
“Saya Leyna Viandra, saya ingin bertemu dengan Arya!” ucap Leyna.
“Maaf sebelumnya apakah anda sudah membuat janji dengan Pak Arya?” tanya Resepsionis.
“Untuk apa saya membuat janji? jika saya ingin bertemu dengan bos kalian, tidak ada yang bisa melarang saya.” angkuh Leyna.
“Maaf nona tapi ini sudah peraturan dari perusahaan, barang siapa yang ingin bertemu dengan bos kami harus membuat janji terlebih dahulu. Atau kalau tidak membuat janji pasti Pak Adnan sudah memberitahu kami jika akan ada yang datang,” jelas Resepsionis.
“Berani sekali kamu sama saya, kamu ini cuman karyawan rendahan. Tidak sepantasnya kamu mengatur saya, asal kamu tau ya saya ini TUNANGAN nya Arya.” Ucap Leyna sedikit menekan kan kata ‘Tunangan’.
“Maaf nona saya ini memang pegawai rendahan, tapi saya hanya menjalankan tugas saya,” kata Resepsionis.
Suasana di perusahaan Arya menjadi sangat kacau, beberapa karyawan mulai berbisik mengenai bosnya sendiri dan perdebatan antara Leyna dan Resepsionis yang belum usai.
Berbanding terbalik dengan suasana di kantor, suasana di restoran tempat Arya, Andhara dan Adnan makan siang sangat damai. Mereka bertiga menyelesaikan kegiatan makan mereka dengan sedikit canda tawa di dalamnya.
“Andhara kok kamu manggil Ezra dengan sebutan Mas ya? Tumben tumbenan juga si Ezra diam aja?” tanya Adnan yang heran dengan panggilan Andhara pada Arya jika di luar kantor.
Pertanyaan tersebut keluar dari mulut Adnan, saat ia tak sengaja mendengar Andhara memanggil Ezra dengan sebutan ‘Mas’ saat berbincang tadi.
“Oh, itu mas Ezra sendiri yang minta,” jawab Andhara.
“Maksudnya?’ bingung Adnan.
“Jadi gini, kemarin itu aku ketemu sama Mas Ezra di Panti Asuhan. Ternyata mas Ezra juga penyumbang dana di sana. Pas pulang Mas Ezra anterin aku sampai rumah, tapi di tengah jalan Mas Ezra bilang kalau di luar kantor jangan panggil dia pak, katanya umur kita nggak beda jauh. Terus Mas Ezra bilang panggil nama aja, tapi aku juga nggak enak jadi aku panggil Mas aja,” cerita Andhara.
Sedangkan Adnan mengangguk memahami dan Ezra hanya menjadi penyimak dari obrolan Andhara dan Adnan.
“Jadi ceritanya kalian udah deket ini,” goda Adnan.
“Eh ... kok jadi gini,” gugup Andhara dengan muka yang merah merona.
Sama halnya dengan Ezra, ia sangat malu sekarang karena rencana pasti sudah di ketahui oleh sahabatnya ini. Tapi Ezra sebisa mungkin menutupi itu dan berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
“Sudahlah Adnan jangan menggodanya lagi, dia sudah sangat malu karena ulahmu.” tegur Ezra.
“Cie cie di belain tuh, udahlah Ezra gue tau lu lagi berusaha deketin Andhara kan? ngaku loh,” ucap Adnan tertawa kecil karena berhasil membongkar rencana sahabatnya itu.
Andhara yang mendengar penuturan Adnan merasa kaget dan segera mengalihkan pandangannya ke wajah Ezra yang tepat berada di sampingnya. Ternyata Ezra pun kini tengah menatapnya, sejenak pandangan mereka berdua bertemu.
Manik mata Ezra yang sangat menenangkan kala Andhara menatapnya, manik mata tersebut yang membuat Andhara merasa hangat berada di dekat Ezra.
Andhara dan Ezra sama sama terbuai dalam pikiran mereka masing masing, Adnan yang melihatnya pun bertambah yakin, jika bos sekaligus sahabatnya itu telah menemukan seseorang yang mampu melelehkan es yang ada di hati Ezra.
Ya tuhan, apakah aku di sini hanya untuk menjadi penikmat mereka yang sedang jatuh cinta, tapi masih malu mengakuinya. Malang sekali nasib ku.
Setelah lama bertatapan, adnan yang jengah dengan pemandangan di depannya, memilih untuk menegur mereka. Enak saja mereka berdua bermesraan di depan Adnan yang notabene nya jomblo.
“Ekhemm ... hargain yang jomblo masih di sini bos,” singgung Adnan.
Seketika Andhara langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat ini ia sangat malu karena ketahuan oleh tangan kanan bosnya itu.
Sedangkan Ezra kembali memasang wajah datar kebanggaannya.
“Nanya apaan lu?” tanya Ezra.
“Kalian itu saling suka nggak sih!!” kesal Adnan.
“Ng-nggak” jawab Andhara.
“Kalo nggak kenapa lo jadi gugup sih Andhara?” timpal Adnan.
“I-itu ... “
“Gue yang suka sama Ara? Kenapa?” ucap Ezra.
Andhara menjadi kaget dengan pengakuan Ezra, ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Andhara mencoba menetralkan jantungnya, dan mencoba mencerna baik baik kata dari Ezra tadi.
__ADS_1
"Wih sahabat gue akhirnya ngaku,"
“Jadi lo suka dia dari kapan?” pancing Adnan.
“Pertama masuk,” jawab Ezra singkat.
“Pandangan pertama berarti.” sorak Adnan.
Belum lagi habis keterkejutannya dengan pengakuan Ezra tadi, Andhara di kejutkan lagi dengan fakta bahwa Ezra tertarik padanya saat pertama kali ia dan Ezra bertemu.
Jadi selama ini kekaguman Andhara tidak hanya dirasakan olehnya, tetapi hal tersebut di rasakan oleh Ezra juga.
Mendengar pengakuan Ezra, hati Andhara seakan berbunga bunga. Ada rasa Bahagia dan kaget bercampur jadi satu.
Setelah makanan mereka bertiga habis, mereka bergeges kembali ke kantor. Di dalam mobil Andhara menjadi diam tak bersuara, ia bingung harus berbicara apa. Karena pengakuan dari Ezra tadi masih membuatnya sedikit canggung.
Tak berselang lama mereka akhirnya tiba di perusahaan, saat memarkirkan mobilnya, Adnan mendengar suara ribut yang berasal dari meja resepsionis, jadi Adnan memutuskan untuk turun terlebih dahulu.
“Ada apa ini ribut- ribut?” tanya Adnan.
Semua karyawan yang berada di sana kaget dan menatap takut ke arah Adnan.
Bagaimana tidak saat ini wajah Adnan tampak sangat kesal, alasannya? karena mereka bertiga baru saja merayakan keberhasilan mereka, tapi masih ada saja gangguan yang tidak penting.
“Kenapa kalian berkumpul di sini, apakah ada tontonan Gratis?” kesal Adnan.
Adnan kemudian mendekat ke arah meja resepsionis tempat keributan bermula. Ia melihat ada seorang Wanita yang tengah menatap sinis kearah resepsionis.
“Ada apa ini?” tanya Adnan pada Resepsionis.
“Begini pak, nona ini adalah Leyna Viandra. Nona ini mengaku sebagai tunangan Pak Ezra dan memaksa untuk masuk menemuinya. Saya sudah melarangnya karena ia tidak ada bukti dan juga sudah peraturan disini, untuk membuat janji agar bisa bertemu dengan Pak Arya.” jelas Resepsionis.
“Kamu pasti Tangan kanan Arya kan? Di mana dia saya ingin bertemu!” kata Leyna sombong.
__ADS_1
“Maaf sebelumnya nona, seperti yang resepsionis kami jelaskan tadi. Bahwa tidak sembarangan orang yang bisa menemui bos kami sebelum membuat janji dengannya terlebih dahulu,” jelas Adnan sopan.
...Bersambung...