
“Harusnya gua yang nanya gitu kan Ga? Ada apa sebenernya?” senyum sinis Tama
Rega hanya memasang wajah innocent dan menggelengkan kepala.
“Apa sih bro?.. Come on…” ucap Rega
Tama kemudian melemparkan beberapa kertas kehadapan Rega.
Sesaat kemudian Rega membaca apa yang tertulis disana dan tertawa kecil
“Ya ampun Tam, serius banget sih lu? Come on, gua Cuma berusaha kasih masukan untuk kerjaan bawahan lu, kan lu tau gimana besarnya perusahaan gua, kita ga akan mau terima job yang asal-asal kaya gitu..” senyum sinis Rega
“Oya?.. gua juga penasaran seberapa profesional lu dalam bekerja di perusahaan sebesar itu.” Tatap Tama
“Ini kontrak yang lu tandatangan setelah meeting pertama dengan Nala. Kalo lu memang profesional, lu pasti tau persis seperti apa isi dari kontrak itu. Apa jangan-jangan, lu ga baca isinya dan Cuma tanda tangan gitu aja saking terpesonanya sama tunangan gua?” Senyum Tama sinis memberikan salinan kontrak
“Kita udah bukan lagi anak kecil yang bisa rebutan mainan Ga, dan gua rasa udah cukup selama ini gua selalu ngalah dan kasih apa yang gua punya buat lu..” lanjut Tama
Raut wajah Rega sudah mulai memerah, Tama melihat Rega sudah tersulut emosi dan mengepalkan tangannya.
Tama kemudian melemparkan lagi beberapa lembar kertas.
“Jaga sikap lu, atau lu tau apa yang bakal gua lakuin..” Tama beranjak dari duduknya
“Inget Ga, lu bisa kerja disana dengan bantuan siapa?..” tatap Tama sinis kemudian pergi meninggalkan Rega.
Napas Rega menderu menahan amarah, ia membaca laporan keuangan dihadapannya. Laporan yang membuktikan kecurangannya dalam beberapa proyek.
“Sial!!” kesalnya melempar kertas yang ia pegang.
Tama memasuki mobilnya, ia menelepon seseorang di seberang sana
“Awasi dia terus..” ucap Tama lalu menutup telponnya, ia menatap Rega dari kejauhan kemudian melajukan mobilnya.
Selama ini, Rega bekerja di perusahaan milik sahabat ayah Tama. Rega memohon kepada Tama untuk bisa bekerja diperusahaan milik ayah Tama ketika Rega tidak lolos tes PNS bersama Tama.
Tama yang sudah mengetahui watak dan kualitas Rega pun enggan untuk memasukkan Rega kedalam perusahaan ayahnya, lalu ia pun meminta ayahnya untuk mencarikan perusahaan lain untuk Rega bekerja.
***
Satu minggu kemudian,
Bogor,
__ADS_1
Rendy saat ini sedang melakukan kunjungan ke bogor untuk pekerjaanya. Ia menghabiskan waktu seharian disana.
“Ren, ikut nongkrong yuk?” ajak kawan Rendy
“Duh engga dulu deh, gua capek mau langsung balik aja ke Jakarta..” ucap Rendy
“Lu ga bisa nolak Ren, komandan ulang tahun trus mau traktir kita semua makan..” seru semangat kawan lainnya
Rendy pun menarik nafasnya. Sebetulnya ia begitu malas dan lelah tapi kali ini ia tidak bisa menghindar.
Pukul 21.30 WIB,
Rendy dan tim nya sedang makan bersama di salah satu restauran, beberapa temannya bahkan bernyanyi bersama di iringi live music disana.
Dari kejauhan, Rendy menatap beberapa meja dihadapannya. Ada satu meja yang menarik perhatiannya, terdapat sepasang kekasih yang cukup mesra disana bahkan perilaku mereka cukup berani didepan umum.
Seolah teringat wajah seseorang, kemudian Rendy terkejut karena lelaki yang ia lihat disana adalah lelaki yang merangkul Naura dan memanggil Naura dengan sebutan sayang.
Rendy melebarkan pandangannya untuk melihat lebih jelas.
Lelaki itu pun kemudian beranjak menuju toilet, Rendy dengan sigap mengikuti lelaki itu.
“Iya sayang, aku di rumah ini lagi bener-bener ga enak badan.. kamu bisa kan pulang kerja naik taxi online aja? Maaf ya aku ga bisa jemput..” ucap lelaki itu di telepon.
Rendy mendengarkan lelaki itu menelepon sambil pura-pura mencuci tangannya. Tak lama kemudian lelaki itu meletakkan ponselnya di ujung wastafel dan berdiri disamping Rendy untuk mencuci tangannya. Rendy melihat foto lelaki tersebut bersama Naura pada layar ponsel.
Lelaki itu hanya tersenyum lebar sambil mengangkat alisnya kearah Rendy karena tahu jika Rendy mendengarkan pembicaraannya kemudian ia pun berlalu. Rendy mengepalkan tangannya menahan amarah.
Beberapa saat kemudian, Rendy melihat lelaki itu mencium wanitanya dan mereka beranjak meninggalkan restauran itu.
Rendy pamit pada tim nya, kemudian dengan segera ia mengikuti mobil Aldi yang melaju cukup kencang itu.
Setelah sepuluh menit berkendara. Rendy menghentikan laju mobilnya, ia melihat mobil Aldi memasuki sebuah hotel.
“Sial!!..” Rendy memukul kemudinya
Rendy mengingat Naura yang akan pulang sendiri dari cafenya. Ia pun bergegas menuju café Naura.
Sesampainya disana,
Rendy melihat Naura sedang berdiri dipinggir jalan. Ia pun menghentikan mobilnya dan keluar menemui Naura yang terkejut melihatnya.
“Mas Rendy..” ucap Naura kaget
__ADS_1
“Kamu ngapain dipinggir jalan?” ucap Rendy
“Hmm.. aku lagi nunggu taxi, aku ga bawa motor trus dari tadi pesen taxi dan ojek online tapi ga tau kenapa susah..”jawab Naura pelan
Naura masih merasa bersalah dan malu terhadap Rendy.
Rendy yang melihat Naura tertunduk pun berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa
“Yaudah ayok aku antar..” senyum Rendy sambil membukakan pintu untuk Naura.
Dengan ragu, Naura pun masuk kedalam mobil Rendy.
Sepanjang perjalanan, Rendy terdiam menatap jalanan. Naura mengepalkan tangannya dan berusaha memberanikan diri bicara kepada Rendy.
“Mas Rendy..” ucap Naura pelan
“Hmm.. kenapa Naura?” Rendy menoleh menatap Naura
“Aku minta maaf..” ucapnya pelan
Rendy pun meremas kemudinya
“Maaf kenapa Naura? Kamu ga salah apapun.. mungkin, selama ini hanya aku yang terlalu percaya diri dan menganggap ada sesuatu diantara kita.” ucap Rendy
Naura pun menatap sendu Rendy
“Kamu tenang aja, lagi pula memang kita tidak ada status apapun kan?” senyum Rendy
“Seharusnya aku jujur sejak awal. Aku dan dia sudah berpacaran selama enam tahun, tiga tahun belakangan ini aku dan dia LDR karena dia kuliah di Kanada.” Naura mencoba menjelaskan dengan perlahan
“Saat kita bertemu, aku dan dia sudah putus selama tiga bulan karena sesuatu. Tapi, dua bulan yang lalu dia pulang kesini dan berusaha memintaku memperbaiki hubungan lagi dengannya.” Naura tertunduk
Rendy menghentikan mobilnya didepan rumah Naura kemudian menatap Naura
“Aku dan dia sudah terlalu lama bersama, aku merasa akan sangat sia-sia perjuangan hubungan ini jika berakhir begitu saja. Aku berusaha akan mempercayainya sekali lagi”. Senyum Naura menatap Rendy
Rendy semakin mengepalkan tangannya sambil menatap Naura. Dadanya sungguh bergemuruh mengingat orang yang Naura pertahankan hanya sampah yang tidak berharga.
Ingin rasanya Rendy memberi tahu Naura tentang apa yang dilakukan kekasih gadis itu. Tapi, itu bukan ranahnya untuk bisa ikut campur.
“Terima kasih telah banyak membantuku selama ini mas, aku sungguh minta maaf atas apa yang terjadi. Aku berharap mas Rendy masih mau berteman denganku..” lanjut Naura
Rendy hanya tersenyum
“Aku berdoa yang terbaik untukmu Naura..” senyum Rendy
***
__ADS_1