
Setelah mengatakan hal tersebut Ezra langsung pergi tanpa pamit, perasaannya sangat kacau saat ini. Jika ia masih terus berada disana, ia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Liana dan Caroline pun cukup terkejut dengan bentakan dari Ezra, tapi Caroline pun segera tersadar jika amarah Ezra saat ini sangat wajar.
Kekasih mana yang tidak marah jika orang yang hampir membuat kekasihnya kehilangan kesuciannya, apalagi gadis yang melakukan itu adalah gadis yang dipilihkan oleh Mamanya sendiri.
Tapi tidak dengan Liana, ia merasa sangat terkejut. Baru kali ini ia bisa melihat dengan jelas amarah di mata sang putra, ia jadi bertanya tanya kenapa Ezra bisa semarah ini.
“Kenapa Kakakmu sangat marah setelah mendengar nama Leyna? Padahal Leyna itu anak yang sangat baik dan sopan, bagaimana mungkin kakakmu tidak menyukai gadis sepertinya?” heran Liana.
“Ma, aku pun sangat tidak menyukai gadis yang mama pilihkan untuk Kak Ezra. Dia adalah gadis terburuk yang pernah ku temui,” kali ini Caroline yang berpendapat.
“Tau apa kamu tentang Wanita pilihan mama?” kesal Liana karena Caroline meragukan pilihannya.
“Mama sepertinya tidak mengenalku dengan baik, aku bisa mendapatkan informasi seseorang hanya dengan hitungan detik Ma. Karakter dari Wanita pilihan Mama sangat membuat ku muak,”
“Kenapa kau berpendapat seperti itu?”
“Mama akan mengetahui semunya jika Kakak sudah ingin memberitahunya sendiri, karena disini aku tidak punya hak untuk membongkar sifat asli dari Nona itu,”
***
Di kediaman Auriga kini Andhara dan kakeknya sedang makan cemilan di ruang tamu, mereka bercengkrama seperti biasanya.
Walaupun mereka hanya berdua di rumah sebesar itu, namun bagi Andhara itu tidak masalah selama sang kakek masih menemaninya.
“Bagaimana hubungannmu dengan Ezra sayang?”
“Hubungan kami baik kok kek, tapi mamanya mas Ezra kayaknya nggak suka sama ku,”
“Pasti karena mereka menganggap mu hanya orang biasa,” tebak Kakek Yuda yang di benarkan oleh Andhara.
“Sudahlah tidak usah dipikirkan, cepat atau lambat dia akan menyukai mu. Lagi pula tidak ada yang bisa menolak cucu kakek yang satu ini,”
Andhara tersenyum mendengar ucapan sang Kakek, hanya sang kakek yang menjadi tempat keluh kesah Andhara di saat ia mengalami masalah.
__ADS_1
Besok adalah hari peringatan kematian dari Ibu, Ayah, Kakak, dan Nenek Andhara, jadi Kakek Yuda mengajak Andhara untuk bersiarah ke makan mereka.
Walapun hanya ingin bersiarah ke makam, tapi Andhara memutuskan untuk izin satu hari.
Sesuai dengan kebiasaannya dan Sang kakek, setiap peringatan kematian mereka berempat Andhara dan Kakek Yuda selalu menyempatkan diri untuk membagikan makan kepada yang membutuhkan.
Itu juga merupakan tanda syukur dan sebagai bantuan amal kepada keluarga yang telah meninggal, dengan harapan mereka tenang disana.
Keesokan harinya Andhara pe rgi bersiarah ke makan Keluarganya sebelum ke perusahaan, setelah beres dengan semuanya Andhara langsung menuju ke perusahaan sementara Kakek Yuda Kembali ke perusahaan keluarga mereka.
Saat sampai di kantor Andhara langsung menuju ke ruangannya, seperti biasa dia menjalankan tugasnya dengan baik. Sementara itu hubungan Kakek Yuda dan Ezra semakin baik.
Bahkan sekarang mereka berdua juga sering bertemu, kalaupun tidak bertemu, mereka akan berbicara melalui telpon. Entah untuk bertukar cerita atapun membahas mengenai perkembangan selanjutnya dari Andhara.
Ezra dan Kakek Yuda sudah merencanakan segalanya, akan kembalinya penguasa sesungguhnya dari AzFarah Grup.
Jika saat itu tiba maka pengincaran terhadap dirinya juga akan mulai muncul, pada saat yang bersamaan Andhara akan membutuhkan perlindungan yang ketat.
Beberapa hari ini kehidupan mereka berdua sangat tenang, karena gangguan dari Lyna pun telah tiada. Saat ini di pikiran Andhara adalah Anaya, Andhara berencana untuk mengadopsi Anaya.
Mengenai rencananya ini, Andhara pergi ke ruangan Ezra untuk mendiskusikannya. Kebetulan di sana Ezra dan Adnan hanya bersantai karena pekerjaan mereka sudah hampir selesai semuanya.
“Masuk!” kata Ezra.
Andhara pun masuk ke ruangan Ezra, Ezra dan Adnan pun sedikit terkejut dengan kedatangan Andhara.
“Apakah kau sibuk?” tanya Andhara.
“Tidak, kenapa?”
Ezra lalu berdiri dari tempat duduknya dan menuntun Andhara untuk duduk bersama di sofa yang berada di ruangan itu.
“Ada yang ingin ku beritahu dan mendengar tanggapan mu,”
“Katakan saja,”
__ADS_1
“Begini, aku berpikir untuk mengadopsi Anaya, bagaimana?”
Ezra dan Adnan sama sama terkejut mendengar keinginan Andhara yang ingin mengadopsi Anaya, tapi setau Ezra syarat utama dari proses pengadopsian adalah orang yang ingin melakukan Adopsi haruslah memiliki pasangan dengan kata yaitu pasangan suami istri.
“Tapi sayang kau tau kan persyaratan dari adopsi ini?”
Andhara hanya mengangguk, memang dalam adopsi ini Andhara sudah tau syaratnya, tapi Andhara sangat tidak ingin kehilangan Anaya. Ia sudah terlanjur sayang dengannya, apalagi sudah lama ia tidak mengunjungi anak itu.
Rasa rindunya pun semakin bertambah, karena kesibukan dan masalah yang datang bertubi-tubi membuatnya tidak pernah mengunjungi Anaya. Saat Andhara ingin berbicara, ponselnya tiba tiba berdiring.
Saat melihat ponselnya, Andhara mnegetahui bahwa yang menelponnya itu adalah ibu panti. Dengan segera Andhara mengangkat telponnya.
“Halo, ada apa bu?”
“Halo nak Andhara, kamu kenapa belum pernah kesini, Anaya sangat merindukan mu,”
“Maafkan Andhara bu, belakangan ini Andhara mengalami banyak masalah, oh ya bu bagaimana keadaan Anaya saat ini?”
“Keadaannya sangat tidak baik nak,” jawab Ibu panti.
“Apa yang terjadinya padanya bu?”
“Anaya sakit dan sekarang tubuhnya semakin panas saja, dia tidak mau di bawa ke rumah sakit, dia hanya ingin bertemu dengan mu,” jelas Ibu Panti.
Mendengar Anaya sakit, sangat membuat Andhara terpukul. Badannya lemas seketika, Andhara berulang kali menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Anaya.
Ezra yang tidak tau apa yang di dengar oleh Andhara, langsung merebut ponsel Andhara dan berbicara pada ibu panti.
Setelah mendengar bahwa Anaya sakit dan ia hanya ingin bertemu dengan Andhara, Ezra mengerti apa yang membuat Andhara sangat syok.
Ezra pun segera menenangkan Andhara, Andhara hanya bisa diam tak bersuara di dalam dekapan sang kekasih. Setelah Andhara sudah tenang, mereka bertiga memutuskan untuk ke panti menjenguk Anaya.
Di dalam perjalanan Andhara hanya diam, ia sangat khawatir dengan kondisi dari Anaya. Andhara tak berhenti menyalahkan dirinya, bahkan ia sudah mengingkari janjinya dengan Anak itu.
‘Jika saja aku masih menyempatkan untuk bertemu dengan Anaya di sela waktuu, mungkin dia tidak akan sakit seperti ini. Maafkan mama sayang, mama sudah mengingkari janji untuk tetap bertemu meski mama sibuk’
__ADS_1
Andhara hanya menghela napas Panjang, dan itu diketahui oleh Ezra. Tapi Ezra tidak ingin bertanya pada Andhara, karena Ezra tau saat ini Andhara tidak akan mendengar apa yang ia katakan.