
Andhara yang sudah selesai mencuci perkakas, lalu membilas bersih tangannya dan berbalik menatap Ezra.
Andhara menatap dalam mata sang kekasih, ia tau jika Ezra sangat ingin menikahinya begitu pun dengan dirinya.
Tapi ia juga harus mengerti dengan kondisi Ezra saat ini, Ezra berada di tengah tengah pilihan antara ia atau sang mama.
Antara menuruti keinginan sang mama untuk menikah dengan Leyna, atau memilih untuk tetap bersamanya dengan akibat ia akan terus bersitegang dengan mamanya sendiri.
Keadaan yang Ezra alami sangat sulit, di satu sisi ia sangat mencintai Andhara dan di sisi lain ada keinginan sang mama.
Andhara sudah sangat mengerti akan hal itu, ia pun tak bisa memaksakan keinginannya pada Ezra.
“Sudahlah mas, tidak usah dipikirkan. Aku mengerti dengan kondisi mu saat ini, akan ada waktunya cinta kita Bersatu dengan restu dari mama mas,” ucap Andhara lembut sambil membelai pelan wajah tampan sang kekasih.
Ezra hanya bisa memeluk Andhara Erat, hanya dengan ini Ezra membuktikan jika ia tidak akan berpaling darinya.
Ezra akan terus memperjuangkan cinta mereka, ezra yakin jika suatu saat Mamanya akan luluh dengan cinta mereka berdua.
"Aku berjanji pada mu akan memperjuangkan cinta kita berdua," ucap Ezra sambil menggenggam tangan Andhara.
Saat Ezra masih memeluk Andhara, ponsel Andhara pun berbunyi.
“Halo bu, ada apa?”
“Begini nak Andhara, Anaya dari tadi nanyain nak Andhara, kapan ke sini lai katanya,”
“Bilang sama Anaya, kalau besok Aku, Mas Ezra dan Aunty nya dateng,”
“Baik kalau begitu, ibu tutup telponnya dulu ya nak,”
“Iya bu,”
Andhara Kembali menyimpan ponselnya di saku nya, karena penasaran Ezra pun bertanya pada Andhara.
“Telpon dari siapa yang?”
“Dari ibu panti, katanya Anaya nanyain kapan ke sana lagi. Tersu aku bilang besok sekalian bawa Caroline, biar dia kenal sama Anaya. Boleh kan mas?”
“Boleh, nanti kita tanya sama Caroline saja. Mas ke atas dulu bersih bersih sekalian ganti baju, kamu duluan saja ke ruang tamu,” ucap Ezra kemudian mengecup singkat kening Andhara dan berlalu pergi.
Perlakuan yang ia terima dari Ezra membuat muka Andhara memerah karena malu, jantungnya juga berdegup kencang.
__ADS_1
“Kakak kenapa bengong di situ?” tanya Caroline.
“Astagfirullah Lin kamu ngagetin kakak aja,” ucap Andhara mengelus dadanya.
“Lagian salah kakak yang bengong, udah ah kak temenin Caroline yuk nonton di ruang tamu,” ajak Caroline.
Andhara pun hanya mengangguk mengiyakan, karena memang sejak awal ia berencana menemani Caroline di sana.
Tapi ini semua karena perlakuan manis Ezra, untung saja Caroline tidak melihat muka nya yang memerah.
Caroline dan Andhara pun pergi ke ruang tamu bersama, tak lupa juga Andhara membawa cemilan untuk dirinya dan Caroline.
Saat tengah asik menonton film kesukaan Caroline, dari arah belakang Ezra sudah datang menghampiri mereka dan duduk di sebelah Andhara.
Caroline yang menyadari kehsdiran sang kakak sempat menawarinya cemilannya, tapi Ezra menolaknya. Caroline pun melanjutkan menonton film kesukaannya.
“Lin kamu ada acara nggak besok?” tanya Ezra.
“Kayaknya nggak deh kak, kenapa?”
“Kamu mau nggak ikut kakak sama Andhara ke panti besok?”
“Ketemu sama anak angkatnya kakak sayang,” jawab Andhara.
Caroline langsung berdiri mendengar penuturan dari Andhara, reaksi dari Caroline juga membuat Ezra dan Andhara sedikit terkejut.
Mereka berdua sama sama menatap ke arah Caroline dan menunggu reaksi apa yang akan ia berikan.
“Bagaimana kamu mau?” tanya Andhara lagi karena Caroline dari tadi hanya diam.
“Jadi … jadi Caroline udah punya ponakan nih?”
“Iya sayang,” ucap Andhara.
“Caroline punya ponakan?” tanya Caroline lagi memastikan.
“Ya tuhan Lin, harus berapa kali sih kamu bertanya,” kesal Ezra.
“Hehe, maaf kak soalnya tuh ya aku seneng akhirnya ada teman main kalau gabut,”
“Caroline dari lama pengen punya adik, tapi mama nggak ngasih. Sekarang Caroline punya ponakan, yes yes yes,”
__ADS_1
Caroline yang kegirangan melompat lompat layaknya anak kecil, tingkah dari Caroline membuat sang kakak mengelengkan kepalanya sedangkan Andhara hanya tersenyum tipis.
Di kediaman Antares saat ini Liana sedang bersantai menunggu kepulangan sang putri, Liana selalu beranggapan jika putrinya itu tidak akan bisa meninggalkannya kecuali saat Caroline ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Tapi Liana sudah menunggu dari tadi, namun ia tak melihat Caroline datang atau mendapat telpon darinya.
Hal ini tentu membuatnya sangat kesal, Liana beranggapan jika otak putrinya itu telah di perngaruhi oleh Andhara.
Liana memutuskan untuk menelpo Ezra, ia menebak jika Caroline ada di tempatnya.
“Ezra, Caroline ada di sana kan, suruh dia pulang!” titah Liana.
“Caroline? Bukannya dia sudah di antar kan oleh Adnan kemarin malam setelah kami makan bersama?”
“Iya, tapi dia pergi dan mama tau dia pasti berada di rumah mu,”
“Dia tidak ada di rmh ku Ma, aku hanya sendiri di sini,”
“Kalian berdua sudah pandai ya berbohong sama Mama kalian sendiri, kemarin Adikmu sekarang kamu,”
“Maksud mama apa?”
“Adikmu bilang kalau dia habis makan malam dengan kamu dan Adnan, padahal dia pergi makan berdua bersama Wanita ****** itu, sekarang kamu bilang kalau adikmu tidak ada di sana, padahal dia ada di sana kan, tidak mungkin di pergi ke tempat orang lain selain kamu dan Adnan,”
“Ma kenapa mama jadi seperti ini, ucapan Caroline kemarin memang benar Aku, Adnan dan Caroline makan malam di restoran keluarga kita yang berada di dekat kantor. Jika mama masih tidak percaya, mama bisa suruh menajer di sana mengirim kan rekaman CCTV kemarin malam,”
“Dan untuk keberadaan Caroline, Ezra sudah bilang kalau dia tidak ada di sini. Jadi Ezra harus berbuat apa, memang tadi malam dia menelpon, tapi dia hanya bilang tidak akan berada di rumah utama selama beberapa hari, setelah itu dia tidak mengatakan apa apa lagi,”
“Jadi kau membiarkan adikmu sendirian?” kesal Liana.
“Caroline sudah besar jadi dia pasti bisa melindungi dirinya sendiri, jangan menyalahkan ku karena tidak menghawatirkan nya. Salahkan siapa yang tidak mepercayainya dan membuatnya pergi dari rumah. Sudahlah Ma aku masih banyak kerjaan.” Ucap Ezra.
Setelah telpon tertutup Liana segera menelpon manajer restoran yang Ezra maksdu tadi, ia segera menyuruhnya mengirimkan CCTV kemarin malam padanya.
Tak berapa lama rekaman tersebut sudah ia terima, saat Liana menonton rekaman tersebut ia sangat terkejut.
Ternyata benar yang di katakana oleh Caroline, dia pergi makan bersama kedua kakaknya. Tapi dia malah menuduh bahkan membentak anaknya sendiri, dan memberinya tuduhan palsu yang menyebabkan ia tidak tau keberadaan putrinya saat ini.
Untung saja Ezra sudah menyabotase rekaman CCTV yang berada di jalan menuju apartemen nya dan rekaman CCTV di restoran tersebut.
Jangan tanya bagaimana Ezra melakukan, yang jelas ia memang pintar dan cerdik karena sudah memperkirakan semuanya dengan tepat.
__ADS_1