
Di ruangannya Andhara tengah mempelajari sebuah proposal, tapia da yang tidak ia mengerti. Jadi ia berencana untuk menanyakan hal itu kepada Adnan.
*Baru saja ia ingin ke ruangan Adnan, Andhara pun teringat jika sebelumnya Adnan menelponnya.
Adnan bilang tidak masuk hari ini karena ada urusan yang mendesak, jadi Adnan memintanya untuk membereskan pekerjaannya*.
Andhara pun berhenti melangkah dan berbalik arah menuju ruangan Ezra, karena ruangan di lantai itu terdiri dari 3 ruangan yaitu, Ezra, Adnan dan Andhara. Posisi ruangan Andhara bersebelahan dengan ruangan Adnan.
*Ruangan Andhara berada di tengah di apit oleh ruangan Adnan dan Ezra, ruangan Ezra berada di ujung Lorong.
Bedanya rungan Ezra tidak berada di posisi yang sama dengan ruangan Ezra dan Adnan, Ruangan Ezra di sini kiri sementara Adnan dan Andhara di sisi kanan*.
*Andhara mencoba untuk mengetuk beberapa kali, tapi ia tidak mendengar jawaban dari Ezra.
Akhirnya ia memutuskan untuk langsung masuk saja, saat ia masuk ruangan tersebut sangat sepi*.
*Andhara pun mencari keberadaan Ezra di ruangan tersebut, tapi ia tak menemukannya.
Andhara berpikir jika Ezra sedang keluar untuk urusan yang mendadak, karena Ezra tidak berada di ruangannya Andhara pun memutuskan untuk pergi*.
*Saat hendak menarik handle pintu, telpon ruangan Ezra pun berdering.
Andhara yang semulanya tidak ingin menjawab karena menganggap mungkin telpon itu dari klien perusahaan, tapi setelah berdering beberapa kali akhirnya Andhara memutuskan untuk menganggkat telpon tersebut*.
*Saat tersambung, di seberang telpon terdengar suara Wanita yang tengah mengomel karena telponnya di abaikan oleh Ezra.
Sementara Andhara hanya diam dan mendengarkan semua ocehan dari orang tersebut, sampai saat di mana orang tersebut tiba tiba berhenti*.
“H-halo,” ucap Andhara.
“Iya, ini siapa ya? Kok bisa telpon ruangan anak saya berada di kamu?” tanya orang tersebut.
*Ternyata yang menelpon adalah Liana, Mama dari Ezra, kekasihnya.
Tujuan Liana menelpon karena ia ingin menyuruh Ezra untuk membawa Caroline pulang, karena ia sudah sangat merindukannya*.
Selain itu Liana juga ingin Ezra segera mencari keberadaan dari Leyna, Liana tidak mau kehilangan calon menantunya yang berharga itu.
__ADS_1
“Pak Ezra tidak ada Nyonya,” jawab Andhara.
“Pergi ke mana dia?”
“Maaf Nyonya saya tidak tu,”
“Kenapa bisa kau yang mengangkat telpon ini?”
“Maaf atas kelancangan saya Nyonya, tadi saya hanya ingin menyerahkan dokumen yang sebelumnya di minta oleh Pak Ezra. Karena tidak mendapat jawaban jadi saya masuk, dan ternyata ruangan Pak Ezra kosong Nyonya. Saat saya mau pergi telponnya berdering, jadi saya memutuskan untuk mengangkatnya,”
“Lalu di mana Adnan?” tanya Liana lagi.
“Pak Adnan tadi pagi di tugaskan oleh Pak Ezra untuk mengurus sesuatu dan belum Kembali sampai sekarang,” jawab Andhara.
*Andhara merasa sangat lega, saat ibu dari Kekasihnya itu tidak mengenali suaranya. Bukannya takut, ia hanya sangat muak dengan ocehan dari ibu kekasihnya itu.
Kadang menghina, merendahkan atau pun memaki dirinya, padahal ia tidak pernah berbuat salah pada Liana*.
“Ck! Pasti Ezra sedang pergi bersama Sekretaris J*l*ng itu, Ezra sudah benar benar di guna guna oleh perempuan sialan itu. Dia bahkan berani untuk menentangku dan lebih memilih perempuan takt ahu diri itu,” kesal Liana.
Andhara hanya terdiam mendengar semua ocehan Liana, di dalam hatinya ia sangat terluka dengan semua perkataan yang keluar dari mulut Liana barusan.
Padahal sebenarnya ia tak melakukan apa pun bahkan saat ini ia juga tidak tau ke mana Ezra pergi, ia tak pernah menyuruh Ezra untuk mengabaikan pekerjaannya.
“Ya sudah jika Ezra telah datang, kmu bilang saja kalau saya tadi sudah menelponnya,”
“Baik bu,” ucap Andhara.
Flashback off
Hampir saja air mata Andhara jatuh setelah menceritakan semua yang terjadi tadi, entah apa salahnya sehingga ibu dari kekasihnya itu sangat membencinya. Ezra yang melihat kesedihan Andhara langsung memeluknya erat.
“Maaf kan perpakataan Mama ku sayang,” ucap Ezra.
“Maaf karena telah membuat mu menangis, maaf kan aku,” sesal Ezra.
Namun semua permintaan maaf darinya tak mendapat satu pun respon dari Andhara, Andhara hanya diam membisu tak membalas pelukan dari Ezra atau pun tak mengeluarkan suara.
__ADS_1
Hanya air mata yang terus menetes, menandakan jika Andhara sangat terluka saat ini.
Ezra pun menjadi sangat bingung harus bagaimana, baru kali ini ia melihat sang kekasih begitu sedih dan semua itu di sebabkan oleh Mama nya sendiri.
Ezra terus menengkan Andhara dan terus meminta maaf, walaupun Ezra tau jika ia tidak akan mendapatkan balasan apa pun dari Andhara.
“Sayang bicaralah padaku, jangan seperti ini,” khawatir Ezra.
Karena tak kunjung bicara, Ezra memutuskan untuk melepaskan pelukannya dari Andhara dan menganggkat pelan wajahnya.
Dilihatnya mata Andhara yang sudah sembab itu masih mengeluarkan air mata.
Walaupun tak terdengar lagi isak tangis di sana, Ezra mencoba untuk menghapus air mat aitu dan berhasil membuatnya berhenti. Ezra mengecup lembut kening Andhara seolah menyalurkan kekuataan pada kekasihnya itu.
“Mas,” panggil Andhara.
“Ya sayang,” jawab Ezra senang.
Akhirnya Andhara ingin berbicara dengannya, “Apakah aku sangat tidak pantas di cintai oleh mu?’ tanya Andhara.
Ezra pun sangat kaget dengan pertanyaan kekasihnya itu, “Bagaimana mungkin seperti itu sayang, kau pantas untuk ku dan itu sudah ku pastikan,” ucap Ezra pantas.
Andhara tak memberikan respon lagi, ia hanya memeluk erat tubuh Ezra. Dan akhirnya tangis Andhara Kembali pecah di sana, Andhara menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang kekasih.
Ezra pun membalas tak kalah Ezra, tiba tiba dari arah pintu masuk lah Adnan. Adnan pun sangat terkejut dengan pemandangan di hadapannya, di mana sang bos dan Andhara berpelukan.
Raut khawatir terpancar jelas di wajah bos sekaligus sahabatnya itu, sementara Andhara saat ini sedang menangis tersedu-sedu di pelukan Ezra. Ezra hanya mengisyaratkan Adnan untuk diam sebentar.
Adnan pun yang menyadari jika situasi di sana tidak bagus, memilih diam dan segera pergi di sana. Adnan Kembali ke ruangannya dan berfikir sejenak tentang masalah apalagi yang di hadapi oleh dua sejoli itu.
Sementara di kediaman Antares, suasana hati Liana yang tadi sangat kesal karena tingkah Anaknya dan Adnan yang seenaknya meninggalkan perusahaan hanya untuk Andhara kini berubah menjadi senang.
Senang karena akhirnya telponnya di angkat oleh sang putri, putrinya itu sudah lama menghindar darinya. Karena itu pun ia sangat menyesal dan ingin meminta maaf pada putri bungsunya itu.
**Pedes banget ya mulut Mamanya Ezra, benci banget sih dia sama Andhara. Nggak takut nyesel ya dia, kalau Ezra juga pergi kayak Caroline.
Sambil nunggu up, kalian bisa mampir ke novel teman Author loh**.
__ADS_1