
"Mom, kenapa mom bawa dia kesini?". Tanya Rama yg baru datang.
"Mom kesepian Ram, daddymu sering keluar kota, kamu juga nggak mau tinggal sama mom kan, jadi ya mom bawa saja Vania." Ucap Sandra acuh.
"Tapi kan dia milikku mom, dia cuma bisa tinggal denganku."
"No!! sekarang dia putri mom, kamu nggak berhak bawa dia ataupun nyakitin dia." Tegas Sandra menolak.
"Nggak bisa gitu dong, ayolah mom, aku nggak bisa kalo nggak lihat dia, sekarang biarkan aku membawanya pulang lagi ya." Pinta Rama yg akan menarik tangan Vania, namun dihalangi oleh Sandra.
"Vania sayang kamu ke kamar dulu ya, biar mom yg bicara sama Rama." Ucap Sandra lembut.
"Baiklah nyonya, saya permisi." Jawab Vania kemudian berjalan menuju kamar barunya.
Setelah melihat Vania sudah benar2 masuk, Sandra mengajak anaknya untuk duduk dan membicarakan apa yg akan ia rencanakan.
"Ram, apa pernah mom ngajarin kamu buat bersikap kurang ajar sama wanita?". Tanya Sandra kesal.
__ADS_1
"Maaf mom, dia senang sekali membangkang dan membuatku marah, aku benar2 kehilangan kendali." Jawab Rama.
"Mom kan sudah bilang, jangan pernah memaksanya, jika kamu ingin dia mencintaimu bersikap baiklah, tunjukkan rasa sayangmu, bukan malah mengurung dan melecehkannya seperti itu." Tutur Sandra sedikit geram.
"Tapi dia keras kepala mom, jika aku tidak menculiknya mungkin dia sudah menikah dengan kekasihnya sekarang". Jelas Rama tak mau kalah.
"Jadi dia akan menikah? dan kamu menghancurkannya? benar begitu?". Tanya Sandra penasaran. Ia tak menyangka anaknya akan berani berbuat nekat seperti itu.
"Benar mom, aku menculiknya karena aku terobsesi padanya, dia mengingatkanku pada Reina."
"Huh.. yasudah, kali ini mom akan membantumu, mom sengaja membawanya kesini biar ia bisa merasa nyaman, dan kamu tinggallah disini, bersikap baiklah padanya, buat ia jatuh cinta padamu tanpa ada paksaan." Tutur Sandra.
"Kamu tenang saja, mom akan menjaganya, mom hanya ingin dia nyaman disini, sekaligus menemani mom."
"Baiklah terserah mom saja, tapi nanti jika dia berani kabur dariku, maka akan ku nikahi dia saat itu juga."
"Dasar!! tidak sabaran." Ucap Sandra sembari mengelus kepala Rama.
__ADS_1
****
Vania merasa sedikit beruntung karena kini ia tak lagi di kurung dalam kamar, meskipun ia masih tidak bisa kabur karena dalam pengawasan Rama, setidaknya ia bisa bersantai dan menghirup udara segar diluar.
Kak, gimana kabarmu? kamu pasti bingung dan cemas mencariku, maaf aku belum bisa menemuimu, aku harap selama aku tidak ada kau tetap baik2 saja ya.
Gumam Vania menatap kosong bunga2 indah di taman rumah besar itu. Memikirkan keadaan Farel yg pastinya sangat bingung kehilangan dirinya, apalagi mereka akan menikah.
"Ada apa sayang? apa yg kamu pikirkan?". Tanya Sandra lembut, sedari tadi ia memperhatikan Vania yg hanya duduk sendiri melamun, Sandra paham saat ini yg paling diinginkan gadis itu adalah pulang. Namun ia juga seorang ibu yg ingin membuat anaknya bahagia, jadi sebisa mungkin ia akan tetap membuat gadis cantik itu tinggal disini.
"Tidak nyonya, saya hanya merindukan rumah." Jawab Vania tanpa mengalihkan pandangannya dari bunga indah didepannya.
"Jangan panggil nyonya lagi ya, panggil aku mom seperti Rama. Mom sudah anggap kamu sebagai putri mom, jadi kamu juga bisa anggap mom seperti ibumu." Tutur Sandra sembari menggenggam tangan Vania.
"Terima kasih mom sudah baik padaku, andai saja ibuku masih hidup, pasti akan lebih menyenangkan." Jawab Vania sendu.
"Sudah, kamu jangan sedih lagi ya, mulai sekarang mom akan jadi ibumu, ceritakan keluh kesahmu, suka dukamu, bagi semua itu dengan mom, jangan dipendam sendiri lagi ya sayang." Hibur Sandra dengan memeluknya erat.
__ADS_1
Sedangkan Rama yg melihat pemandangan itu dari jauh merasa ada sedikit rasa bahagia dihatinya.
Andai saja kamu istriku, mungkin akan terasa lebih bahagia lagi dari ini. Gumamnya tersenyum menatap dua wanita yg sangat ia cintai.