
Dengan kencang Farel berlari di koridor rumah sakit, ia berharap akan menemukan Vania kali ini, segera ia menuju ruang rawat VIP yg ditunjukkan oleh Sisil rekan kerja yg menelponnya tadi. Dengan kasar ia buka pintu tersebut namun naas ruang itu kosong, di carinya lagi di sekeliling rumah sakit namun sama nihil, tak kunjung ia temukan sosok gadis itu.
Segera ia bergegas ke meja informasi menanyakan keberadaan pasien atas nama Vania.
"Saya mau tanya benarkah disini ada pasien luka tangan atas nama Vania." Tanya Farel.
"Sebentar saya priksa dulu." Jawab petugas sembari mengutak atik komputernya.
"Benar tuan, tapi sudah pulang setengah jam yg lalu." Sahut petugas itu lagi.
"Baiklah terima kasih." Ucap Farel langsung meninggalkan rumah sakit itu.
Kamu dimana Van? semoga kamu baik2 saja.
Sepanjang perjalanan doa tak henti Farel panjatkan, ia berharap sempat menyusul Vania yg meninggalkan rumah sakit setengah jam yg lalu. Kembali ia mengelilingi kota itu, beberapa kali juga menghubungi polisi, namun tidak ada kemajuan dalam kasus hilangnya Vania sampai saat ini. Dia pun terpikirkan pada pria yg mengaku suaminya, Farel yakin pasti pria itu juga yg menyembunyikan Vania.
****
__ADS_1
Flashback on
"Argh.. Aku dimana?". Ucap Vania yg baru siuman, dia merasakan sakit disekujur tubuhnya, terutama tangan kanannya yg diperban. Sejenak ia teringat apa yg telah terjadi tadi siang, ia sadar bahwa ia baru saja membahayakan nyamawanya sendiri.
"Kamu gppa? mana yg sakit?". Ucap Rama khawatir sambil memeriksa tubuh Vania.
"Apa pedulimu?". Jawab Vania sinis.
"Saya lihat kamu sudah bisa melawan saya, itu artinya kamu sudah sehat, sekarang kita pulang." Ajak Rama segera mengemasi barang2 Vania.
"Nggak, itu bukan rumah saya. Saya mau pulang ke rumah saya, saya nggak mau ikut kamu." Tolak Vania keras.
"Apa kamu gila? memaksa seorang gadis yg tidak mengenal dirimu untuk tinggal bersamamu? bahkan kamu mengurungnya seperti peliharaan. Kamu pikir aku bahagia dengan kemewahan yg kamu tawarkan?? Salah besar!! Anda sangat salah." Jawab Vania sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Lalu apa yg membuatmu bahagia?". Tanya Rama menatapnya dingin.
"Saya hanya ingin pulang ke rumah dan melanjutkan kehidupan saya sebagaimana mestinya sebelum bertemu denganmu." Jawab Vania.
__ADS_1
"Apapun yg kamu inginkan akan saya wujudkan, kecuali meninggalkanku. Sampai kapan pun kamu hanya boleh tinggal disisiku."
Di tengah perdebatan itu tiba2 ada yg mengetuk pintu.
Tokk tokk tokk
"Masuk".
"Permisi pak, masalah administrasi sudah saya selesaikan, sekarang nona sudah bisa pulang." Ucap Angga sesekali melirik Vania, ia masih saja heran, mengapa wajah gadis itu mirip sekali dengan mendiang Reina tunangan Rama yg meninggal karena kecelakaan.
"Baiklah, bantu saya bawa barang Vania ke mobil, saya akan menyusul." Perintah Rama yg dijawab dengan anggukan.
"Sudah saya katakan berkali kali saya tidak sudi pulang dengan anda. Apakah anda tidak mengerti bahasa manusia?". Sahut Vania marah.
"Baiklah akan ku gunakan caraku sendiri untuk membawamu pulang."
Segera Rama menutup hidung gadis itu dengan sapu tangan yg telah diberi obat bius. Entahlah kini Rama sudah gila atau apa, dirinya selalu siap sedia dengan obat itu, ia berpikir hanya cara itu yg dapat membuat Vania menurut.
__ADS_1
Setelah dirasa sudah tidak ada pergerakan dari gadis itu, segera ia mengambil kursi roda, dan membawa paksa Vania kembali ke villanya.
Flashback off