalu bahagia dimana pun kamu berada..” ucap tulus Rendy
Naura perlahan menjabat tangan Rendy dan tersenyum
“Terima kasih untuk selama ini mas.. Semoga mas Rendy juga selalu bahagia dimana pun itu..” senyum Naura
Rendy dan Naura saling berjabat tangan
Beberapa saat kemudian, Naura melanjutkan perjalanannya. Rendy menatap gadis itu dengan rasa sedih namun juga bahagia.
“Hati-hati..” teriak Rendy sambil melambaikan tangannya dan hanya dibalas senyuman oleh Naura.
***
__ADS_1