
Lanjut...
skip yah...
Keesokan harinya.
Olivia sudah bangun dan siap dengan seragam kantorannya, tak lupa kaca mata nya yang sudah di pasang.
Setelah siap Olivia turun dan mendapati ibunya tengah menghitung pesanan kue dari beberapa orang, Ibu melihat Olivia turun tersenyum dan senyuman itu dibalas oleh Olivia.
"Kamu kerja sebagai apa nak?" tanya Ibu, mendudukkan dirinya disamping Olivia yang sudah siap akan menyantap sarapannya.
"Sekretaris bu.." ucap Olivia, mendengar kabar gembira ibu tersenyum dan mengecup kening Olivia.
"Semoga kamu betah yah.." ucap Ibu, Olivia tersenyum dan mengangguk. Mereka pun sarapan bersama sama, setelah sarapan mereka bersiap berangkat melakukan kegiatan kerja mereka.
Skip yah.
Perusahaan Oliver Grup.
Olivia masuk ke dalam sempat ada beberapa karyawan menyapanya ramah, dan juga ada yang menatapnya sinis.
Bagaimana seorang gadis berpenampilan cupu sepertinya menjadi sekretaris Tuan Xander Oliver yang dingin itu?.
Dan kini Olivia berdiri di depan lift menuju ruangan bosnya dan tanpa sengaja Bosnya juga baru datang dan berdiri disampingnya padahal ada Lift khusus untuk CEO.
"Selamat pagi tuan.." sapa Olivia,
"Pagi.." jawab Xander datar namun ada senyuman tipis darinya yang sangat langka, Lift terbuka hendaknya Olivia memilih nanti saja masuknya maksudnya itu setelah bosnya dah kelantai 10 dimana ruang kerja Ceo berada baru Olivia masuk. Tapi Olivia di perintahkan untuk ikut masuk juga jadi Olivia menurut.
__ADS_1
Kini ada 2 orang yang berada didalam. Dua orang? lalu dimana Alvaro?
Alvaro sedang di kantor cabang di kota S mengurus masalah yang terjadi di sana, Rasa canggung memenuhi lift.
Hingga...
Grug...gurg...
Tiba tiba lift berhenti ditengah jalan membuat dua orang ini kaget, lampu lampu dilift mulai hidup mati dan seketika...
Blam..
Lampu seketika mati,
"Apa lagi ini.." Gumam Xander mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yaitu...
Olivia diam menunduk saja, padahal dalam hatinya sedikit takut hanya berdua dengan bosnya.
"Saya sudah berapa kali bilang, kenapa tidak diperbaiki dengan benar. sudah berapa kali lift ini kadang berhenti sudah 2 kali dibulan ini. bahkan ini ketiga kalinya..." omel Xander dingin membuat hawanya sedikit mencekam.
Setelah menelefon Xander menyimpannya dan sedikit kesal.
Satu jam dua jam..
Lift masih berusaha dibuka dan menjadi panas didalambya, udara juga mulai agak menipis membuat Olivia rada sesak.
"Kumohon cepatlah.." gumam Olivia menunduk sedari tadi, Xander melirik Olivia dan..
Sreet..
__ADS_1
Kacamata bulat Olivia ditarik Xander membuat Olivia terkejut apalagi sekarang Xander menghimpit tubuh Olivia.
"Tu...Tuan.." Olivia sedikit gemetar.
"Apa yang kubilang kemarin, lepas kacamata mu jika diruangan ku.." ujar Xander memegang dagu Olivia dan memunculkan senyuman miringnya.
Xander memajukan wajahnya sedikit hingga nafas mereka bertemu dan bahkan terasa hembusan nafas satu sama yang lain,
"Tu..Tuan...le..lepas.." Olivia berusaha mundur agar tubuhnya tidak dekat dengan Xander.
Hingga...
Xander menyatukan dahinya dengan dahi Olivia yang sudah berkeringat,
"Kenapa kau bisa secantik ini tanpa kaca mata?" ucapnya memeluk pinggang Olivia mendepet ke badannya.
Olivia berusaha memberontak namun semakin dia memberontak semakin erat pelukan itu....
"Tu..Tuan tolong lepas..i..ini ti..tidak be..benar.." ucap Olivia, namun Xander tidak peduli dan...
Cup...
Bibir Xander mengecup bibir Olivia, Olivia terkejut dan..
Bruk...
Dengan sekuat tenaga Olivia mendorong Xander hingga Xander sedikit terpental kena dinding Lift, Olivia masih syok dan mengelap bibirnya kasar bahkan airmatanya keluar....
Xander sempat meringis dan menatap Olivia, saat menatap bibir Olivia yang mulai menggeluarkan darah akibat Olivia usap kasar....
__ADS_1
Bersambung