Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#62


__ADS_3

Bogor,


 


Sudah tiga hari berlalu, Naura termenung diatas kasurnya. Banyak sekali hal yang ia pikirkan


Ayah Naura akan segera pindah ke Solo dan sudah selesai berkemas.


 


Tok.. Tok.. Tok..


 


“Masuk..” ucap Naura


Tak lama pintu kamar terbuka terlihat pak Fajar tersenyum


“Naura.. belum tidur nak?” tanya pak Fajar


“Belum Pa.. Papa kenapa belum tidur?” ucap Naura


 


Pak Fajar mendudukkan dirinya dikursi menghadap sang putri.


“Apa yang sedang kamu pikirkan nak?” nampak pak Fajar terlihat khawatir menatap Naura


“Tidak ada Papa.. Naura baik-baik saja..” senyum Naura menggenggam tangan sang ayah


 


“Apa kamu masih bingung untuk mengambil langkah apa yang akan kamu putuskan?” tanya pak Fajar


Naura terdiam menatap dokumen yang sudah ia siapkan diatas mejanya


“Bagaimana menurut Papa?.. apa yang harus Naura lakukan?” tanya sendu Naura


Pak Fajar tersenyum dan mengelus pucuk kepala putrinya


“Ikutilah kata hatimu nak, meskipun mungkin waktunya sudah tak banyak lagi namun, Papa tidak ingin kamu nantinya menyesali apa yang sudah kamu ambil..” ucap pak Fajar


“Naura sudah selesai mempersiapkan kebutuhan untuk ke Italia Pa.. tapi entah kenapa hati Naura sangat berat untuk pergi..” ucap Naura


“Apa karena Rendy?” tanya pak Fajar lekat


 


Naura hanya mengangguk dan menatap ayahnya


“Aldi sudah mendapatkan imbalan atas apa yang ia perbuat, kita tinggal tunggu seberapa berat hukuman yang akan dia terima. Jika Rendy, itu diluar kendali kita nak.. kita tidak bisa mengendalikan takdir seseorang..” Jelas pak Fajar


 


“Papa tau kamu sangat merasa bersalah terhadap Rendy, tapi jangan terus menyalahkan dirimu dengan apa yang sudah terjadi..” lanjutnya


 


Naura mengangguk dan tersenyum tipis. Hatinya terasa lebih tenang setelah berbicara dengan sang ayah.


“Terima kasih Pa..” ucap Naura pelan


 


***


Jakarta,


 


Sudah satu bulan berlalu, Rendy sudah mulai beraktifitas dengan nyaman karena gips ditangannya sudah dilepas.


Rendy sedang bersiap untuk pulang ke Bandung. Siang ini ia akan pulang menggunakan kereta api menuju Bandung.


Sepanjang perjalanan ia tersenyum menatap jalanan membayangkan wajah Nala dan Tama. Ia sangat bahagia karena akhirnya akan bertemu dengan mereka.


 


Nala akan menjemput Rendy di stasiun sesampainya di sana.  


Tiga jam kemudian,


Bandung,


“Mas, aku pergi jemput Rendy dulu yaa?..” ucap Nala sambil mengambil kunci mobilnya


“Loh kamu ga diantar pak Asep, sayang?” tanya Tama


“Engga mas, aku lagi pengen nyetir, hehehe..”ucap Nala

__ADS_1


Tama menghembuskan nafasnya


“Yaudah aku ikut kalo gitu..” ucapnya


Nala menatap suaminya yang terlihat khawatir


“Hemmhh.. Yaudah yukk..” Nala menggenggam tangan suaminya keluar rumah


 


Nala dan Tama mulai berkendara membelah jalanan. Nala melajukan mobil dengan tenang, berbeda dengan Tama yang tampak kurang nyaman sebagai penumpang disamping Nala


 


“Sayang, bisa sedikit lebih pelan?” ucap Tama


Nala mengerutkan keningnya


“Ini udah pelan mas..” ucapnya tanpa menoleh


 


Keringat sudah membasahi kening Tama meskipun pendingin dimobil sudah maksimal.


 


Lima belas menit kemudian akhirnya Nala memarkirkan mobilnya di area stasiun.


Rendy sudah menghubungi Tama dan akan segera sampai disana.


 


“Mas kenapa?” Nala menatap wajah suaminya yang tampak pucat


Tama tersenyum canggung mengusap keringat yang mengalir


“Mas sakit? Apa yang sakit?” tanya Nala


 


“Engga sayang, aku Cuma agak takut tadi di jalan..” ucap Tama pelan


“Takut kenapa?” wajah Nala kebingungan


“Ga tau kenapa, rasanya agak takut aja tadi pas naik mobil..” ucap Tama


Nala mengusap keringat di kening suaminya. Ia mulai khawatir karena tangan Tama terasa sangat dingin dan keringat terus bercucuran.


 


“Hallo para cintakuuu…” ucapnya lantang sambil tersenyum lebar


Nala dan Tama tersenyum menatap Rendy yang sudah sangat membaik. Namun, Rendy menyadari jika Tama sedang tidak baik-baik saja saat ini.


“Lu kenapa Tam?” tanya Rendy yang juga ikut khawatir


“Gua juga bingung Ren, apa kita ke RS aja?” ucap Nala


Tama semakin menggigil dan bersandar dengan lemah


 


“Nal jalan sekarang..” Ucap Rendy menatap Tama


Dengan tergesa, Nala langsung menginjak pedal gas dan menuju ke RS terdekat. Nala berusaha fokus menyetir dan menenangkan dirinya.


 


Rendy terus berusaha mengajak Tama bicara agar Tama tidak hilang kesadaran. Sepuluh menit kemudian akhirnya mereka sampai didepan IGD.


Rendy langsung turun dan meminta tolong perawat untuk membantu Tama masuk kedalam. Para perawat lelaki membawa kursi roda dan mengangkat tubuh Tama yang sudah mulai hilang kesadaran.


Rendy bergegas membuka pintu kemudi


“Nal turun, biar gua yang cari parkiran..” ucap Rendy


Nala yang masih syok hanya mengangguk kemudian mengambil tasnya dan keluar dari mobil menyusul suaminya.


 


Didalam, Tama langsung ditangani oleh beberapa perawat dan dua orang dokter.


“Apa dia sedang melakukan pengobatan tertentu?..” tanya seorang dokter pada Nala


“Iya Dok suami saya sedang dalam masa pemulihan usai operasi pendarahan di kepalanya karena kecelakaan..” ucap Nala


Dokter tersebut langsung menghubungi dokter lainnya untuk pemeriksaan lebih jauh


 

__ADS_1


“Silahkan ikut saya untuk pengurusan administrasinya bu..” seorang perawat menghampiri Nala


Rendy yang baru saja sampai langsung menemani Nala.


 


Rendy terus memegangi tangan Nala sambil menunggu Tama selesai menjalani pemeriksaan oleh dokter.


“Apa ga sebaiknya orang rumah dikasih kabar Nal?” ucap Rendy menatap Nala yang semakin memucat


 


“Tolong telpon ka Dimas, Ren..” ucap Nala pelan


Rendy mengangguk dan langsung menelpon Dimas.


 


 


“Baiklah Ren, Kakak langsung kesana dari klinik..” ucap Dimas di seberang sana


Rendy menatap Nala dari kejauhan, ia sangat khawatir jika Nala juga ikut tumbang karena mengkhawatirkan Tama.


 


“Nal minum dulu..” Rendy memberikan sebotol air mineral pada Nala


“Thanks Ren..” perlahan Nala meminum air itu


 


Dua puluh menit sudah berlalu, namun dokter masih saja belum memberikan kabar apapun.


Dimas berjalan menghampiri Nala dan Rendy yang duduk diluar ruangan


“Kak..” Nala memeluk kakaknya dengan erat


“Bagaimana Tama?” tanya Dimas pada Rendy


“Belum selesai di periksa kak..” ucap Rendy


 


Dimas mengeratkan pelukan adiknya dan mengelus pucuk kepala Nala


“Jangan terlalu cemas, tidak baik untuk kandunganmu Nal..” ucap Dimas


Dimas menuntun Nala untuk kembali duduk


Rendy mengusapkan minyak kayu putih pada telapak tangan Nala yang dingin.


 


“Keluarga bapak Tama..” Seru suster


Nala, Rendy dan Dimas langsung menghampiri bilik pemeriksaan Tama


 


“Bagaimana suami saya dok?” tanya Nala pelan


“Pasien mengalami syok yang cukup berat. Anda bilang pasien mengalami kecelakaan mobil sebelumnya?..” tanya dokter


“Betul dok..” jawab Nala


“Kapan gejala sakitnya terlihat?” tanya dokter


Nala baru menyadari jika Tama mulai panik saat memasuki mobil


“Saat dimobil tadi dok, dia sudah terlihat pucat dan keringatan..” ucap Nala


 


Dokter lalu mengangguk


“Setelah kami lakukan pemeriksaan, kami menyimpulkan jika pasien mengalami serangan panik. Kami akan memberi rujukan untuk menjalani pemeriksaan di Psikiatri untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai trauma yang dialami.” Ucap dokter yang mengejutkan semua orang


 


“Ya Tuhan..” tubuh Nala sangat terasa lemas


Rendy mendudukkan Nala dikursi dekat bangkar Tama


 


“Baiklah dok, Terima kasih banyak..” ucap Dimas


Dokter pun berlalu.

__ADS_1


 


***


__ADS_2