
“Terimakasih Mas sudah mau membantu ku, aku sangat bersyukur karena memiliki mu dan di cintai oleh mu,” ucap Andhara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Terimakasih ya tuhan engkau kirim kan lelaki baik seperti kakek dan Mas Ezra, aku sangat bersyukur memiliki mereka berdua. Aku akan berusaha sekuat tenaga agar tidak mengecewakan mereka berdua.
“Baiklah kalau begitu saatnya kita pulang sayang,” ucap Kakek Yuda disambut anggukan dari Andhara.
“Mas aku sama Kakek pulang dulu ya,” pamit Andhara.
“Ezra, Kakek sama Andhara pulang dulu. Terimakasih sudah merawatnya dengan baik kemarin,” ucap Kakek Yuda sambil memegang bahu Ezra.
“Sama-sama Kek,”
Ezra hanya mengantakan mereka sampai di Lobi, karena kakek Yuda datang bersama sang sopir.
Setelah kepergian mereka berdua, Ezra pun masuk Kembali ke dalam Apartmentnya. Ia duduk di sofa lalu menelfon Adnan.
“Halo Adnan, kau dimana?”
“Di kantor Ez, kenapa?”
“Ada yang ingin ku sampaikan padamu, aku akan segera menemuimu.”
“Baiklah,”
Setelah sambungan telpon dengan Adnan terputus, Ezra segera bersiap siap. Di sela aktivitasnya, ponselnya Kembali berbunyi.
Telpon kali ini bukan dari perusahaan atau kolega melainkan dari sang Mama.
Ezra menduga jika ia akan diomeli oleh Mamanya karena meninggalkan pesta kemarin malam begitu saja.
“Halo ma,”
“Pulang sekarang ada yang mau Mama bicarakan padamu!” kata Liana.
“Baik ma,”
Dengan sangat terpaksa Ezra harus pulang ke kediamannya terlebih dahulu sebelum ke kantor untuk membahas masalah Andhara dengan Adnan.
Setelah beberapa menit akhirnya Ezra sampai di kediamannya, setelah masuk ia melihat sang mama sedang duduk di ruang tamu menunggunya. Perlahan Ezra mendekati sang mama.
“Kau sudah sampai,” kata Liana.
__ADS_1
“Hal apa yang ingin Mama bicarakan kepadaku?” tanya Ezra.
Liana menghela nafas Panjang, “Kenapa kau meninggalkan perusahaan begitu saja, di sana sedang di adakan acara dan kau bahkan Adnan pun tidak ada di tempat,” omel sang Mama.
‘Apa yang harus ku katakana, tidak mungkin aku bilang alasan aku dan Adnan meninggalkan acara di tengah karena menyelamatkan Andhara dari Leyna.’
“Kenapa kau bengong, di tanya itu ya jawab Ezra,” kesal Liana.
Sejak mendapat Laporan kemarin jika Adnan maupun Ezra tidak berada di tempat dan meninggalkan acara yang sedang berlangsung, Liana sudah dibuat sangat kesal dengan tingkah laku putranya.
“Itu Ma, aku tiba tiba dapat telpon dari kolega yang kebetulan sedang berada di Indonesia, ia ingin makan malam dengan ku. Ia juga sempat minta maaf karena ajakannya yang tiba-tiba, aku juga tidak enak menolaknya Ma,” jelas Ezra.
“Apakah itu benar kolegamu atau kau pergi karena alasan yang lain,” curiga Liana.
“Benar Ma, aku tidak berbohong. Setelah pertemuan tadi malam kolega tersebut langsung pamit untuk pulang ke negaranya.”
“Tapi kenapa kau juga membawa Adnan?” tanya Liana.
“Aku sedang tidak ingin menyetir ma, lagian acara kemarin tetap berjalan lancar tanpaku dan Adnan kan? Ya sudah jika tidak ada lagi yang mau Mama bicarakan aku pamit ke kantor, masih ada urusan yang harus ku kerjakan di sana,” ucap Ezra segera berlalu pergi.
“Ezra! Anak ini benar benar,” ucap Liana menatap kepergian sang Putra.
Alasan Ezra terburu-buru karena ia ingin segera membantu sang kekasih, setelah perjalanan yang cukup lama mengemudi akhirnya Ezra sampai di perusahaan.
“Ada hal apa yang ingin kau katakana padaku?” tanya Adnan.
“Ini tentang Andhara,”
“Aku tidak ingin membicarakannya, pasti kau ingin pamer kemesraan dengan ku kan? Aku tidak akan mendengarkan hal itu,” kata Adnan.
“Bisakah kau dengar kan dulu penjelasanku,” kata Ezra.
Melihat wajah serius Ezra, Adnan akhirnya diam dan mendengarkan semua perkataan Ezra.
“Kita berdua harus membantu Andhara,” ucap Ezra.
“Membantu bagaimana, kenapa dengannya?”
Akhirnya Ezra menceritakan semuanya tentang Andhara, semua cerita yang disampaikan Kakek Yuda padanya pagi tadi.
Ia ceritakan semuanya pada Adnan, mulai dari kebenaran tentang Andhara dan Latar belakangnya.
__ADS_1
Adnan benar benar dibuat terkejut dengan cerita dari Ezra, Adnan tidak pernah menyangka jika Kekasih Ezra sekaligus sekretaris perusahaan ini, sebenarnya adalah Pewaris tunggal dari perusahaan terkaya setelah perusahaan Ezra.
Belum lagi fakta tentang kehidupan Andhara yang sangat kelam, kehidupan masa lalu yang tak seharusnya di lalui oleh Keluarga Terkaya seperti mereka.
“Jadi bagaimana pendapatmu Adnan?” tanya Ezra yang menyadarkan Adnan dari lamunannya.
“Apa?” tanya balik Adnan.
“Tentang Andhara,”
“Aku terserah padamu saja, jika memang kau ingin membantunya aku akan setuju. Toh karena ia bekerja di sini, kita berdua lebih mudah untuk mengajari segala yang kita tau,” jawab Adnan.
Mendengar jawaban dari sang sahabat, Ezra merasa sangat beruntung. Adnan adalah orang pertama yang selalu ada di saat ia sedang terpuruk, juga orang pertama yang selalu mendukung semua keputusan yang ku ambil.
Setelah beberapa saat berbincang, tiba tiba ponsel Adnan berdering.
“Halo selamat siang Pak Adnan,” kata seseorang di seberang telpon yang bisa di dengar oleh Ezra juga, karena Adnan menspeaker ponselnya.
“Selamat siang juga Pak, ada apa ya?”
“Begini pak saya ingin melaporkan sesuatu tentang dua tahanan Wanita yang bapak bawa kemarin ke sini,”
“Ada apa dengan mereka pak?”
“Begini mereka berhasil keluar dari tahanan dan menyebabkan 3 polisi yang berjaga saat itu tewas,” jelas Polisi tersebut.
Sontak Ezra dan Adnan sangat kaget dengan ucapan sang polisi, Leyna dan Farah bebas dengan membunuh polisi yang berjaga saat mereka berdua ingin keluar.
“Tidak mungkin mereka berdua melakukannya sendiri pak, pasti ada yang membantunya,” kata Adnan.
“Awalnya kami juga berpikir demikian pak, tapi setelah kami mengecek dengan saksama CCTV yang ada di sana. Terekam dengan jelas bahwa kedua tahanan tersebut yang menghabisi para penjaga dengan tangan mereka sendiri.”
“Baik pak terima kasih atas info yang di berikan, saya akan mengurus mereka berdua,” kata Adnan.
“Iya pak, kami dari pihak kepolisian juga akan terus mencari keberadaan mereka berdua,”
Setelah selesai Ezra dan Adnan sama sama berpikir di mana mereka bisa menemukan keberadaan Farah dan Leyna, sedangkan mereka baru diberi kabar tentang pelarian mereka berdua.
Adnan pun segera mengingat bahwa ia sempat meletakkan alat pelacak pada baju yang dikenakan Farah, baik itu bajunya sendiri maupun baju dari pihak polisi. Sengaja Adnan melakukan itu karena ia harus mengawasi semua nya tentang Farah.
Para polisi pun tidak keberatan, selama itu tidak menganggu prosedur yang ada. Adnan segera membuka Kembali ponsel miliknya, lalu segera melihat di mana lokasi terakhir dari Farah.
__ADS_1
**Untuk para reader setia ku, maaf banget ya kalau aku up nya suka lama. Karena di Ramadhan kali ini aku harus Kuliah juga, besok udah mau UTS.
Tapi insyaallah aku usahain up di sela2 Kuliah, jangan lupa tinggalkan jejak ya🤗**