
Setelah sambungan telpon terputus, Andhara pun bergegas untuk tidur. Keesokan harinya sesuai janjinya dengan Caroline, hari ini ia akan membawa calon adik iparnya itu untuk bertemu dengan anak angkatnya di panti.
Mereka berangkat jam 09.00 dan sesampainya di sana Andhara segera memperkenalkan Anaya dan Caroline. Caroline yang dasarnya juga sangat menyukai anak anak dengan cepat akrab dengan Anaya.
Seperti saat ini Caroline dan Anaya tengah bermain di taman, sedangkan Andhara dan Ezra lebih memilih untuk memperhatikan mereka dari teras rumah.
Tak jauh dari tempat mereka ada seseorang yang tengah mengawasi dari jauh.
Andhara yang peka terhadap sekitar pun menyadari kehadiran orang tersebut yang tak jauh dari mereka, Andhara memutuskan untuk memberitahu Ezra.
Dengan cepat Ezra menelpon beberapa anak buahnya untuk menangkap orang tersebut, tapi ternyata orang itu berhasil lolos.
Mereka berdua memberi tahu ibu panti tentang kedatangan orang misterius itu, sesuai dengan penuturan dari ibu panti, ornag tersebut sering datang dan memperhatikan gerak gerik di sana.
"Sudah hampir seminggu ini orang itu datang dan terus memperhatikan dari jauh, tapi ada yang aneh dengan orang itu,"
"Apa Bu?" tanya Andhara.
"Orang itu hanya mengamati gerak gerik dari Anaya," ucap Ibu panti.
Andhara pun menjadi khawatir dengan keselamatan Anaya, apalagi orang tersebut sudah berulang kali mendatangi panti.
"Pasti ada yang tidak beres," gumam Ezra.
"Mas bagaimana ini, aku khawatir dengan keselamatan nya Anaya mas,"
"Tenang sayang, mas punya cara untuk menangkap orang itu,"
Ezra pun merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, tampak ia sedang menghubungi seseorang.
Tak lama datanglah Adnan dan beberapa anak buahnya, Ezra segera memerintahkan anak buah Adnan untuk berjaga di sekitar tempat ini dan jangan sampai ada yang tau kehadiran mereka.
Ezra juga berpesan jika orang tersebut datang lagi agar segera menelpon nya, karena sudah sore mereka pun pamit pulang.
Benar saja dugaan dari Ezra, orang tersebut datang lagi sama seperti kemarin.
Ezra segera berangkat ke panti, di jalan ia mendapatkan kabar dari Adnan jika orang tersebut berhasil di tangkap oleh anak buahnya.
Ezra menyuruh nya untuk menyekap orang tersebut di ruang bawah tanah dan mengintrogasinya sambil menunggu ia datang.
Ezra terlebih dahulu ke panti untuk memastikan apakah keadaan di sana baik dan Anaya tidak kenapa napa.
Setelah memastikan semuanya baik, Ezra pun berangkat ke tempat penyekapan orang tersebut.
__ADS_1
Sesampainya di sana ia di beri tahu jika orang itu tidak ingin memberitahu siapa yang menyuruh nya, Ezra memerintahkan Adnan untuk mencari tahu siapa orang itu.
Kini giliran Ezra yang mengintrogasinya di dampingi oleh Adnan.
Ezra duduk di kursi yang berada tepat di depan orang tersebut, dengan muka yang sudah di penuhi dengan lebam dan bercak darah di sudut bibirnya.
Orang tersebut menatap Ezra sejenak kemudian menundukkan kembali kepalanya, melihat keadaan ornag tersebut Ezra menduga jika Adnan sudah kehilangan kesabaran saat mengintrogasinya tadi.
Ezra hanya duduk diam dan memperhatikan wajah dari orang itu, tak lama dari arah pintu datang anak buah dari Adnan dengan amplop coklat dan langsung menyerahkannya pada Adnan dan bergegas pergi dari sana.
Adnan memberikan amplop coklat tersebut kepada Ezra, saat di buka ternyata isi dari Amplop coklat itu adalah biodata dan kehidupan dari orang yang berada di depannya itu.
Ezra membaca dengan saksama biodata preman di depannya, di sana ia mengetahui jika orang ini mempunyai seorang anak perempuan.
Ia hanya mengurus anaknya seorang diri, karena sudah lama bercerai dengan istrinya.
Ezra juga mendapatkan foto dari anak orang tersebut, dan memperlihatkan kepada orang tersebut.
"Ternyata putri mu cantik juga tuan," ucap Ezra.
"Dari Mana kau dapat foto putri ku, KEMBALIKAN!!" teriak Pria itu.
"Sepertinya anak mu harus di sendiri, karena dia sudah tidak dapat bertemu dengan ayahnya,"
"Bagusnya kita apakan anaknya Adnan? Jual? atau Buang?" kata Ezra.
"Akan apa?" potong Ezra.
"Lepaskan putri ku, dia tidak bersalah."
"Kami tidak akan melakukan ini jika kau menuruti kami sebelumnya,"
"Baiklah, aku akan memberi tahu semua yang ingin kalian ketahui. tapi, dengan syarat lepaskan putriku,"
"Baiklah, beritahu kami semua yang kau tau!" titah Ezra.
"Saya adalah anak buah dari Toni, dia adalah orang suruhan dari seorang pengusaha pengusaha ternama. Saya di perintahkan untuk mengawasi setiap gerak gerik dari Anaya dan melaporkan kepadanya."
"Apa hanya itu?" tanya Ezra.
"Saya juga sempat mendengar jika mereka mengatakan akan membunuh Anaya, karena Anaya adalah satu satunya orang yang selamat dari kecelakaan yang ia rencanakan," ucap pria tersebut.
"Kecelakaan?"
__ADS_1
"Jangan jangan mereka terlibat kecelakaan beruntun itu Ez," tebak Adnan.
"Aku juga berpikir seperti itu, pasti ada sesuatu yang yang di perbuat oleh orang tua Anaya yang membuat penguasa tersebut merencanakan pembunuhan untuknya. Dan kebetulan Anaya selamat, jadi mereka sekarang mereka mengincarnya."
"Sepertinya masalah ini cukup rumit karena melibat kan seorang pengusaha ternama di kota ini,"
"Apakah kau tanya nama dari orang tersebut?" tanya Adnan.
"Tidak, aku hanya menguping pembicaraan mereka saat menelpon,"
"Kita harus secepatnya mencari tau siapa dalang di balik semua ini," kata Ezra.
"Baik aku akan menyelidiki semuanya,"
"Dan untuk mu, aku akan mengirim seseorang untuk mengantar mu pulang. Segera kemasi barang barang mu dan putri mu,"
"Kenapa aku jadi pindah?"
"Keamanan putri mu adalah yang paling penting saat ini, karena dengan kau yang menghilang dan penyelidikan nanti, akan sangat berbahaya. Jadi aku akan memindahkan kalian ke tempat yang lebih aman,"
"Baik, terima kasih atas kemurahan hati mu tuan,"
Ezra pun pergi meninggalkan tempat tersebut, tujuan Ezra saat ini adalah kembali ke perusahaan. Ia memutuskan untuk tidak menyembunyikan masalah ini dari Andhara, bagaimana pun ia berhak tau karena Anaya sudah menganggap Andhara sebagai Mama nya sendiri.
setelah tiba di kantor, Ezra pun menuju ke ruangannya. Saat masuk ia sudah melihat Andhara yang tengah duduk di sofa ruangannya.
Andhara yang tidak menyadari kehadiran Ezra, sebab ia sangat fokus pada dokumen yang sedang ia pelajari.
"Sayang, apakah kau mencari ku?" tanya Ezra.
Andhara pun sangat kaget mendengar suara Ezra, pasalnya ia tidak sadar jika seseorang memasuki ruangan itu.
Bahkan suara pintu terbuka pun ia tidak mendengarnya, Ezra pun masuk dan segera duduk di samping Andhara.
"Kau dari mana mas?"
"Aku tadi ada urusan di luar bentar, kenapa?"
"Tadi aku ke sini buat nanya sama kamu tentang proposal ini, tapi saat aku masuk kamu nggak ada. Jadi aku niatnya mau keluar, terus telpon ruangan kamu bunyi. jadi ya udah ku angkat aja,"
"Terus siapa yang telpon?" ucap Ezra.
"Yang nelpon itu ... "
__ADS_1
Halo reader, sambil nunggu up kalian bisa mampir ke novel ini.