
Bahkan bujukannya tadi seperti di anggap angin lalu oleh Andhara, pikiran Andhara saat ini sudah tertuju sepenuhnya pada Anaya. Ezra bisa melihat kasi sayang Andhara yang begitu besar pada Anaya.
Meskipun Anaya bukan anak kandungnya, tapi kasih sayang Andhara melebihi ibu kandung dari Anaya sendiri. Sekarang Ezra mengerti mengapa Andhara sangat menginginkan Anaya untuk menjadi anaknya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Andhara, Adnan dan Ezra tiba di panti asuhan. Andhara langsung turun dan masuk, kebetulan ibu panti sudah menunggu mereka di pintu masuk.
“Bu Anaya nya mana?” tanya Andhara.
“Di kamar nak,” jawab Ibu panti.
Setelah mendengar jawaban dari ibu panti, Andhara bergegas masuk dan menuju kamar Anaya.
Perlahan Andhara membuka pintu kamar Anaya pelan, di lihatnya Anaya sedang terbaring lemas di tempat tidur.
Andhara pun mendekati Anaya, ia duduk di tepi tempat tidur Anaya.
Andhara mengelus rambut hitam Panjang milik Anaya, dia sangat sedih melihat keadaan Anaya seperti ini. Perlahan Anaya membuka matanya.
“Mama!” ucap Anaya.
“Iya sayang mama di sini,” ucap Andhara sambil memegang tangan Anaya.
“Naya kangen mama, mama nggak pernah ke sini lagi,”
“Maafin mama ya sayang, mama janji nggak bakal ngilangin ini lagi.” Ucap Andhara yang disambut anggukan dari Anaya.
“Tapi Naya juga harus janji sama Mama, Naya harus di periksa dokter ya sayang biar cepat sembuh,”
“Iya ma, Naya mau di periksa sama bu dokter,”
Kemudian Andhara meminta kepada ibu panti agar menelpon pihak rumah sakit untuk datang dan memeriksa keadaan dari Anaya, sementara itu Andhara dan Ibu panti berada di luar sambil duduk dan berbincang di ruang tamu.
Setelah beberapa menit dokter akhirnya datang, setelah itu dokter, ibu panti beserta Ezra masuk ke dalam kamar Anaya. Melihat dokter Andhara segera bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Dokter untuk duduk.
__ADS_1
Dokter pun memeriksa keadaan Anaya, “Kondisinya tidak terlalu parah, ia hanya harus rutin minum obat dan beristirahat, maka ia akan pulih sepenuhnya,” kata sang Dokter.
Dokter pun meresepkan obat untuk Anaya, setelah itu sang Dokter pamit karena masih ada pasien yang harus ia tangani di rumah sakit. Setelah kepergian sang Dokter, Andhara berencana untuk membeli obat tapi di tahan oleh Ezra.
“Biar aku saja yang mengurusnya, kau temani saja Anaya,” kata Ezra.
Andhara pun menurut, ia menyerahkan resep dokter kepada Ezra dan Kembali ke kamar Anaya. Saat samapi Andhara melihat jika Anaya sedang tertidur, karena tidak ingin menganggu istirahat sang putri, Andhara memutuskan untuk bergabung dengan ibu panti di ruang tamu sambil menunggu Ezra Kembali.
“Kenapa keluar nak?’ tanya ibu panti.
“Anaya nya tidur bu, Andhara nggak mau ganggu,” jawab Andhara.
Ibu panti hanya mengangguk, akhirnya mereka berdua berbincang-bincang di ruang tamu. Tak lama datanglah Ezra dan Adnan dari membeli obat, tampak di tangannya Ezra memegang kantong kresek yang ia tebak berisi obat Anaya.
Ezra menghampiri Andhara dan ibu panti, lalu meletakkan obat tersebut di atas meja.
“Kenapa keluar Ra?” tanya Ezra.
“Anaya nya tidur mas,”
Ezra mendapat telpon dari manajer di sana, ia memberitahu bahwa ada urusan penting di kantor yang harus ia urus. Dengan sangat terpaksa mereka bertiga pamit pulang, tapi sebelum pulang Andhara ke kamar Anaya terlebih dahulu.
Dilihatnya sang putri masih terlelap dalam tidurnya, Andhara hanya mengecup pelan kening Anaya dan mengelus lembut rambutnya. Setelah dari kamar Anaya mereka bertiga pun benar benar pamit.
Di sebuah tempat kumuh, tempat yang dipenuhi dengan para preman dan penjahat bebas berkeliaran di sana. Seorang preman tampak menghampiri seseorang yang ternyata adalah bosnya.
“Lapor bos, pendapatan kita semakin menurun. Para warga disini banyak yang pindah ke kota lain,” lapornya.
Sang bos yang mendengar itu nampak sedang berpikir, ia menyuruh bawahannya untuk Kembali.
“Sepertinya sudah saatnya untuk Kembali dan memulai pemerasan,” gumam sang bos preman.
Bos preman tersebut bernama Toni, ia merupakan preman yang sangat ganas di wilayahnya saat ini. Maka tak heran ia memiliki banyak bawahan, bahkan warga yang berada di sana semua sangat patuh padanya.
__ADS_1
Sebab jika tidak patuh maka mereka akan di siksa sampai menghembuskan nafas terakhirnya, kenapa sampai sekejam itu? Ya karena Toni ini adalah bekas pembunuh bayaran, ia menjadi preman karena saat ini ia menjadi buronan semua polisi yang ada di kota itu.
Toni kemudian menekan nomor seseorang di ponselnya, tak butuh waktu lama seseorang yang ia telpon pun mengangkatnya.
Tampak Toni berbicara dengan santai pada orang itu, terdengar dari nada bicaranya ia sedang mengancam orang yang ia telpon.
Setelah beberapa menit bersitegang melalui sambungan telpon, sebuah senyum tipis terbit di bibir Toni.
Ini berarti mereka berdua telah mencapai kesepakatan, dan tentu saja kesepakatan itu lebih menguntungkan Toni daripada lawan bicaranya.
Meninggalkan Toni di tempat kumuhnya, kini kita beralih pada perusahaan No 3 di Indonesia. Tampak seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi kebesarannya, ia tampak sedang sibuk dengan setumpuk berkas yang berada di atas mejanya.
Semua berkas tersebut perlu ia tanda tangani, namun ia perlu mempertimbangkan berkas tersebut. Sebagai pemilik dari perusahaan terkaya dan berpengaruh di Indonesia banyak orang yang ingin bekerja sama dengannya, bahkan tak jarang ada yang iri dengan mereka.
Saat tengah fokus dengan beberapa berkas, ponselnya tiba tiba berdering. Saat ia melihat ponselnya terdapat nomor yang tak dikenal, karena ia penasaran dengan penelpon ia memutuskan untuk mengangkat telpon tersebut.
“Halo,”
“Halo tuan Viandra,” kata orang tersebut.
“Dari mana anda tau nama saya?” tanyanya.
“Anda sudah lupa dengan saya tuan,” kata orang itu.
“Kau … Toni?”
“Ya benar sekali tuan, ternyata anda masih mengingat saya dengan baik,”
“Mau apa kau menelpon ku, bukannya urusan kita sudah selesai beberapa tahun yang lalu,”
“Benar tuan, tapi saya sedang sangat membutuhkan uang, jadi saya harap anda bisa memberikan saya yang saya minta, jika tidak saya menguak kejadian beberapa tahun yang lalu ke hadapan publik.”
“Kau memang benar benar preman, kau sengaja mencoba memeras saya dengan kejadian itu. Saya tidak akan pernah menurutimu,”
__ADS_1
“Terserah anda tuan, tapi beberapa hari yang lalu ada seorang polisi bertanya tentang petunjuk kejadian itu dan ia memberikan saya nomornya. Saya bisa saja menghubunginya sekarang juga, dengan begitu kita berdua bisa mendekam di penjara bersama,” ancam orang tersebut.
Hai semuanya, maaf ya Author update nya lama. author cuman mau kasi tau sebentar lagi novelnya end, rencana Author mau buat season duanya. cerita tentang kehidupan Andhara dan Ezra setelah menikah, menurut kalian bagus di lanjut atau di pisah aja? Komen ya🤗