
Di dalam mobil tangis Caroline Kembali pecah, ia terus saja mengingat perkataan Liana yang telah menyakiti hatinya.
“Mama tidak menyangka kau juga sudah mulai seperti Wanita J*l*ng itu,”
Caroline sang kecewa karena secara tidak langsung sang Mama mengatakan bahwa ia adalah perempuan j*l*ng, sementara itu di apartement Ezra, ia menjadi sangat gelisah setelah mendapat telpon dari sang adik.
Perasaannya menjadi sangat tidak tenang, walaupun Caroline berkata ia baik baik saja. Tapi sebagai kakak Ezra tau jika adiknya itu sedang dalam masalah, terbukti dari suara seraknya yang pastinya sudah menangis, walaupun ia berkata ia tidak menangis.
Ezra terus berpikir kejadian apa yang terjadi di rumah utama, sampai sampai membuat Adik yang ia kenal sangat kuat dan tak gampang menangis itu memilih untuk tinggal di apartementnya.
Tak berselang lama, Caroline pun tiba di Lobi Apartemen sang kakak. Kemudian ia menaiki lift dan menuju lantai teratas tempat Apartemen sang kakak berada, setelah sampai Caroline segera memencet bel Apartement Ezra.
Saat Ezra membuka pintu Apartemennya, ia terkejut karena sang Adik membawa koper yang selalu ia pakai jika ingin ke luar negeri.
Caroline yang melihat kakak nya berada di depannya, langsung memeluk erat Ezra dan tangis nya pun pecah untuk kesekian kalinya.
Lagi lagi Ezra terkejut melihat kondisi adiknya, baru kali ini ia melihat adiknya menangis seperti itu. Ezra kemudian menuntun Caroline untuk duduk di sofa, setelah Caroline duduk ia pun mengambil air dan memberikannya pada sang adik.
Setelah Ezra merasa Adiknya sudah cukup tenang, dengan perlahan ia bertanya.
“Kenapa menangis sayang, apakah kau bertengkar dengan seseorang?” tanya Ezra.
Caroline hanya mengangguk pelan.
“Dengan siapa dan di mana?”
“Mama, di rumah,”
Ezra mengerutkan keningnya mendengar nama sang Mama di sebut oleh Adiknya, pasalnya ia tak menyangka jika orang yang membuat adiknya menangis adalah Mama nya sendiri. Karena setau Ezra, Mamanya sangat menyayangi Caroline.
“Kenapa bisa?”
Akhirnya Caroline menceritakan semua kejadian di rumah utama, mulai dari pertanyaan sang Mama, bentakan yang ia terima dan tuduhan yang membuatnya sangat sakit.
Terakhir Caroline ingin mengatakan hal yang membuatnya sakit hati, tapi lidahnya seakan kaku.
“Apa yang mama katakana padamu?” tanya Ezra, namun Caroline hanya diam.
__ADS_1
“Lin, dengarkan kakak, kakak sudah berjanji pada Almarhum Papa untuk menjagamu dan tak membiarkan seorang pun membuatmu menangis walaupun itu Mama sendiri,”
Caroline menatap mata sang Kakak, air matanya tak henti mengalir. Dengan suara serak dan rasa sakit hati, ia mengatakan ucapan sang Mama.
“Mama bilang kalau semenjak Caroline datang ke sini dan bertemu kak Andhara, Caroline … Caroline sudah seperti j*l*ng,”
Selesai mengatakan hal tersebut, Caroline langsung memeluk erat tubuh kakaknya sekali lagi. Sementara itu Ezra yang masih syok tidak menyadari jika adiknya tengah memeluknya, yang masih berputar putar di telinga Ezra adalah kalimat terakhir yang terlontar dari mulut sang Adik.
Ezra sedikit tidak percaya dengan semuanya, Mamanya tega berkata seperti itu pada anaknya sendiri. Ezra mencoba menenangkan pikirannya dan segera mengantarkan Caroline untuk tidur di kamarnya.
Setelah Caroline tidur, Ezra keluar dari kamarnya dan berniat menelpon salah satu pengurus rumah disana. Setelah berbicara Panjang lebar, kini Ezra sudah tau jika sang adik berkata jujur.
Mamanya secara terang terangan menghina kekasihnya dan juga menyamakan sifat hina yang Mamanya berikan untuk Andhara pada sang adik.
“Mama sungguh berubah, aku sangat kecewa … “
Ezra membaringkan tubuhnya di sofa, tak lama ia pun sudah terlelap. Keesokan harinya, Ezra bangun lebih awal, kemudian ia memasak makanan untuknya dan Caroline.
Jika biasanya ia memesan makanan untuknya, kali ini ia lebih memilih untuk memasak, karena sudah lama mereka tidak makan masakannya bersama.
Kemudian Ezra berlalu ke kamarnya untuk membangunkan sang adik, awalnya Ezra hanya memanggil Caroline dari pintu luar karena takut sang adik sedang bersiap.
Tapi setelah cukup lama ia memanggil Caroline, namun tidak ada jawaban dari sang Adik. Jadi ia memutuskan untuk masuk dan memeriksa keadaannya, dilihatnya sang adik masih tertidur tapi ada yang sedikit berbeda darinya.
Ezra mendekat dan duduk di samping tempat tidur, wajah adiknya tampak pucat dan badannya sedikit menggigil. Setelah memeriksa suhu tubuh Caroline, ternyata Adiknya sedang demam.
Ezra segera mengambil kain beserta air hangat. Setelah cukup lama akhirnya Caroline pun sadar. Caroline duduk di bantu Ezra, kemudian Ezra mengambil bubur yang telah disiapkan olehnya tadi.
“Kakak tidak ke kantor?” tanya Caroline.
“Kau sedang sakit, bagaimana bisa kakak meninggalkan mu sendiri.” Jawab Ezra.
“Aku hanya demam kak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,”
Baru saja Ezra ingin menimpali perkataan Caroline, tapi ponselnya berdering. Saat itu yang menelponnya adalah Adnan, Adnan mengatakan jika ada tamu di perusahaan yang ingin bertemu dengannya.
Dengan sangat terpaksa, ia harus meninggalkan adiknya yang sedang sakit sekarang. Ezra Kembali ke kamarnya dan melihat keadaan Caroline.
__ADS_1
“Maafkan kakak Lin, kakak harus ke kantor sekarang, ada hal yang mendesak,”
“Tidak apa apa kk,”
Setelah membantu adiknya makan dan meminum obat, Ezra pun berganti pakaian dan siap untuk ke kantor.
Di perjalanan ke kantor, karena Ezra merasa tidak tenang membiarkan sang adik sendiri di sana.
Akhirnya ia memutuskan untuk menelfon Andhara, meminta bantuannya untuk menjaga Caroline selama ia ada di perusahaan.
“Halo, sayang kamu di mana?” tanya Ezra.
“Di kantor mas, kenapa?”
“Mas boleh minta tolong ngga untuk jagain Caroline di apartement mas,”
“Loh Caroline ada di apartement nya mas sekarang, kok bisa?”
“Panjang ceritanya sayang, intinya bisakah kamu ke apartement sekarang karena mas sedang dalam perjalanan ke kantor sekarang,”
“Baiklah mas, aku segera ke sana,”
Setelah sambungan telpon terputus, andhara pun merapikan semua berkas berkas yang ada di mejanya. Saat keluar dari ruangannya ia berpapasan dengan Adnan yang juga akan ke ruangan Ezra mengambil beberapa dokumen.
“Loh Andhara, mau kemana?”
“Ke apartement nya mas Ezra,”
“Ezra nya kan mau ke sini, udah gue telpon tadi,”
“Aku ke sana bukan untuk ketemu sama Mas Ezra, tapi di maintain tolong sama dia buat jagain Caroline,”
“Caroline ada di apartementnya Ezra, kok gue nggak tau,”
“Udahlah nanti tanya langsung saja sama orang nya aku buru buru,”
Andhara tak sempat mendengar reaksi dari Adnan karena ia sudah berlalu pergi, begitu pun Adnan yang dibuat bingung dengan perkataan Andhara.
__ADS_1