
Tak berapa lama pesanan mereka pun akhirnya datang, meja makan mereka kini dipenuhi dengan makanan. Tentunya di dominasi oleh makanan pesanan Caroline, mereka bertiga pun makan dengan tenang.
Di sela sela makan, Ezra melihat masih ada sisa makanan di sudut bibir Andhara. Ezra pun menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Andhara, Andhara yang di tatap pun menjadi bingung.
“Kenapa Mas?” tanya Andhara.
Namun Ezra tak menjawab melainkan terus mendekat ke arah Andhara, Andhara pun mnejadi sangat grogi dengan situasi ini.
Andhara yang gugup berusaha menetralkan jantungnya, dan mencoba untuk memundurkan tubuhnya.
Tapi seketika di tahan oleh Ezra, Ezra yang semakin dekat dengannya membuat Andhara menjadi salah tingkah.
Kemudian tangan Ezra terulur untuk membersihkan sisa krim di sudut bibir Andhara, kemudian memakan sisa krim itu.
“Ih mas jorok tau,”
“Kan bekas kamu sendiri yang,”
“Mas malu diliatin orang,”
Ezra pun menatap sekalilingnya dan benar saja apa yang dikatakan oleh Andhara, saat ini mereka berdua tengah menjadi pusat perhatian. Ezra hanya bisa tertawa ringan.
“Kak bisa nggak sih jangan mesra mesraan di depan aku,” kesal Caroline.
“Terserah kakak dong, makanya cari pacar sana!” ejek Ezra.
“Kak Andhara,”
“Apa, kak Andhara punya kakak. Jadi dia pasti ngebelain kakak,”
“Sudah kalian berdua ini, makanlah makanan kalian setelah itu kita pulang,”
Mereka pun akhirnya melanjutkan makan siang mereka, setelah selesai makan mereka bertiga memutuskan untuk pulang ke apartemen.
Tak butuh waktu lama mereka sudah tiba di apartemen, dan segera menuju lantai apartemen Ezra.
Saat pintu sudah terbuka Caroline langsung masuk dan merebahkan dirinya di sofa, sementara Andhara hanya geleng geleng kepala dan berlalu meninggalkan Caroline dan Ezra yang juga ikut duduk di samping adiknya.
Andhara masuk ke dapur membuat minuman untuk dirinya, Ezra dan juga Caroline.
Tak lama Andhara datang dengan senampan berisi minuman dan cemilan, ia kemudian meletakkan nampan tersebut di atas meja.
Dengan segera Caroline pun meminumannya, dia meminum dengan sekali teguk.
“Kenapa kau sangat rakus, barusan tadi kita makan di restoran dan kau sudah meneguk habis meminum dalam sekali teguk,” omel Ezra.
“Biarkan saja, aku haus,” ucap Caroline.
“Tuh cemilannya juga di makan sayang,” kata Andhara pada Caroline.
__ADS_1
Caroline pun hanya mengangguk dan langsung memakan cemilan yang di bawakan oleh Andhara.
“Aku nggak di tawarin gitu yang?”
“Langsung makan aja sih kak, gitu amat susah,” bukannya Andhara yang menjawab melainkan Caroline.
“Diam kau anak kecil,”
“Dasar orang tua,” gumam Caroline.
Ezra pun yang masih mendengar gumaman dari Caroline, berbalik dan menatap tajam sang adik.
Caroline yang di tatap tajam oleh sang kakak hanya bisa mengalihkan pandangannya dan Kembali fokus untuk memakan cemilannya.
Tak terasa hari sudah sore, Andhara pun pamit untuk pulang.
“Mas aku pamit pulang dulu ya, udah sore nggak ada yang nemenin kakek di rumah,” kata Andhara.
“Yaudah aku anter ya,” tawar Ezra.
“Nggak usah mas, aku bisa sendiri, nggak baik kalau kamu ninggalin Caroline sendiri di apartemen,”
“Tapi aku juga khawatir sama kamu,”
“Kakak pergi aja nganterin Kak Andhara aku nggak papa kok di sini sendiri, lagian kan apartemen kakak aman dan udah ganti sandi,” ucap Caroline.
Ezra tidak bisa berbuat apa apa, karena Andhara sudah bersikeras ia tidak bisa berbuat apa apa. Setelah kepergian Andhara, Ezra masih saja khawatir dengannya.
Caroline yang melihat kekhawatiran sang kakak, menyuruhnya untuk menyusul Calon kakak iparnya itu.
Ezra sempat bingung harus bagaimana, ia tak mungkin meninggalkan adiknya sendirian di apartemen. Tapi ia juga sangat khawatir dengan keadaan dari Andhara.
“Kakak pergi saja aku tidak akan ke mana mana,” ucap Caroline.
“Tapi kakak takut kalau sampai ada orang yang mau menerobos masuk ke sini Lin,”
“Bagaimana kalau kamu di luka in sama orang itu, kamu kan cewek Lin,” khawatir Ezra.
“Kak, percaya deh sama Caroline. Kalau ada apa apa nanti Caroline langsung telpon kakak deh,”
“Bener ya langsung nelpon kakak, jangan sampai nggak nelpon loh,”
“Iya kak Caroline janji,”
Setelah mendengar penuturan sang adik, Ezra pun bergegas ke kamarnya dan mengambil jaketnya lalu pergi.
Sebelum benar-benar pergi Ezra mengingatkan sekali lagi pada adiknya untuk tetap berhati hati.
“Kalau ada yang ketok pintu, liat dulu jangan langsung di buka,” ucap Ezra.
__ADS_1
“Iya kak,”
“Yaudah kakak pergi ya, kakak usahakan pulang secepatnya,”
Ezra telah sampai di lobi Apartemen, ia segera mengeluarkan mobilnya dan menyusul Andhara. Lokasi Andhara sudah berada di setengah jalan antara Apartemen nya dan rumah keluarga Auriga.
Ezra segera memacu kecepatan mobilnya, saat ia melihat jika lokasi Andhara saat ini tidak bergerak dengan kata lain Andhara berhenti di suatu tempat dan kemungkinan yang dapat di pikirkan Ezra adalah jika kekasihnya itu sedang dalam masalah.
Sementara itu Andhara tengah di berhentikan oleh beberapa orang di tengah jalan, sebenarnya sejak keluar dari Apartemen Ezra ia sudah merasakan di ikuti oleh seseorang.
Karena menganggap itu hanya orang iseng, jadi Andhara tidak terlalu memperdulikannya. Ia tak menyangka jika orang tersebut benar benar mengincarnya, di jalan ia sudah berusaha untuk menyuruh sopir taksi mempercepat laju kendaraannya, tapi tetap saja mereka masih bisa mengejarnya.
Bahkan mereka sekarang mencegatnya dari depan, Andhara tak tau harus bagaimana. Keadaannya saat ini sangat berbahaya.
Apalagi penjahat tersebut membawa pistol dan alat tajam lainnya, sedangkan Andhara tidak pandai melawan orang yang bersenjata, ia hanya tau beladiri. tapi itu pun juga membuat nya berpikir jika ia tidak dapat mengalahkan mereka semua dan hal tersebut membuatnya sangat takut.
Karena dengan senjata mereka, ia bisa saja di tembak sewaktu-waktu.
Ia bisa saja menelpon Ezra sekarang, tapi ia juga khawatir jika Caroline di tinggal sendirian di apartemen.
“Hai keluar kau,” teriak seseorang sambil menggedor keras kaca mobil.
Andhara pun sangat kaget dan ketakutan, apalagi mereka berada di jalan yang sepi. Tak seorang pun lewat, bahkan mobil pun tidak ada.
“Cepat buka, kalau tidak kau akan menanggung akibatnya,”
Kepanikan Andhara bertambah saat sopir taksi sudah di seret keluar dari mobil, ia bisa melihat jika sang sopir sudah di pukuli habis habisan oleh ke empat orang itu.
Andhara dengan cepat mengunci semua pintu mobil taksi tersebut, hanya bisa berharap jika seseorang lewat dan menyelamatkannya.
Namun ternyata perkiraan Andhara salah, karena kini orang tersebut membawa palu besi untuk menghancurkan kaca mobil itu.
Dalam hitungan detik, mereka sukses membobol kaca mobil itu. Mereka pun membuka paksa pintu mobil dan menarik keluar Andhara, Andhara sempat memberikan perlawanan tapi kekuatannya kalah besar.
“K-kalian mau apa?”
“Cukup cantik juga, bagaimana kalau kau bermain bersama kami nona,”
“Jangan harap,”
“Kami yakin bisa memuaskanmu nona,”
“A-aku sudah punya pacar,” gugup Andhara.
Perlahan ke empat orang tersebut mulai mendeati Andhara dan berusaha untuk menyentuhnya.
mampir'yuk ke novel teman Author
__ADS_1