
Sedangkan kini di lantai dasar, tepatnya di dapur. Ezra dan Liana sudah mulai membuatkan Telur Gulung Sosis permintaan Andhara.
Di sela sela aktifitas mereka, Liana pun memulai pembicaraan mereka.
"Ternyata Anak kamu memang memiliki selera persis sama bapaknya, nggak beda jauh," ucap Liana.
"Ya iyalah kayak aku Ma, masa kayak tetangga sebelah," ucap Ezra
"Ya sama, tapi semoga saja tidak menyusahkan seperti kamu dulu," canda Liana.
"Memang dari mananya Mama yakin kalau anak aku punya selera sama kayak aku?" tanya Ezra
"Kami tuh waktu kecil suka banget makan Telur Gulung Sosis buatan Mama, sampai sampai kamu rebutan sama Adek kamu,"
"Waktu mama hamil kamu, mama juga suka banget sama Telur Gulung Sosis buatan Mertua mama. Nggak nyangka keterusan sampai Anak kamu, hehehe,"
Setelah selesai membuat Telur Gulung Sosis pesanan Andhara, Liana pun menyuruh Ezra untuk memanggil Andhara makan.
Sementara Ezra yang naik ke kamarnya untuk membangunkan Andhara, Liana juga sudah mulai menata makanan di atas meja.
Saat sampai di kamarnya, Ezra melihat Andhara yang sudah tertidur pulas. Dengan perlahan Ezra menghampiri Andhara dan duduk di sampingnya.
"Pules banget sih tidurnya yang, tadi yang minta di masakin telur gulung kamu. Sekarang malah tidur," ucap Ezra.
Andhara pun sedikit menggeliat, mungkin terusik dengan kehadiran dari Ezra.
Ezra mengusap pelan rambut Andhara, bermaksud untuk membangunnya. Sebenarnya ia tak tega jika membangun kan istrinya, tapi jika tidak di bangun kan ia takut Andhara akan marah padanya karena tidak dapat memakan Telur Gulung Sosis buatan sang Mama.
Merasakan ada yang menyentuh kepalanya, dengan perlahan Andhara membuka matanya.
Dia melihat sang suami berada tepat di sampingnya dan menampilkan senyum khasnya. Andhara bangun lalu duduk bersandar di tempat tidur.
"Aku ketiduran ya mas?" tanya Andhara.
"Iya sayang,"
"Gimana Telur Gulung aku udah jadi?"
"Udah, lagi disiapin sama Mama di bawah,"
"Loh kok nggak di bantuin Mas,"
__ADS_1
"Kan mas tugasnya bangunin kamu,"
"Yaudah ayok ke bawah, Aku udah nggak sabar makan Telur Gulung buatan Mama," ucap Andhara bersemangat.
Ezra dan Andhara pun turun bersama, dari tangga Andhara dapat mencium bau masakan sang mertua. Dengan senang ia menarik tangan Ezra dan berlari kecil menuju ke meja makan.
"Sayang pelan pelan, makanannya nggak akan ke mana mana," tegur Ezra.
"Hehehe, maaf mas,"
Sesampainya di meja makan, Andhara langsung memakan Telur Gulung yang sudah ia tunggu dari tadi. Ezra mencoba menawarkan makanan kepada Andhara, tapi Andhara malah mual di buatnya.
Akhirnya sang Mama menyuruh Ezra untuk berhenti saja, tidak ada gunanya jika memang Andhara tidak bisa memakannya.
"Tapi Andhara juga harus makan nasi ma," kata Ezra.
"Mama tau sayang, tapi sekarang istrimu tidak bisa memakan makanan itu,"
"Jadi bagaimana Ma, bisa berbahaya jika ini berlanjut lama," khawatir Ezra.
"Tenang saja sayang, memang wanita hamil begitu. Dia akan memakan apa yang menurutnya lezat dan akan membiarkan makanan yang membuatnya mual. Kau tidak perlu khawatir tentang itu," jelas Liana.
"Baiklah ma,"
Hanya Liana dan Andhara yang makan, sedangkan Ezra sudah kenyang setelah menghabiskan bakso Andhara tadi.
***
Di tempat lain, Leyna yang masih belum merelakan Ezra memukul meja setelah mendengar kalau Andhara hamil. Entah siapa yang memberi tahunya tentang kabar ini, yang pasti dia belum menerima kenyataan akibat ulahnya sendiri.
"Andhara, kamu benar benar telah merebutnya dariku, lihat saja akan ku buat Ezra kembali bertekuk lutut kepadaku dan meninggalkan kamu dengan anakmu itu." Ucap Leyna sambil membaca pesan dihpnya dari seseorang.
Keesokan harinya, Ezra dan Andhara sedang menghadiri acara rekan bisnisnya.
Acaranya sangat ramai, banyak dari kalangan pebisnis yang turut meramaikan Acara tersebut.
Acara ini diselenggarakan oleh salah satu pengusaha sukses di kota tersebut, pertunangan putrinya dengan seorang pria dari kalangan yang sama.
Saat Ezra tengah asik mengobrol dengan rekan bisnisnya, Andhara izin untuk ke toilet sebentar. Awalanya Ezra ingin menemaninya, tapi di larang oleh Andhara.
Bukan Andhara tidak ingin di temani, tapi ia tidak enak dengan rekan bisnis Ezra yang lainnya. lagi pula ia tak akan lama di toilet.
__ADS_1
Tanpa Andhara sadari, ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Orang tersebut secara diam-diam mengikutinya dari belakang, saat Andhara masuk ke toilet, orang tersebut juga ikut masuk.
Andhara yang tak menyadari kehadiran orang tersebut, masih sibuk dengan aktivitasnya. Orang yang mengikuti Andhara adalah seorang pelayan yang bekerja di rumah ini.
Tampak ia meraba kantong bajunya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah bubuk putih, yang tidak di ketahui isinya, bahkan dia sendiri tidak mengetahui nya.
Pelayan tersebut memasukkan bubuk tersebut ke dalam sebuah minuman yang sudah ia siapkan, setelah tercampur ia berjalan perlahan mendekati Andhara.
Dengan cepat ia mengunci pergerakan Andhara, dan berhasil memaksanya untuk meminum minuman tersebut.
Saat sudah yakin jika Andhara sudah meminum minuman tersebut, ia segera keluar dari sana.
Andhara yang kaget, merasa kejadian tadi sangat cepat baginya. Ia mengusap sisa minuman yang tumpah di wajahnya.
Dalam hati Andhara bertanya tanya, minuman apa yang di berikan oleh orang tadi. Dan kenapa harus dengan cara seperti tadi untuk membuatnya meminum minuman tersebut.
Namun karena tidak ada sesuatu yang aneh terjadi padanya, Andhara memutuskan untuk tak menghiraukan kejadian tadi.
Ia menganggap jika orang tersebut hanya iseng dan menjahilinya saja, dengan cepat Andhara menyelesaikan aktivitas nya dan keluar dari sana.
Sedangkan di luar, nampak Ezra yang sangat panik mencari keberadaan istirnya. Pasalnya sudah lama istrinya itu pergi, tapi gak kunjung datang juga.
Andhara bertemu dengan Ezra saat keluar dari toilet wanita, Andhara yang bingung melihat wajah panik suaminya pun memutuskan untuk bertanya.
"Mas kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Andhara setelah bertemu dengan Ezra.
Ezra yang melihat Andhara sudah berdiri di depannya, segera memeluk Andhara dengan erat.
Tentu tindakan dari Ezra ini sukses menambah kebingungan dari Andhara, tanpa mengucapkan sepatah katapun Andhara hanya membalas pelukan Ezra.
Setelah pelukan tersebut lepas, Andhara kembali bertanya pada suaminya itu.
"Mas apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu sangat panik?" tanya Andhara lagi.
"Aku panik karena dirimu," jawab Ezra.
"Aku? Memangnya aku kenapa Mas?" bingung Andhara.
"Perasaanku tidak enak sejak kau meminta izin untuk ke toilet, terlebih lagi kau sangat lama di sana. Jadi kuputuskan untuk mencari mu, aku hanya takut terjadi sesuatu padamu sayang," jelas Ezra.
***Okeh Udah selesai nih satu bab nya, tunggu bab selanjutnya ya!
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel ini juga***.