
Andhara tersenyum mendengar penuturan Adik dari sang kekasih yang kini sudah menjadi calon suaminya, “Terimakasih sayang sudah merestui hubungan kakak dengan kakak mu,” ucap Andhara.
“Iya kak, aku pun akan sangat menantikan waktu dimana kakak bisa menjadi bagian dari keluarga Antares,”
“Terima kasih Lin, sekarang kau pulanglah bersama Adnan, bukannya besok adalah hari pertamamu di kampus,” ucap Ezra yang di angguki oleh Caroline.
Setelah Caroline pergi kini Ezra dan Andhara bisa menikmati makanan yang tersedia, di atas meja mereka penuh dengan makanan favorit dari Andhara.
Andhara tersenyum melihat keromantisan dari Ezra, bahkan ia juga menyiapkan semua makanan kesukaannya.
Mereka berdua makan dengan nikmat sambil melihat pemandangan di langit, langit malam ini sangat indah karena bertaburkan dengan bintang.
Ezra makan sambil memegang tangan dari Andhara, itu membuat Andhara menoleh dan tersenyum ke arahnya.
Selesai makan malam Ezra mengajak Andhara untuk pergi ke suatu tempat, awalnya Andhara bertanya mereka akan kemana, tapi Ezra tidak ingin memberitahunya.
“Apakah kita akan pergi jauh?” tanya Andhara.
“Tidak sayang, sebentar lagi kita akan sampai,” jawab Ezra.
Setelah mendapat jawaban Andhara memilih untuk diam, hanya butuh beberapa mereka telah sampai ke tempat yang Ezra katakan.
Saat Andhara turun dari mobil, ia melihat sebuah pemandangan yang tak kalah indah dari sebelumnya.
Ya, saat ini mereka berada di sebuh danau buatan, namun terkesan alami. Alasan Ezra mengajak Andhara ke sini karena tempat ini merupakan tempat yang akan ia kunjungi jika sedang dalam masalah.
Ezra hanya ingin Andhara tau, jika suatu saat ia sedang berada dalam masalah. Atau pikirannya sedang kacau, Andhara akan tau di mana mencarinya.
“Kau sering ke sini Mas?” tanya Andhara.
“Iya, hampir setiap hari.”
“Kenapa ke sini?”
“Karena danau ini sangat tenang, jika aku sedang banyak masalah atau pikiran, aku akan ke sini.”
“Kenapa mengajakku ke sini?”
Ezra tidak segera menjawab pertanyaan dari Andhara, melainkan ia meraih Pundak Andhara lalu membuatnya menatap ke arahnya. Sejenak Ezra menatap dalam mata indah milik Andhara.
__ADS_1
“Aku ingin kau tau, di mana akan mencari ku jika suatu saat aku dalam masalah. Tempat ini hanya kita berdua yang tau,” ucap Ezra lalu memeluk Andhara.
Andhara pun membalas pelukan Ezra, setelah tau tempat ini. Andhara bertekad akan selalu berada di samping Ezra, mereka akan menghadapi segala sesuatunya bersama. Andhara tidak akan membiarkan Ezra ke tempat ini jika sedang dalam masalah.
Cukup lama mereka terdiam, menikmati cahaya bulan yang tampak bersinar terang. Tak terasa waktu sudah hampir larut malam, Ezra segera mengantarkan Andhara untuk pulang.
Sedangkan di kediaman Antares, kini suasana di sana sangat riuh akibat perdebatan antara ibu dan anak.
Semenjak Caroline pulang, ia sudah di berikan segala macam pertanyaan oleh mamanya, bahkan tak jarang juga sebuah ancaman.
“Kenapa kau baru pulang sayang” tanya Liana.
“Abis makan malam sama Kakak ma,”
“Makan malam bersama kakak mu atau kau makan berdua dengan sekretarisnya?” curiga Liana.
Mendengar penuturan sang Mama, Caroline sedikit di buat bingung.
“Makan sama Kak Ezra dan Kak Adnan ma,” jujur Caroline.
“Kau tidak membohongi Mama?”
Walaupun di sana ada Andhara, tapi mereka tidak makan berdua atau Caroline yang sengaja mengundang Andhara ke sana.
Ia sudah berkata dengan jujur pada Mamanya, tapi sepetinya sang Mama tidak mempercayainya sama sekali.
“Mama sudah tidak percaya dengan ku,”
“Ia, karena mama mendapat laporan dari seseorang. Jika mereka melihatmu makan bersama Sekretarisnya kakak mu di sebuah restoran, dan hanya kalian berdua saja di sana tidak ada Adnan mau pun Ezra,”
“Ma, itu bohong ma. Caroline tidak pernah makan berdua dengan Kak Andhara ma, caroline memang makan bersama Kak Adnan tadi Ma,”
“Kau pasti habis bertemu dengan Sekretaris j*l*ng itu kan Caroline? Mama punya buktinya,”
“Ma, sudah berapa kali aku bilang, jika aku pergi makan malam bersama dengan kak Adnan dan Kak Ezra,”
“Ternyata anak yang Mama besarkan sudah berani berbohong, Mama tidak menyangka kau juga sudah mulai seperti Wanita J*l*ng itu,”
“Mama tidak percaya, kau pasti juga mengajak perempuan itu kan? Jujur sama Mama Caroline atau kau mau mama hukum?”
__ADS_1
“Cukup Ma! Semenjak aku pulang, kenapa sikap mama berubah. Mama bukan Mama yang ku kenal selama ini, Mama yang sekarang itu di penuhi dengan dendam dan amarah, mama juga kasar dan suka membentak. Mama sudah tidak percaya padaku, jika sudah seperti ini lebih baik aku pulang saja ke luar negeri. Aku akan memberitahu kakak dan kak Adnan agar mencabut berkas ku di sini. Caroline capek dengan tingkah Mama yang sudah di butakan oleh perempuan itu.”
Selesai berkata seperti itu Caroline langsung menuju ke kamarnya dan segera mengemasi barang-barang nya, setelah di rasa cukup, ia pun menelfon sang kakak.
“Halo kak, kakak di mana?” tanya Caroline sambil menahan suaranya yang sudah serak akibat menangis.
“Kau kenapa sayang, kau menangis?”
“Tidak, aku ingin ke tepat kakak sekarang, apakah boleh?”
“Boleh, nanti kakak kirim alamatnya ya, atau kakak saja yang menjemputmu?”
“Tidak perlu kak, aku bisa sendiri ke sana,”
“Baiklah kakak tunggu ya,”
Setelah sambungan telpon terputus, caroline membenahi penampilannya sejenak. Ia menambah sedikit riasan di wajahnya yang sudah memerah akibat menangis, saat ini ia sangat kecewa dengan sang Mama.
Mama yang selalu ia banggakan dulu karena sikap lembut dan penyayangnya, kini berubah menjadi kasar dan penuh amarah. Caroline tidak tau lagi bagaimana caranya agar sang mama berubah.
Awalnya ia berniat mengenalkan secara baik Andhara dengan sang Mama, semua sudah ia rencanakan dengan sangat baik.
Tapi sepertinya rencana itu harus di lupakan, kejadian hari ini sangat membuat Caroline syok dan tak tau harus berbuat apa lagi.
Caroline pun turun dari kamarnya dengan membawa satu koper berisikan baju dan keperluannya yang lain, mendengar suara langkah kaki Liana segera menoleh dan mendapati sang putri tengah turun dengan sebuah koper di tangannya.
Ternyata setelah perdebaatan tadi, Liana memilih untuk menenangkan pikirannya di ruang tamu. Saat melihat Caroline turun, ia segera menghampirinya.
“Mau ke mana sayang?” tanya Liana.
Namun Caroline seakan tida peduli dengan pertanyaan sang Mama, ia tetap berjalan ke arah pintu.
“Caroline! Apakah kamu lebih membela Wanita J*l*ng itu di bandingkan dengan Mama mu?”
Sejenak Caroline berhenti, Liana yang melihat itu tersenyum samar. Ia beranggapan jik Caroline akan memilihnya.
“Tidak ada alasan bagi aku untuk bertahan di sini ma, Mama sendiri yang tidak percaya padaku.”
Setelah mengatakan hal itu, Caroline pun segera berlalu pergi karena mobil yang ia pesan telah tiba.
__ADS_1