
Tak sampai di situ Liana juga sudah menyuruh orang untuk mengecek CCTV yang menuju ke arah Apartemen Ezra, dan hasil laporannya sekali lagi mengejutkan dirinya.
Semua perkataan dari Ezra benar, ia tak melihat Caroline bahkan Caroline pun tidak melihat Caroline ke arah Apartemen Ezra.
Liana benar benar menganggap dirinya sebagai orang tua yang bodoh, bisa bisanya dia tidak mempercayai perkataan dari kedua anaknya.
Pertama, ia sudah percaya akan laporan palsu yang menuduh putrinya.
Kedua, karena ia di liputi amarah ia sampai mengatakan kata yang tidak pantas ia ucapkan pada putrinya sendiri.
Ketiga, ia sudah menuduh putranya yang bersekongkol dengan Andhara untuk menyembunyikan Caroline.
Liana sangat menyesal dengan semua perbuatannya, bahkan ia sudah bisa menebak jika sekarang kedua anaknya sudah pasti membencinya.
Liana juga sudah menelpon beberapa anak buahnya untuk membereskan orang yang sudah memberinya laporan palsu kemarin malam.
Setelah semuanya beres, ia kini fokus untuk mencari keberadaan putrinya.
Berkali kali ia mencoba untuk menelponnya tapi sepertinya Caroline sengaja mematikan ponselnya atau dia sudah memblokir nomor mamanya.
Sementara itu di apartemen Ezra, Caroline sudah berada di pelukan Andhara.
Setelah mengetahui siapa yang menelpon kakaknya tadi, dia sudah mengatakan pada Ezra untuk tidak memberi tahu sang Mama keberadaannya.
“Sayang, kenapa kamu tidak ingin bertemu dengan tante Liana, dia pasti khawatir sama kamu,” ucap Andhara.
“Untuk sekarang aku tak ingin bertemu dengan mama kak,” kata Caroline.
“Kenapa kamu ada masalah dengan tante Liana?” tanya Andhara.
Caroline bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan dari Andhara, ia juga tak mungkin memberi tahu jika pertengkarannya dengan sang Mama karena Andhara.
Jika ia memberi tahu Andhara, Andhara pasti akan merasa sedih dan bersalah atas pertengkaran ini.
Caroline pun beralih menatap kakaknya meminta bantuan, Ezra yang mengerti dengan arti tatapan sang adik mulai angkta bicara.
“Sudahlah sayang, mungkin ini hanya pertengkaran biasa. Hanya saja Caroline yang membersar besarkannya.” ucap Ezra.
“Tapi tante Liana bagaimana?”
“Mama tidak akan kenapa kenapa sayang, percayalah.”
“Baiklah, terserah kamu saja,”
“Dari pada kita sedih di sini mending ke mall yuk Lin belanja,” ajak Andhara.
“Wahh boleh tuh kak, aku juga dah lama nggak ke mall. Kak Andhara yang traktir ya, kan kakak yang ngajak, heheh,”
__ADS_1
“Oke kakak yang traktir, kamu boleh beli sepuasnya,”
“Kak Andhara keren banget, tapi kakak yakin kalau aku bisa beli sepuasnya.”
“Yakinlah, kamu nggak perlu takut kakak nggak akan bangkrut kok. Kan pake uang kakak mu,” kekeh Andhara.
Sementara itu Ezra yang ujung ujungnya menjadi sasaran dari kedua perempuan yang haus belanja ini, hanya bisa pasrah dan mengikuti kehendak dari Andhara.
“Emang kak Ezra mau gitu, kan dia pelit banget,” ejek Caroline.
“Mau kan sayang?” tanya Andhara.
“Apapun untuk mu,” ucap Ezra lalu memeluk pinggang Andhara.
Caroline yang melihat adegan tersebut berdecik kesal, sang kakak bermesraan tepat di depannya yang notabenenya adalah jomblo akut.
“Kalian ini, udah ah kita berangkat sekarang. Akunggak sabar pengen belanja ngabisis uang Kak Ezra,”
“Maupun kamu beli seluruh mall nya itu nggak akan bikin kakak bangkrut Lin, apalagi kamu belanjanya di mall keluarga kita,”
“Iya juga ya kak, yaudah yuk kita let’s go sekarang,”
Mereka bertiga pun segara keluar dari Apartemen dan menuju ke mall, tak butuh waktu yang lama mereka pun telah sampai di mall.
Kedatangan mereka tentu saja menarik perhatin, dengan wajah cantik yang dimiliki Andhara dan Caroline.
Juga ketampanan yang di miliki oleh Ezra, kedatangan mereka sungguh menjadi pemandangan yang sangat langka.
Baik Andhara, Ezra maupun Caroline tidak menanggapi mereka, karena mereka bertiga sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.
Saking senangnya Caroline menarik tangan Andhara ke salah satu toko pakaian, Ezra hanya bisa pasrah mengikuti dua Wanita ini.
Sambil melihat mana yang cocok untuknya, Andhara berbalik untuk melihat Ezra.
Ia mendapati Ezra yang duduk di sofa toko tersebut, sepertinya dia mulai lelah mengikuti mereka berdua yang tidak ada habisnya mengelilingi toko tersebut.
“Dek kamu pilih dulu ya, kakak mau nyamperin kakakmu dulu,” kata Andhara.
“Oke kak, jangan lama lama ya,”
Andhara pun berjalan mneghampiri Ezra, Ezra yang menyadari kehadiran dari Andhara pun memberikan tempat untuknya duduk.
“Loh kenapa ke sini yang? Udah selesai belanjanya?” tanya Ezra.
“Belum, Caroline masih milih baju,”
“Kamu nggak milih juga?”
__ADS_1
“Milih sih tadi, baju ku udah di pegang sama Caroline.
“Terus kenapa nggak lanjut milih lagi,” heran Ezra.
“Mau nemenin kamu, aku liat kamu capek ya ngikutin kita,”
“Nggak yang,”
“Nggak usah bohong, tadi aku liat kamu keringetan,”
“Hehehe, abisnya kalian itu jalan nya cepet banget. Terus blok pakaian yang udah di lewatin masih ke sana buat liat baju, jadinya kan aku capek yang,”
“Maaf ya, cewe memang gitu kalau belanja, lama.”
“Nggak papa sayang, yaudah kamu ke Caroline lagi buat milih baju. Aku nungguin kalian di sini,” ucap Ezra dengan lembut sambil mengusap rambut Andhara.
Andhara pun memberikan satu kecupan sebelum benar benar pergi dari sana, Ezra pun terkejut dengan Tindakan dari Andhara.
"Yang kok cuman segitu?" teriak Ezra karena Andhara sudah jauh melangkah.
"Hadiah untuk Mas, biar makin sabar nemenin kita belanja," jawab Andhara kemudian benar benar pergi mencari Caroline.
Ezra hanya bisa tersenyum sambil memandang ke arah Andhara pergi.
Sementara itu beberapa karyawan toko yang melihat adegan tersebut, mulai berbisik dan kagum dengan sikap romantis dari kedua pasangan sejoli itu.
Tak sedikit dari mereka yang merasa sangat iri.
“Udah milihnya Lin?” tanya Andhara setelah menemukan adik iparnya.
“Udah cukup kok kak, kalau kakak nggak mau milih yang lain gitu,”
“Udah cukup Lin, yaudah yuk kita ke kasir bayar!” ajak Andhara.
Mereka berdua pun bergegas ke kasir untuk membayar dan memanggil Ezra untuk pergi dari sana.
Setelah keluar dari toko Andhara dan Caroline pergi ke beberapa toko untuk melihat lihat, mereka membeli banyak barang yang menurut mereka lucu dan cocok untuk mereka.
Setelah puas berbelanja mereka pun pergi ke restoran untuk makan, karena saat itu sudah hampir siang.
Jadi mereka pun merasa sangat lapar, mereka memilih restoran seafood untuk mereka singgahi.
Mereka memesan beraneka ragam makanan, sebenarnya itu hanya Caroline yang memesannya.
Sementara itu Andhara dan Ezra hanya memesan satu menu makanan dan minuman.
Kelihatannya Caroline sangat lapar, Ezra pun tak melarang adiknya untuk memesan banyak. Hanya saja ia mengingatkan adiknya untuk menghabiskan semua makanan yang sudah ia pesan, karena jika tidak itu akan mubadzir.
__ADS_1
mampir yuk ke novel teman Author!