
“Enggak Mama ku sayang,”
“Terus kuliah kamu di sana bagaimana?”
“Tadi kau udah bicara sama Kak Ezra dan Kak Adnan, mereka akan urus surat pindah ku ke kampus keluarga kita Ma,” ucap Caroline.
“Kamu ke perusahaan dulu?”
“Iya ma, kangen sama Kakak,”
“Terus kok pulangnya cepet banget,”
“Caroline nggak mau gangguin Kak Ezra ma, kerjaannya tuh banyak banget. Berkas di atas mejanya aja udah numpuk untuk di tanda tanganin,”
“Baiklah, kau sekarang ke kamar saja Mama akan suruh bibir menyiapkan makanan untukmu,”
“Tidak usah Ma, tadi Caroline udah makan di kantor sama kakak dan kak Andhara juga,”
Mendengar nama Andhara di sebut oleh putrinya, seketika wajah Liana berubah menjadi wajah tak suka.
Caroline sudah menebak reaksi yang diberikan oleh sang Mama, nampaknya yang di ucapkan kakaknya benar, mama mereka sudah termakan hasutan dari Leyna.
Setelah berbincang sejenak bersama sang Mama, Caroline pun menuju ke kamarnya. Saat masuk di dalam ditatapnya kamar yang sudah ia tinggalkan bertahun tahun.
Semua benda dan boneka kesayangannya masih tertata rapi dan berada di tempatnya masing-masing.
Caroline memutuskan untuk membersihkan dirinya, setelah beberapa menit kemudian Caroline telah selesai membersihkan diri.
Caroline merebahkan tubuhnya di atas Kasur, sejenak Caroline memikirkan ucapan yang di katakana Liana tadi.
“Kenapa bisa kau kenal dengan Sekretaris kakakmu?” tanya Liana.
“Saat aku ke perusahaan, Kak Andhara, Kak Ezra dan Kak Adnan sedang berdiskusi tentang masalah proyek baru. Itu juga termasuk aku menganggu mereka, jadi setelah makan dan berbicara sebentar dengan kakak, aku pamit pulang,” jelas Caroline.
“Caroline jangan panggil sekretaris itu dengan sebutan kakak, dia bukan kakak mu. Kakak mu hanyalah Adnan dan Ezra, tidak ada lagi.”
“Kenapa sepertinya mama sangat membencinya, padahal sekretaris Kak Ezra sangat baik, lembut dan perhatian.” Heran Caroline.
“Dia itu perempuan licik sayang, berhati busuk. Kau tau dia sengaja menggoda kakak mu dan menghasutnya agar tidak menerima perjodohan yang sudah Mama rencanakan untuk Kakak mu,” kesal Liana.
__ADS_1
“Aku setuju saja jika kakak bersama dengannya, dan masalah perjodohan itu mungkin jika itu aku, aku pun juga tidak akan menerimanya,”
“CAROLINE!! Berani sekali kamu, apakah kau juga telah dihasut oleh perempuan licik itu seperti kakak mu?”
“Ma kenapa mama jadi seperti ini, biarkan kakak menemukan kebahagiaannya sendiri,”
“Pilihan mama adalah yang terbaik untuknya,”
“Ma, apakah Mama masih harus mengatur kakak? Sudah cukup Kakak selalu mengorbankan dirinya demi keluarga, dia sampai merelakan masa mudanya untuk menjadi penerus perusahaan, juga melindungi ku dan mama, apakah itu belum cukup?”
“Itu memang sudah menjadi tugasnya, sejak ayah kalian meninggal Ezra sudah menjadi kepala keluarga ini,”
“Aku tau ma, jadi setelah penderitaan yang dialami kakak, apakah ia tidak bisa memilih pilihannya sendiri?”
“Dan asal Mama tau, pilihan Mama itu tidak sebaik dari yang Mama kira,” ucap Caroline dan berlalu meninggalkan Liana di ruang tamu.
Caroline benar benar dibuat sangat heran dengan Mamanya, ia harus memutar otak agar prasangka buruk Mamanya terhadap Andhara berubah.
Ia tidak mau Kakaknya menderita lagi dengan kemauan dari Mamanya, sudah saatnya bagi Kakaknya itu Bahagia.
Karena merasa sangat lelah akhirnya Caroline memutuskan untuk tidur sejenak, sampai tak terasa hari sudah sore saatnya bagi Ezra pulang ke rumah Utama. Sebenarnya Ezra tidak ingin pulang ke rumah utama, apalagi ia harus berhadapan dengan Sang Mama.
Tapi ia juga tidak bisa menolak ajakan dari sang adik, apalagi adiknya baru pulang setelah beberapa tahun di luar negeri. Setelah pulang dari rumah Andhara, Ezra segera bergegas menuju kediaman Antares.
“Waalaikumsalam,” jawab Caroline yang sudah berlari dari lantai 2 kamarnya setelah mendengar suara sang kakak.
Ezra yang melihat tingkah Caroline menjadi sangat khawatir, “Lin hati hati, jangan berlari saat menuruni tangga, kau bisa terjatuh nanti,” tegur Ezra.
Caroline tak memedulikan teguran sang kakak, ia tetap berlari mendekat ke arah Ezra dan langsung memeluknya erat.
Walaupun mereka terkadang bertengkar saat bertemu, tapi Ezra dan Caroline saling menyayangi, terutama Ezra yang sangat melindungi sang adik dengan sekuat tenaga.
“Kak, kangen!” ucap Caroline manja.
“Loh tadi kan sudah ketemu di perusahaan, kangen lagi?”
“Iya, kangen lagi, hehehe,”
Ezra hanya mengelus lembut rambut Panjang milik sang adik, caroline yang sudah memasuki semester 4 itu masih saja bertingkah manja dengan dirinya, sama seperti waktu kecil.
__ADS_1
Tapi Ezra tidak keberatan dengan hal itu, siapa lagi yang akan manja padanya jika bukan sang adik.
“Kenapa kalian malah berpelukan di sana? Kita masuk dan segera makan,” ajak Liana yang baru keluar.
Caroline dan Ezra segera mengangguk dan mengikuti sang Mama ke meja makan, sesampainya di sana Caroline tidak segera makan, karena ada yan mengganjal di pikirannya.
“Kak Ezra, kok Kak Adnan nggak dateng sama kakak sih,”
“Adnan katanya ada urusan yang mendesak, jadi ia tak ikut ke sini.” Jawab Ezra.
“Yah, padahal aku pengen kumpul bareng,”
Caroline kecewa karena Adnan tidak datang bersama Ezra, melihat raut wajah kecewa dari sang adik. Ezra segera menghibur sang adik.
“Tenang saja Lin, Adnan bilang padaku ia akan menebus malam ini dengan mengajakmu makan bersama nanti,” kata Ezra.
“Benarkah, hanya aku dan kak Adnan?”
“Tentu saja aku ikut, sangat jarang Adnan mentraktir makan. Jadi aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini,”
“Ya sudah tak apa, yang penting kita makan bersama,”
Setelah perbincangan singkat mereka, akhirnya mereka bertiga bisa makan dengan tenang. Suasana di meja makan hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.
Selesai makan mereka bertiga menuju ke ruang tamu untuk berbincang santai sebentar, awalnya Ezra dan Caroline berbicara baik baik saja.
Tapi suasana seketika berubah setelah Liana yang angkat bicara.
“Ezra, kenapa Leyna tidak pernah berkunjung kemarin? Apakah kau bertengkar dengannya lagi?” tanya Liana.
“Dia datang kesini atau tidak itu bukan urusan ku,”
Ezra mulai memperlihatkan wajah dinginnya setelah mamanya menyinggung masalah Leyna, Ezra sangat tidak suka dengan gadis licik itu.
Apalagi setelah semua yang terjadi, Ezra semakin merasa jijik walaupun hanya nama Leyna yang disebut.
“Kenapa kau sangat cuek dengannya Ez, dia itu calon istrimu loh,”
“CUKUP!! Aku tidak ingin mendengar Mama mengungkit perempuan licik itu di hadapan ku, jika mama masih mengungkitnya dengan ku, jangan harap aku akan Kembali ke rumah ini,” ucap Ezra dengan nada Marah.
__ADS_1
Baru kali ini Ezra membesarkan nada bicaranya dengan sang Mama, tapi kesabarannya sudah benar benar habis.
Maaf ya baru Up lagi, jangan lupa tinggalkan jejak ya!