Sekretaris Ku Candu Ku

Sekretaris Ku Candu Ku
63. Leyna Si Pelaku


__ADS_3

"Mama tidak perlu repot-repot dan terlalu fokus untuk mengurus ku, aku punya Mas Ezra,"


"Tidak apa-apa sayang, Mama tidak merasa direpotkan untuk mengurus mu, apalagi itu adalah cucu Mama sendiri. Ezra kan bekerja di kantor, jadi dia tidak bisa menemanimu 24 jam. Tidak seperti Mama, jadi Mama bisa menemanimu,"


"Loh aku kira Mama masih ambil bagian di Perusahaan,"


"Ngga sayang, sejak kamu tinggal di rumah Mama memutuskan untuk menjaga kalian saja, urusan perusahaan Mama serahkan pada Ezra dan Adnan,"


"Mas Ezra kan juga ngurus perusahaan ku Ma, pasti sibuk banget dia,"


"Ezra sudah terbiasa, dan pasti dia bisa menghendle semuanya,"


"Terima kasih Ma karena begitu perhatian kepada aku dan pada cucu Mama sendiri," ucap Andhara.


"Tidak perlu berterima kasih sayang, ini sudah menjadi tugas mama, anggap saja ini adalah tebusan dari Mama. Karena di masa lalu Mama pernah menyakiti hati kamu, ucap Liana.


"Mama tidak perlu memikirkan masa lalu, yang Berlalu biarlah berlalu. Kini kita bisa memulai hidup kita dengan tenang dan baik," ucap Andhara.


"Ezra memang tidak salah memilihmu, kau wanita yang berhati baik dan mulia serta mudah memaafkan seseorang," ucap Liana sambil mengelus kepala Andhara dengan lembut.


Sedangkan Caroline yang melihat pemandangan itu pun tersenyum senang, akhirnya sang kakak bisa hidup bahagia dengan wanita pilihannya sendiri.


***


"Lepaskan aku br*ngs*k!" teriak Leyna.


"Lepaskan!!"


Leyna masih terus saja berteriak untuk di lepaskan, saat ini dia berada di sebuah rumah kosong dengan di temani beberapa anak buah dari Adnan.


Leyna menatap di sekelilingnya dan mendapati 1 orang penjaga yang berada tepat didepan pintu untuk menjaganya.


"Hei kau!" tunjuk Leyna pada orang itu.


"Apakah kau tidak mendengar apa yang kubilang? lepaskan aku sekarang!" teriak Leyna.


Sedangkan pengawal tersebut hanya diam menatap sejenak ke arah Leyna, lalu berpaling ke arah lain dan tak menanggapi teriakan Leyna sama sekali.


Karena sudah lelah berteriak dan Leyna pun sudah kesal, karena tidak ada seorangpun yang meresponnya. Akhirnya ia hanya duduk pasrah disana.


Tak lama terdengar seseorang datang ke arahnya, Leyna pun dengan penasaran menatap kearah pintu menunggu siapa yang akan masuk.


Sesaat kemudian Leyna pun terpaku ketika melihat pria yang ia cintai datang ke sana, senyum mengambang di bibir Leyna.


Ezra datang dengan Adnan yang berada di belakangnya, Ezra memasang wajah datar saat memasuki ruangan tempat Leyna di sekap.


"Apakah dia menjadi penurut selama di sini?" tanya Adnan kepada pengawalnya yang menjaga Leyna.


"Tidak Pak, dari tadi dia terus berteriak meminta untuk dilepaskan, dan baru saja berhenti berteriak," ucapnya.


"Oh jadi kau masih belum menurut Nona Leyna, apakah kau tidak tahu kondisimu sekarang," ucap Adnan tajam sambil tersenyum tipis.


"Apa yang bisa kau lakukan padaku, kau itu cuma pengawal, jangan kau kira kau bisa semena-mena terhadap ku," kesal Leyna.


"Dasar perempuan ini, apakah kau tidak tahu kondisimu saat ini, beraninya kau berkata kasar kepadaku, disini semua orang menurutiku tidak ada yang berani membantah ku," ucap Adnan geram.

__ADS_1


"Ezra apakah kau akan diam saja melihat tangan kanan mi ini membentakku seperti itu," ucap Leyna.


Kini Leyna beralih menatap Ezra yang sedari tadi hanya diam menatap ke arahnya.


"Lalu apa yang harus kuperbuat," ucap Ezra dingin.


"Apakah kau tidak ingin memberi pelajaran kepada tangan kananmu ini, dia dengan seenaknya menangkapku. Aku tidak berbuat salah kepadanya, kenapa dia menangkap ku dan mengurungku disini seperti tahanan saja," kesal Leyna.


Adnan tersenyum sinis, "Oh iya Nona? Aku bukan orang yang menangkap seseorang tanpa sebab apapun. Apakah kau tidak tahu apa kesalahanmu?" tanya Adnan.


"Kesalahan? Kesalahan apa yang ku perbuat padamu?"


Adnan pun mulai jangeh dengan sikap Leyna yang seakan-akan tidak bersalah, "Sudahlah Nona Leyna, kau tidak perlu berkelit lagi, aku sudah tahu apa yang telah kau perbuat kepada Andhara,"


Mendengar nama Andhara seketika Leyna pun menjadi gugup.


"Aku ... aku ...,"


'sial apa mereka sudah tahu jika yang apa yang menimpa Andhara kemarin adalah ulahku, tidak mungkin dia tahu, aku sudah menghapus bersih semua petunjuk yang mungkin mengarah kepadaku, agar tidak ada seorang pun yang tahu jika itu adalah rencana aku, jadi bagaimana sebrengsek ini tahu!' gumam Leyna dalam hati.


Leyna memandang sejenak ke arah Ezra yang tengah memandangnya dengan tatapan tajam, tatapan itu pun membuat Leyna menjadi semakin gugup.


"Kenapa kau begitu gugup? bukankah kau tidak melakukan kesalahan apapun? Kenapa kau segugup itu," sindir Adnan.


"Aku tidak gugup sama sekali," elak Leyna.


"Lalu kenapa kau berkeringat?" tanya Adnan lagi.


"Ini ... Ini karena ruangan ini sangat panas, ya panas," ucap Leyna sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.


"Aku tidak menyembunyikan apa pun,"


"Kenapa setelah mendengar nama Andhara kau menjadi sangat gelisah,"


"Apakah insiden yang menimpa Nyonya Muda kami berhubungan dengan mu?" lanjut Adnan.


"Itu tidak ada hubungannya denganku,"


"Akui saja Nona, mungkin itu akan lebih meringankan hukuman mu,"


"Untuk apa aku harus mengaku pada kesalahan yang tidak ku perbuat,"


Leyna masih saja tetap bersikukuh jika dia bukan pelaku dari insiden Bubuk Penggugur Kandungan tersebut, tapi Adnan masih tidak kehilangan akal untuk membuat Leyna mengaku.


"Hanya ada satu cara agar kau bisa terbebas dari sini," kata Adnan.


"Apa?" tanya Leyna.


"Akui jika kau adalah dalang dari insiden tersebut!"


"Tidak! aku tidak melakukan kesalahan apapun dan soal Andhara yang diracuni oleh bubuk penggugur kandungan aku pun tidak tahu dan aku tidak terlibat dalam hal itu," ucap Leyna cepat.


Mendengar ucapan Leyna, Adnan pun tersenyum tipis. Akhirnya pancingannya berhasil, "Kau sangat hebat Nona, aku tadi tidak menyebutkan apa yang menjadi perkara yang menimpa Andhara dan kau bisa langsung mengetahuinya. Wah kau sungguh hebat," ucap Adnan seraya bertepuk tangan.


Leyna yang menyadari jika dia sudah salah bicara pun langsung menutup mulutnya,

__ADS_1


"Dasar Adnan sialan, beraninya dia menjebak ku dalam permainan katanya," gumam Leyna.


Leyna pun merutuki kebodohannya karena berhasil terpancing oleh ucapan Adnan, mendengar perkataan tersebut Ezra pun semakin geram, ia mengepalkan tangannya kedua tangannya dengan erat untuk menahan emosinya agar tidak berbuat yang buruk terhadap Leyna.


Karena bagaimanapun Leyna adalah seorang wanita, tidak mungkin ia memukul wanita.


"Jadi kau orang yang berani memberikan bubuk penggugur kandungan kepada istriku Leyna, apakah kau sudah gila," teriak Ezra.


...Bersambung...


mampir ke sini yuk guys



CUPLIKAN:


Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.


"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.


"Sudah," jawab Luna singkat.


"Ayo kuantar pulang!"


Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.


Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.


"Terima kasih, Luna."


Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.


'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.


"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."


****


Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.


Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.


CLUP


Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.


"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.


"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.


Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.


"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."


Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.


__ADS_2