
Jam rapat.
"Tuan waktunya rapat dengan Ceo Widyamatja." ucap Olivia ia sudah siap dengan pakaiannya dengan rapi, berkas berkas kerja sama sudah ditangannya termasuk tab itu juga.
Xander mengangguk, Ia merapikan setelannya dan saat telah siap merekakeluar dan berjalan menuju ruang rapat.
Diruang Rapat.
"Selamat pagi semua, dan Tuan Adrean." sapa Xander dan kedua ceo ini berjabat tangan, namun mata Tuan Adrean melirik Olivia yang berada dibelakang.
"Mari kita mulai rapatnya." Xander duduk ditempatnya maupun semua orang, Rapat di mulai dengan tenang.
Skip selesai rapat.
"Terima kasih atas kerja samanya tuan." ucap Tuan Adrean dan mereka berjabat tangan,
"Sama sama Tuan Adrean Widyamatja." ucap Xander dan tersenyum tipis.
Adrean melirik Olivia lagi yang berada dibelakang Xander, yang membuat Xander sendiri sadar dan melirik mereka berdua.
"Kenapa anda melirik sekretaris saya Tuan Adrean?" tanya Xander dingin.
Adrean tersenyum tipis,
"Kalung ia kenakan mirip dengan adik saya yang sudah lama pergi bersama ibu saya 16 tahun yang lalu, dan juga wajahnya agak mirip dengan gabungan ibu dan ayah saya." ucap Adrean panjang lebar dan memberikan senyuman pada Olivia tapi Olivia seakan menatapnya polos dan bingung.
Xander hanya mengangguk, setelah itu Adrean dan asistennya pamit kembali dengan perusahaannya.
__ADS_1
Xander dan Olivia juga kembali keruangan melaksanakan tugas tugas mereka juga,
Menjelang malam hari pukul 19.00
Kerjaan masih banyak, tentu membuat Olivia dan Xander rada lembur kerjanya.
"Akhirnya..." Keduanya menghela nafas lega dan berucap bersamaan, karena pekerjaannya akhirnya selesai.
Xander beberes maupun Olivia,
Xander keluar di susul Olivia di belakang namun sebelum Xander masuk mobil...
"Kau mau pulang bersama?" tawar Xander namun tiba tiba sebuah mobil sport berhenti dan keluarlah seseorang yang tadi siang mereka bertemu.
"Tuan Adrean?" keduanya berucap bersamaan.
"Ada apa anda ke sini Tuan?" tanya Xander datar, Adrean hanya tersenyum tipis lalu melirik Olivia.
"Emh tapi bagaimana Ayah saya kenal anda Tuan Adrean?" tanya Olivia berhati hati,
"Ada kejutan untukmu nanti dirumah." ucap Adrean.
Karena masih tak percaya, Adrean menunjukkan isi Chatnya dengan Ayah Antares. dan akhirnya Olivia setuju, sempat Xander curiga niat mau mengikuti tapi karena sudah ditelfon ibu negara dirumah jadi dia undurkan niatnya.
Kediaman Widyamatja.
Olivia turun dengan heran, bagaimana Adrean tahu alamat rumah ayahnya tanpa ia beritahu dan juga saat pintu terbuka beberapa pelayan memanggilnya Tuan muda.
__ADS_1
Diruang keluarga.
"AYAH KAU..." Adrean refleks berteriak karena melihat Ayah bermersaan dengan ibu, Olivia dan ibu tentu kaget.
"ADREAN bisa kah kau kecilkan suaramu, Ibu dan Adikmu terkejut." ucap Ayah tegas, Adrean hanya tertawa garing.
"A..Adrean?" ibu yang tadi kaget, turun dari pangkuan Ayah dan mendekati Adrean.
"Putraku hiks kau sudah besar..." Ibu menitukan airmata sambil menyentuh wajah Adrean atau menangkup kedua pipinya.
"Ibu, Adre kangen..." ucap Adrean memeluk ibu erat dan itu membuat Olivia malah bingung sendiri.
"Ini kenapa sih? Oliv gak paham. kok ibu panggil Tuan Adrean putra? emang ibu ayah punya anak lain selain Oliv?" tanya Olivia beruntun, Ayah menepuk sebelahnya dan...
"Olivia lupa? Ini kakak. Kakak Ean, Kaka yang dulu suka bikin Oliv nangis saat Oliv umur 4 tahun." ucap Ayah, Olivia berfikir lalu teringat sosok lelaki kecil berumur 8 tahun yang gemar membuatnya menangis.
"KAK EAN..." Olivia reflek teriak dan ia langsung mendapatkan jitakan di dahi dari ayah.
"Aduh.."Olivia mengelus dahinya.
"Gak peluk Vi?" tanya Adrean, Olivia mendekat dan memeluk kakaknya erat sangat erat.
"Ma..maaf Adrean ibu ninggalin kamu dulu.." Ucap Ibu menangis, Adrean hanya tersenyum ia menghapus Air mata Ibu lembut dan menggelengkan kepalanya.
"Gpp, bukan salah ibu. Ean tahu apa yang terjadi dulu." ucap Adrean menatap ayahnya.
Yah Adrean tahu pertengkaran orangtuanya, karena waktu itu ia melihat dari kamarnya lantai 2 bagaimana ayahnya hampir membunuh adiknya dan Ibu pergi membawa Olivia yangmenangis.
__ADS_1
Tentu hal itu membuat Adrean sedih dan sempat membenci ayahnya. Karena penyeban pergi Ibu dan Adiknya dari rumah adalah Ayahnya.
Bersambung.