Sekretaris Ku Candu Ku

Sekretaris Ku Candu Ku
30. Dukungan dari Caroline


__ADS_3

Kini setelah mendengar penjelasan dari Ezra, Andhara sudah mengetahui bahwa Wanita yang tadi memeluk kekasihnya dan Adnan adalah Adik dari kekasihnya sendiri dan merupakan putri bungsu dari Keluarga Antares.


Untung saja Andhara bukan tipe seperti kebanyakan perempuan, yang kalau cemburu akan melampiaskan langsung tanpa bertanya.


“Hai kakak ipar, aku Caroline,” sapa Caroline.


“Halo juga, nama Kakak, Andhara,” balas Andhara dengan senyum hangat.


“Kak Ez pandai juga milih pasangan, kak Andhara tuh cantik banget, lembut, baik, pokoknya the best deh,” puji Caroline.


“Darimana kau tau jika aku baik dan lembut?” tanya Andhara.


“Aku udah liat kak, penelian aku nggak mungkin salah. Lagian juga pilihan Kak Ezra pasti baik, karena hanya Wanita baik yang bisa menahan sifat jelek kakak ku ini,” balas Caroline.


“Lin!! “ kesal Ezra.


“Wleeee,” Caroline menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak.


“Awas kau,” Ezra hendak menangkap adiknya itu.


Menyadari akan dirinya dalam bahaya, segera Caroline berlari ke belakang Adnan untuk bersembunyi dari sang kakak.


“Kau jangan berlindung di balik tubuh Adnan, Caroline,”


“Biar saja kak Adnan akan melindungiku dari kakak, ya kan kak,” kata Caroline mendongak melihat Adnan, Adnan pun membalas perkataan Caroline dengan mengangguk pelan.


“Kalian berdua bersekongkol melawan ku,” kesal Ezra.


Akhirnya terjadi keributan dan perdebatan antara Ezra dan Caroline, tentu saja di tengahi oleh Adnan yang sudah di jadikan tempat berlindung oleh Caroline.


Satu hal mengejutkan lagi yang ia temui dari sifat sang kekasih, orang yang dingin dan tegas di kantor jika bersama dengan keluarga akan menjadi pria yang hangat.


“Kak Andhara lihat lah sifat sebenarnya dari kakak ku, dia tak mau mengalah dari adik perempuannya sendiri,” kata Caroline.


“Kenapa kau malah melapor padanya,”


Saat Ezra lengah Caroline segera berlari ke belakang Andhara untuk meminta perlindungan, tingkah dari Caroline membuat Andhara tertawa, sedangkan Adnan hanya tersenyum.


Sudah lama Adnan tidak melihat tingkah konyol dari adiknya itu, sekarang ia merasa sedikit terhibur di tambah lagi perdebatan kecil antara Ezra dan Caroline.


“Kak Andhara hentikan Kak Ezra, dia selalu begitu saat bertemu denganku,” rengek Caroline pada Andhara.


“Mas sudahlah, kalian itu baru ketemu loh kok langsung bertengkar sih,” ucap Andhara.

__ADS_1


“Dia yang mulai yang,” kesal Ezra.


“Mengalah saja Mas sama adik mu!”


“Baiklah, ini karena kau yang minta,”


“Kak Ezra giliran di minta sama ayang nya langsung nurut, dasar bucin tingkat dewa,” ejek Caroline.


Ejekan dari Caroline membuat Ezra kesal, tapi beda halnya dengan Adnan dan Andhara. Mereka berdua tertawa dengan candaan Caroline, hanya Ezra yang kesal di sini.


“Dasar tukang ngadu,” ejek balik Ezra.


“Biarin,”


Setelah aksi pertengkaran kecil antara Ezra dan adiknya, kini mereka semua telah duduk bersama di ruangan Ezra.


Mereka semua berbincang sambil menyantap makan siang mereka, terkadang di iringin canda dan tawa.


“Jadi apa rencana mu setelah Kembali ke ibu kota Lin?” tanya Ezra.


“Aku sih pengennya lanjut kuliah di sini kak, nggak mau ke sana lagi. Di sana sepi nggak ada kakak sama mama,” jawab Caroline.


“Di universitas mana yang kau minati sayang?” kini giliran Adnan yang bertanya.


“Punya keluarga saja Kak, Caroline malas jika harus urus berkas lagi, ribet,”


“Mas!” panggil Andhara.


“Iya yang, kamu mah belain Caroline terus,” omel Ezra.


Sementara Andhara hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Ezra yang menurutnya seperti anak kecil.


“Ez gue pamit dulu ya, masih ada urusan.” Pamit Adnan dibalas anggukan Ezra.


“Yah kok kak Adnan malah pamit, baru juga sebentar ketemu sama aku,” ucap Caroline cemberut.


“Maaf ya sayang kakak masih ada urusan penting dulu, nanti kalau urusannya selesai kakak ke rumah deh,” kata Adnan.


“Beneran yang kak,”


“Iya sayang”


Setelah menyakinkan Caroline, Adnan pun keluar dari ruangan Ezra. Di susul Andhara yang juga pamit karena pekerjaannya juga masih banyak yang harus di urus, kini di ruangan tersebut hanya tinggal Ezra dan Caroline saja.

__ADS_1


“Kakak udah bawa kak Andhara ke Mama nggak, Mama pasti suka sama kak Andhara,” ucap Caroline.


“Nggak akan Lin, Mama itu nggak suka sama Andhara.” Jawab Ezra.


“Kenapa kakak bisa yakin?” tanya Caroline.


Akhirnya Ezra menceritakan pada adiknya itu tentang perjodohan yang di rencanakan oleh Liana untuk dirinya, tentang Leyna yang merupakan pilihan dari sang Mama karena Leyna adalah anak dari teman Mama mereka.


Tak lupa juga Ezra menceritakan tentang rencana jahat Leyna selama ini untuk Andhara, yang bahkan hampir berhasil kalau saja Ezra tidak tiba tepat waktu saat itu. Caroline mendengar semua cerita kakaknya tentu saja kaget.


Tak menyangka jika pilihan sang Mama sangat di luar Ekspektasinya, bahkan berani menghasut Mamanya untuk membenci orang sebaik Andhara.


Juga yang sangat Caroline sayangkan adalah rencana Leyna yang hampir saja membuat masa depan dari calon kakak iparnya itu hancur.


Dari cerita yang Caroline dengar, Caroline menebak jika diamnya Leyna saat ini bukan karena ia akan berhenti mengganggu sang kakak. Tapi untuk memikirkan rencana selanjutnya agar sang kakak berpisah dari Andhara.


Caroline sangat yakin karena tipe perempuan seperti Leyna tidak akan menyerah sampai ia mendapatkan yang ia inginkan, atau setidaknya orang yang sukai menderita seperti dirinya.


Karena Caroline sangat mendukung hubungan sang kakak, maka ia akan berusaha menyakinkan sang Mama tentang Andhara.


Meskipun itu sulit, karena sang Mama memiliki kepribadian yang tegas dan tak gampang goyah dari pendiriannya.


Tapi Caroline akan tetap berusaha untuk itu dan demi kebahagiaan sang kakak. Setelah puas bercengkrama dengan sang kakak, Caroline memutuskan pamit pulang.


Ia sangat lelah dan butuh untuk mengistirahatkan tubuhnya dan juga agar tidak menganggu sang kakak bekerja.


Perjalanan dari perusahaan ke rumah utama tidak terlalu lama, Caroline yang pulang menggunakan taksi langsung tiba tampa hambatan apapun.


Para pelayan di rumah utama menyambut Nona muda mereka. Kebetulan Liana saat itu sedang berada di rumah, mendengar sang putri tiba Liana langsung turun untuk menyambutnya.


“Caroline sayang, kamu kenapa nggak bilang kalau mau pulang, hem?” tanya Liana.


“Surprise Mah, hehehe,” gurau Caroline.


“Dasar kamu ini masih saja seperti itu,” ucap Liana menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan putrinya yang masih belum berubah.


“Kamu tinggal di sini berapa lama sayang?”


“Mama mau nya Caroline di sini berapa lama?” tanya balik Caroline.


“Selamanya,” jawab Liana.


“Ya udah Caroline akan di sini selamanya,”

__ADS_1


“Kamu nggak becanda sayang,” tanya Liana memastikan.


Untuk para reader setia ku, maaf ya Author cuman bisa up 1 bab Per hari karena masih ulangan di Kampus.🙏


__ADS_2