
Ezra kembali ke dalam untuk mengambil tissue untuk mengelap makanan yang ada di pipi sang istri, sedangkan Andhara pun hanya melihat sekilas ke arah Ezra kemudian melanjutkan makanannya tanpa mempedulikan kritikan dari sang mertua dan suaminya.
Tak lama Ezra pun membawa tissue di tangan kanannya dan air di tangan kirinya, agar sang istri bisa minum setelah memakan martabak tersebut.
Ezra duduk di tempat semula dan menarik atau memalingkan wajah istrinya ke arah nya, agar ia bisa membersihkan sisa-sisa dari isian martabak yang berada di pipi sang istri.
Melihat keromantisan tersebut Liana yang tidak ingin mengganggu memutuskan untuk masuk kedalam, agar ia bisa menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
Tinggallah Ezra dan Andhara di halaman belakang. Andhara pun kembali menawarkan martabak manis yang sudah habis setengah kepada Ezra.
"Mas beneran nggak mau makan? Ini enak loh," tawar Andhara lagi sambil menyodorkan martabak yang sudah berada di tangannya ke dapan mulut Ezra.
"Tidak sayang, kau makan saja semuanya, karena martabak itu memang Mas belikan untukmu," ucap Ezra seraya tersenyum lembut ke arah Andhara.
"Makasih ya Mas, aku sayang banget sama mas Ezra," ucap Andhara.
"Love you too Sayang," balas Ezra.
Cukup lama Ezra dan Andhara berada di halaman belakang, setelah martabak manis yang di belikan oleh Ezra untuk Andhara habis, mereka berdua pun memutuskan untuk masuk karena hari juga sudah mulai gelap.
Di dalam Andhara melihat sang mertua dan beberapa pembantu lainnya sibuk menata makanan di atas meja makan, melihat itu pun mata Andhara kembali berbinar, dengan cepat ia duduk di meja makan dan menatap menu yang berada di atas meja makan tersebut.
Sedangkan Ezra pamit untuk berganti pakaian, karena tadi setelah pulang ia langsung menemani sang istri dan mamanya di taman belakang.
Setelah menatap cukup lama raut wajah bahagia Andhara memudar, perubahan raut wajah dari Andhara pun disadari oleh Liana.
"Loh kenapa sayang? Apakah makanan disini tidak ada yang kau sukai?" tanya Liana sambil mendekat ke arah Andhara.
"Ah tidak apa-apa Ma, hanya saja yang ingin Andhara makan tidak ada di sini," ucap Andhara.
"Memangnya menantu Mama ini ingin makan apa, sebut saja Nak biar mama yang masakan apapun untukmu," kata Liana.
Mendengar penuturan sang mertua Andhara sangat senang, tapi ia juga tidak enak dengan mertuanya. Ia tidak ingin terlalu merepotkan mertuanya.
"Apakah tidak merepotkan Mama?" tanya Andhara.
"Tidak repot kok, memangnya kenapa jika merepotkan Mama, toh ini sudah tugas Mama sebagai mertuamu, jadi kau tidak perlu sungkan, anggap saja Mama sebagai ibumu, kau bisa meminta apapun kepada Mama sayang, selama Mama bisa memenuhinya maka Mama akan melakukan apapun itu untukmu dan demi cucu yang ada didalam rahim mu,".
"Terima kasih Ma," ucap Andhara.
__ADS_1
"Baiklah sekarang menantu Mama ingin memakan apa?"
"Mm ... Andhara ingin memakan gulai ayam dengan sate Ma, apakah mama bisa membuatkannya untuk Andhara?" tanya Andhara.
"Oh tentu sayang apapun untukmu, tunggu ya Mama akan segera membuatkannya!" ucapnya sembari berlalu ke arah dapur dengan diikuti beberapa pembantu yang akan membantunya untuk memasak makanan pesanan dari Andhara.
Tak lama kemudian, terlihat Ezra sudah turun dari kamarnya lalu mendekat ke arah Andhara dan duduk di samping tempat duduk sang istri.
Dia menatap ke arah meja makan yang sudah dipenuhi oleh makanan.
"Wah banyak sekali makanannya, pasti ini sangat enak," ucap Ezra.
"Tentu saja Mas, ini semua hasil masakan ibu dan beberapa pembantu yang lainnya," ucap Andhara.
"Loh kok cuma kamu sayang, Mama ke mana?"
"Itu Mas ... tadi mama ke dapur lagi," jawab Andhara.
Ezra pun bingung, untuk apa mamanya kembali ke dapur lagi. Toh masakannya sudah selesai semua,
"Untuk apa Mama kembali ke dapur? Memangnya masih ada masakan yang belum selesai?"
"Oh ya sudah kita tunggu mama saja di sini, setelah itu kita makan bersama,"
Beberapa menit kemudian setelah menunggu cukup lama, akhirnya makanan yang Andhara inginkan pun sudah jadi.
Tampak dari arah dapur, Liana beserta beberapa pembantu keluar dengan membawa beberapa piring yang berisikan makanan yang sudah di inginkan oleh Andhara sejak tadi.
Melihat itu pun mata Andhara sekali lagi berbinar, dengan tak sabar ia menanti makanan tersebut selesai di tata di meja makan.
"Ini sayang makananmu, sesuai dengan yang kau inginkan tadi," ucap Liana kemudian ia juga duduk di kursinya.
"Wah sudah jadi, makanannya harum sekali mah. Terima kasih karena telah membuatkan makanan ini untukku,"
"Ya sayang sama-sama," ucap Liana sembari mengelus lembut kepala Andhara.
"Yah sudah ayok kita makan, aku juga sudah sangat lapar," ucap Ezra.
Mereka bertiga pun makan bersama dengan damai dan tenang.
__ADS_1
...****************...
Beberapa bulan kemudian ...
Kondisi dari kandungan Andhara semakin baik, dan tinggal menunggu agar si kembar lahir ke dunia.
Di rumah Andhara tepatnya di kediaman Antares tengah heboh dengan kedatangan keluarga besar dari Ezra, tujuan kedatangan mereka tentu saja agar bisa melihat proses kelahiran buah hati Ezra dan Andhara.
Beberapa orang di sana sibuk menerka-nerka bagaimana rupa dari si kembar,
"Aku sangat penasaran dengan anak dari Ezra dan Andhara,"
"Sepertinya mereka akan menurunkan wajah tampan dan cantik mereka kepada anaknya,"
"Tentu saja, wajah si kembar nanti adalah perpaduan dari kedua orang tuanya,"
"Aku tak sabar ingin melihatnya,"
Begitulah kira-kira pembicaraan keluarga besar Ezra, sedangkan di tempat lain tepatnya di taman Ezra dan Liana sedang mengobrol santai.
"Tak terasa ya sayang, sebentar lagi anak kalian akan lahir," ucap Liana.
"Iya Ma, aku udah nggak sabar melihat kedua bayiku,"
"Mama juga sayang, semoga mereka lahir dengan selamat tanpa kurang satupun dan yang terpenting kau juga harus bisa bertahan demi mereka berdua,"
"Terimakasih doanya Ma, akan ku usahakan semampuku, aku juga ingin melihat anak-anak ku tumbuh dewasa dan mereka bisa menyayangi Anaya seperti saudara kandung mereka sendiri,"
"Mama yakin mereka bertiga akan saling menyayangi setelah dewasa, terlepas dari Anaya itu anak angkat kalian, Mama dan yang lainnya tidak akan membedakan mereka bertiga,"
Dari arah samping mereka, tampak seorang anak kecil berlari menghampiri mereka berdua,
"Mama, Oma!" panggil Anaya.
"Ya sayang, kenapa?" tanya Liana.
"Mama sama Oma di suruh masuk sama Papa," kata Anaya.
Setelah itu pun mereka bertiga masuk, di dalam rumah tampak para saudara sedang duduk berbincang di ruang tengah, Andhara dan Liana memutuskan untuk bergabung karena di sana juga ada Ezra.
__ADS_1
...Bersambung...