
Lanjut...
Setelah itu Ibu, Mama, dan Mami membawa Twins Al ke taman dimana seluruh Anggota keluarga berkumpul.
Taman rumah.
"Ponakan Aunty..." Olivia yang tadinya nempel ama Xander jadi lepas, melihat kedua keponakan kembarnya datang dan tentu Xander cemberut.
"Sabar sabar, masih mending kalah ama ponakan lebih parah kalah ama anak.." ucap Adrean mengelus punggung Xander, yah dia sendiri saja kalah ama si Twins akhir akhir ini.
Olivia menggendong Alexis dan menimangnya, melihat pipi gembul Alexis. Ia gemas berulang kali dia menciuminya hingga membuat Alexis mengeliat geli.
Selama disana semua keluarga besar, mereka bercanda tawa bersama sembari menyambut kelahiran si Twins.
Hingga suatu hari...
Kini Olivia berada di Cafe, dimana Cafe ini tempat ia bertemu seseorang tempo hari.
__ADS_1
Dan yah Olivia menunggu orang itu karena ia mendapat pesan tentang sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan Nesya.
Sabar menunggu, akhirnya orang yang ditunggu tiba. Kini mereka saling berhadapan, pria itu mengambil sesuatu didalam jaketnya dan meletakkannya diatas meja.
Sebuah kertas atau Amplop coklat berukuran sedang yang ia letakkan, Olivia mengambil dan menemukan sekitar 3 lembar kertas dan satu Flashdisk didalamnya.
"Sesuatu akan terjadi yang akan menimpa keluarga Widyamatja, dan sudah terencana dari pihak Octavia.." ucapnya.
"Lalu..." Olivia memandang datar lawan bicaranya.
"Mereka akan menyerang nyonya Amanda terlebih dahulu, baru itu kau.." ucapnya.
"Dan aku harus berhati hati, kapan rebcana itu akan terjadi?" tanya Olivia.
"Kemungkinan disaat keponakanmu baru bisa merangkak." ucap Nya, ia menatap Olivia yang sedang berfikir sesuatu lalu tiba tiba tersenyum sendiri.
"Baiklah baiklah, terima kasih atas informasinya. Nah.." Olivia menyimpan kertas dan Flashdisk kedalam tasnya, dan mengeluarkan lagi Amplop coklat berisi uang yang cukup banyak.
__ADS_1
"Bayaran? bukannya tak ada di perjanjian?" tanya heran melihat Olivia memberikan uang dengan jumlah cukup banyak.
"Untuk ibumu, aku sempat dengar perusahaan mu sedang ada masalah dan ibumu butuh pengobatan. Uang yang seharusnya hendak untuk pengobatan tapi ibumu meminta agar digunakan untuk masalah perusahaan." ucap Olivia panjang lebar.
Ia terdiam sesaat lalu ia tiba tiba menerima telfon.
Selesai menerima telfon dia tampak Khawatir sangat malahan, merasa sudah tahu apa yang menimpa lelaki didepannya Olivia menyodorkan Uang itu dengan sedikit paksaan.
"Bagimu perusahaan tak penting yang terpenting ibumu, tapi perusahaan itu hasil jerih Mendiang Ayahmu. Dan dengan seenaknya Octavia mengambil dan terus mengambil dan melanggar perjanjian yang dibuat antar kerjasama mu dengan mereka." ucap Olivia sepertinya ia tahu.
"Baiklah karena paksaan darimu, dan terima kasih. Aku pamit dulu." ucap nya pergi setelah pamit, nampak ia benar benar terburu dan khawatir.
Olivia tersenyum tipis, seorang lelaki yang berusaha membuat ibunya kembali sehat dan bahagia. Cinta nya di khianati eh salah salah lebih tepatnya bertepuk sebelah tangan, sulit mengenal seorang perempuan kembali karena takut jatuh cinta kembali.
Yang ia fokuskan membahagiakan ibunya dahulu baru mencari jodoh yang tulus padanya dan sayang dengan ibunya, agak sulit sih.
Selesai ini semua, Olivia memutuskan pulang karena urusan telah selesai dan juga sudah mendekati Makan Malam.
__ADS_1
Bersambung.