
‘Sejak kapan Caroline ada di apartementnya Ezra, bukannya kemarin malam masih di rumah utama? Kenapa Ezra nggak bilang, kayaknya ada yang nggak beres di sini,’ gumam Adnan.
Adnan segera menyudahi teka tekinya, dan segera menuju ke ruaangan Ezra. Tak berselang lama Ezra juga sudah tiba di kantor, ia segera menuju ke ruangannya.
Saat sampai ia melihat Adnan yang juga sedang menunggunya, tanpa membuang waktu mereka segera bertemu dengan tamu yang sedang menunggu Ezra di ruang pertemuan.
Sementara itu Andhara pun juga telah sampai di lobi apartement Ezra, kemudian ia menuju ke lantai atas tempat apartement Ezra berada. Di dalam lift hanya ada dua orang, yaitu ia dan satu orang pria tak di kenal.
Awalnya Andhara hanya menganggap biasa pria tersebut, tapi lama kelamaan Andhara mulai risih dengan tingkah pria itu.
Sejak tadi pria tersebut selalu memandangnya, sampai saat pria itu keluar dari lift baru Andhara bisa bernapas lega.
Tak berapa lama ia juga tiba di lantai teratas, ia segera menekan kata sandi apartement Ezra dan masuk. Karena sudah diberi tahu oleh Ezra sebelumnya jika Caroline berada di kamarnya, Andhara mencoba untuk mengetuk pintu kamar Ezra.
“Siapa?”
“Ini aku Caroline,”
“Kak Andhara?”
“Iya, boleh kakak masuk?”
“Masuk saja kak, pintunya tidak di kunci,”
Saat masuk Andhara melihat Caroline yang sedang duduk bersandar di tampat tidur sambil memainkan ponselnya, Caroline yang melihat Andhara mendekat segera mengalihkan perhatiannya dari ponsel.
Andhara duduk tepat di samping Caroline, tanpa berucap Andhara segera memerikas suhu dahi dari Caroline.
Setelah yakin jika demam Caroline sudah membaik, ia pun beralih menatap mangkuk bubur yang sudah kosong.
Andhara sedikit lega saat melihat kondisi Caroline yang sudah lebih baik, karena saat Ezra memberi tahunya jika Caroline sakit, Andhara sedikit di landa panik.
Walaupun ia bukan kakak kandung dari Caroline tapi Andhara sudah menganggap Caroline sebagai adik kandungnya sendiri.
“Kakak kok bisa di sini?” tanya Caroline.
“Kakak tadi diberi tahu sama kakak mu kalau kamu lagi sakit dan sendiri di apart nya, jadi kakak ke sini nemenin kamu,”
“Aku jadi ngerepotin kakak ya, padqahal aku bisa sendiri kok di sini. Kak Ezra sampai minta untuk ke sini hanya untuk mengurus Caroline,”
“Kakak tidak merasa di repotkan sama sekali, malah kakak seneng nemenin kamu, itung itung kakak free dari berkas yang numpuk di atas meja kakak,” ucap Andhara bercanda.
Ternyata candaan darinya bisa membuat Caroline tersenyum, setelah candaan singkat dari Andhara mereka melanjutkan menceritakan keseharian mereka dan kesukaan mereka.
__ADS_1
Caroline banyak bercerita tentang kehidupan nya di luar negeri dan tentang beberapa pria yang menyukainya di sana.
“Pasti pria tersebut sakit hati kamu tolak,” canda Andhara.
“Habisnya dia bukan tipe Caroline kak,”
“Memangnya tipe kamu seperti apa?”
“Lee Min Hoo mungkin,”
“Kamu ada ada aja dek, mana ada Lee Min Hoo di sini,”
“Maka dari itu aku masih jomblo sekarang kak,”
Andhara hanya menggelengkan kepalanya mendengar candaan dari Caroline, Andhara melirik sejenak jam dinding yang berada di kamar itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, berarti mereka sudah bercerita selama hampir 3 jam lebih.
Andhara pun beranjak dari duduknya dan berniat keluar kamar untuk memasak makanan siang, karena kondisi Caroline sudah jauh lebih baik Andhara memutuskan untuk memasak makanan rumahan saja.
Karena jika ia memasak bubur maka Caroline pasti kesal, Andhara mulai memakai celemek dan menyinsingkan lengan bajunya sampai siku.
Andhara memulai memasak, tak butuh waktu lama semua hidangan sudah tertata rapi di atas meja.
“Wangi masakan kakak sampai ke kamar, Caroline jadi laper,”
“Duduklah dan makan, setelah itu minum obat,”
Caroline pun duduk di atas meja dan mulai menyantap makanan yang tersaji di meja makan, melihat Caroline sangat menikmati masakannya membuat Andhara sangat senang. Setidaknya masakannya sesuai dengan lidah Caroline.
Andhara pun mulai ikut makan bersama Caroline, selesai makan Andhara meminta Caroline untuk menunggunya di ruang tamu. Tapi Caroline tapi bersikeras untuk membantu Andhara membereskan semuanya.
Bel apartement tiba tiba berbunyi, Andhara yang masih sibuk dengan tumpukan piring tidak bisa melihat siapa yang datang.
Caroline menawarkan diri untuk melihat orang tersebut, setelah sampai di luar, di lihatnya Ezra yang baru masuk dan melepas jas kerjanya.
Caroline segera memeluk sang kakak, Ezra yang mendapat pelukan tiba tiba hampir tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Untung saja Ezra tidak jatuh atau lainnya, jika sampai itu terjadi maka bukan hanya dia yang akan terluka tapi juga sang adik.
“Lin, kamu mengagetkan kakak saja,”
“Hehehe,” Caroline hanya tertawa ringan.
__ADS_1
“Mana Istri kakak?” tanya Ezra sambil mengelus rambut panjang adiknya.
“Dih, belum sah kak, udah di klaim.”
“Biarin terserah kakak,”
“Lagi di dapur beresin piring,”
“Kamu tunggu aja di ruang tamu, nanti kita nyusul,” ucap Ezra di balas anggukan Caroline.
Ezra berjalan perlahan kea rah dapur, di lihatnya Andhara tenag fokus mencuci bekas memasak tadi.
Sementara itu Andhara yang merasa jika Caroline sangat lama, memutuskan untuk memanggil Caroline.
“Lin siapa yang dateng?” teriak Andhara.
Namun Andhara tak mendengar jawaban dari Caroline, karena khawatir ia pun membilas tangannya. Saat akan berbalik, tiba toba sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya, hal tersebut membuat Andhara sangat terkejut.
Tapi setelah mengenali pemilik aroma farfum itu, Andhara pun tersenyum tipis.
Kini ia tahu bahwa seseorang yang tengah memeluknya adalah Ezra, karena sudah tahu tamu yang datang jadi Andhara mengurungkan niatnya untuk melihat Caroline dan memilih melanjutkan pekerjaannya.
“Pertemuannya lama ya mas?” tanya Andhara.
“Mmm,” Ezra hanya mengangguk dengan dagu yang sudah berada di Pundak Andhara.
“Mas laper nggak, mau ku masakin apa?”
“Nggak perlu yang, aku tadi udah makan siang sama tamu ku,”
“Yaudah, lebih baik mas ganti baju dulu, abis itu kita ke runag tamu nemenin Caroline,”
Ezra hanya mengangguk tapi ia tidak melepaskan pelukannya dari Andhara, tingkah Ezra ini tentu saja membuat Andhara hanya bisa pasrah dan geleng geleng kepala. Ezra sangat manja padanya jika mereka hanya berdua saja.
Sikap Ezra yang kadang manja terhadapnya, membuat Andhara merasa jika kekasihnya itu sangat tidak cocok dengan muka imutnya.
Tapi tak bisa Andhara pungkiri jika ia lebih suka Ezra yang sekarang dan apa adanya, dibandingkan dengan Ezra yang dingin dan tak tersentuh.
“Yang kita kapan nikahnya?” tanya Ezra.
“Loh kok mas tanya sama aku, aku kan ikut mas aja,”
“Mas sih pengennya cepat nikah sama kamu, tapi … “
__ADS_1