
Ezra pun menitipkan Andhara kepada Mamanya, dan ia segera ke ruangan dokter.
Setelah mengetuk pintu, Ezra pun masuk ke dalam ruangan dan ia dipersilahkan duduk oleh dokter di kursi yang berhadapan dengannya.
Setelah Ezra duduk, sang dokter langsung menyampaikan maksud dari kedatangan Ezra.
"Jadi, apa ada masalah dengan istri saya dok?" tanya Erza.
"Sejauh ini masih belum ada tanda tanda lain, tapi saya menyarankan agar istri bapak di periksa lebih mendalam lagi. Jika dugaan saya sebelumnya benar, maka pasien harus di rawat lebih lanjut,"
"Dugaan apa dok?"
"Ini hanya dugaan sementara saya, saya curiga jika istri anda sudah di beri obat penggugur kandungan. Maka dari itu kita perlu pemeriksaan selanjutnya untuk memastikan apakah obat itu masih ada atau sudah tidak ada," jelas sang dokter.
"PENGGUGUR KANDUNGAN DOK!!"
"Bagaimana mungkin dok, istri saya selalu berada dalam pengawasan saya dan anak buah saya. Tidak mungkin ia diberi obat tanpa sepengetahuan saya," kata Ezra.
"Maka dari itu pak, perlu dilakukan pemeriksaan. Untuk membuktikan jika saya benar atau salah,"
"Baiklah lakukan semuanya untuk mereka berdua dokter,"
"Baiklah pak, sebentar lagi akan ada perawat yang mengambil sampel darah dari Nyonya Antares,"
"Baik dokter, kalau begitu saya permisi," pamit Ezra.
Ezra pun keluar dari ruangan dokter tersebut dan menuju ke ruangan Istrinya. Ditengah perjalanan ia masih memikirkan tentang perkataan dokter tadi,
"Apakah saat Andhara ke toilet waktu itu?" gumam Ezra.
"Ini pasti ulah orang itu,"
"Tunggu saja, jika sampai istri ku kenapa-kenapa. Aku akan membuat menyesal!" geram Ezra.
Sesampainya di ruangan Istrinya, ia melihat Mamanya yang sedang duduk di samping tempat tidur Andhara.
Liana yang melihat kedatangan sang putra langsung bertanya tentang apa yang di sampaikan oleh dokter kepadanya.
"Dokter bilang apa nak?" tanya Liana.
Dengan muka yang sedih Ezra pun berkata, "Dokter bilang dia menduga jika Andhara sudah diberi obat penggugur kandungan Ma," ucap Ezra.
Seketika Liana terhuyung ke belakang, dengan segera Ezra menahan sang Mama.
"Bagaimana bisa Ez?" ucap Liana sedih.
"Ezra tidak tau Ma, tapi satu hal yang Ezra curigai,"
__ADS_1
"Apa itu?"
Ezra kemudian menatap sang Istri yang terbaring lemah, diikuti oleh Liana. "Saat kami di acara tadi, dia sempat meminta izin pada ku untuk ke toilet. Karena lama jadi aku ingin mengeceknya, di tengah jalan aku bertemu dengannya."
"Saat itu aku tidak merasa ada yang aneh dengannya, dan tidak melihat siapapun yang keluar dari arah sama dengan Andhara. Seharusnya aku lebih teliti dengan keselamatan mereka berdua," ucap Ezra menyesal.
"Sudahlah nak, yang terpenting sekarang adalah kita harus bisa menemukan pelakunya dan berharap jika istri dan anakmu akan baik baik saja," ucap Liana menenangkan sang Putra.
Beberapa hari kemudian, Dokter pun memberitahu jika obat yang ada di dalam tubuh Andhara adalah obat penggugur kandungan, sesuai dengan tebakan sang dokter.
"Tapi setelah kami melakukan USG, janin masih terlihat dan kami segera memberikan obat-obatan untuk penguat agar janin bisa bertahan, untuk sekarang kita hanya bisa melihat dan menunggu, semoga janin bisa terus bertahan"
Ezra terlihat senang, dia melihat Liana yang juga terlihat menghela nafas lega
.
"Pasien harus bedrest total, tidak boleh banyak bergerak apalagi stres"
"Baik dokter, kami mengerti" Jawab Ezra dengan cepat.
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan"
Untung saja Dokter itu bisa dengan cepat mengatasi masalah tersebut, dan untungnya obat penggugur kandungan tersebut tidak banyak yang masuk.
Dokter mengatakan jika Andhara akan sadar dalam waktu dekat, tentu itu membuat Ezra sangat bahagia.
Dari arah luar datanglah Adnan dengan tergesa-gesa, setelah di izinkan masuk, Adnan pun menjelaskan tujuannya datang ke sana.
"Saya sudah menemukan jejak pelakunya dari orang suruhan yang menjebak Andhara," ucap Adnan langsung ke intinya.
"Menjebak?" bingung Liana.
"Begini Nyonya, saat di acara rekan bisnis Ezra. Mereka berdua sudah diintai oleh seseorang lewat mata matanya, orang tersebut mengetahui jika Ezra dan Andhara akan pergi ke sana, jadi dia mengirimkan seseorang untuk menyuap salah satu pelayan di sana untuk menjalankan aksinya," jelas Adnan.
"Saat Andhara ke toilet, pelayan perempuan datang ke sana dan memaksa Andhara untuk meminum minuman yang sudah ia campurkan obat penggugur kandungan." sambung Adnan.
"Jadi siapa yang menyuruh mereka?" tanya Ezra.
Adnan menatap Liana dengan ragu, membuat ibu dan anak itu bingung.
"Kenapa kau menatapku? Apa hubungannya dengan ku," ucap Liana.
"Pelakunya adalah Nona Leyna, anak dari sahabat Nyonya," kata Adnan.
Liana sangat terkejut, nama itu adalah nama yang selalu ia ungkit di hadapan sang putra. Nama itu yang selalu ia banggakan, nama yang selalu ia puji.
Tak di sangka, nama itu adalah orang yang sangat kejam. Dengan tega ingin membunuh bayi yang belum lahir dan membunuh menantunya.
__ADS_1
Siall
"Akan ku buat kau menderita 10 kali lipat dari yang kau perbuat pada istriku, Leyna!!" geram Ezra.
Saat Adnan akan bicara, ia tak sengaja melirik ke arah Andhara. Ia melihat jika jari Andhara, walaupun itu sedikit.
"Nyonya, tangan Andhara bergerak," ucap Adnan.
Sontak Ezra dan Liana segera melihat ke arah Andhara, dan benar saja tangannya sudah mulai memberikan tanda-tanda kesadaran.
Dengan cepat mereka memanggil dokter, saat dokter datang dan memeriksa kondisi Andhara, ia mengatakan jika Andhara sudah menunjukkan perkembangan yang pesat.
"Mungkin sebentar lagi Nyonya Andhara akan sadar," ucap Dokter.
"Alhamdulillah ya Allah,"
Semua orang merasa senang, kemudian sang dokter pun pamit untuk memeriksa pasien lainnya.
Tak lama dari kepergian sang dokter, terdengar suara seseorang yang memanggil nama Ezra sangat pelan.
Ezra menoleh kearah Andhara, dan benar saja yang memanggilnya tadi adalah Andhara. Istrinya telah sadar.
"Apa kau butuh sesuatu sayang?" tanya Ezra.
"Air,"
Ezra pun memberikan air yang sudah disiapkan perawat, dengan telaten ia membantu istrinya untuk minum.
Setelah minum, Ezra kembali membaringkan tubuh Andhara di ranjang perawatan.
"Apakah ada yang sakit sayang?"
"Atau kau butuh sesuatu?"
"Tidak ada Mas, aku baik baik saja,"
"Syukurlah kalau begitu, aku sangat khawatir dengan kondisi mu," ucap Ezra sambil mengelus rambut Andhara lembut.
"Maaf sudah membuat mu khawatir Mas," ucap Andhara.
"Tidak sayang, seharusnya Mas yabg meminta maaf karena tidak bisa menjaga mu dengan baik,"
Tak lama datanglah Liana yang sudah membeli beberapa makanan dan cemilan untuk dirinya dan Ezra.
"Gimana kondisi Andha ... "
Akhirnya up juga, maaf ya guys, Author baru bisa up lagi sekarang. Jangan bosen ya untuk terus baca novel Author 🤗
__ADS_1