Selamanya Milikku

Selamanya Milikku
Pergi jauh


__ADS_3

Pagi ini Farel tiba di kota asalnya, ia berencana mencari Rara untuk menyelesaikan masalah mereka. Dengan berbekal alamat perusahaan, ia mendatangi sebuah gedung yg diyakininya adalah tempat dimana Rara bekerja.


"Selamat pagi, bisa saya bertemu dengan Rara?". Tanya Farel pada resepsionis kantor.


"Maaf apakah sudah ada janji?". Jawab wanita itu sopan.


"Belum, tolong sampaikan saja padanya Farel ingin bertemu." Ucap Farel.


"Baiklah, silahakan di tunggu sebentar."


Resepsionis tersebut mencoba menghubungi seseorang dengan telponnya, setelah beberapa saat kemudian ia memanggil Farel dan memintanya naik ke lantai paling atas gedung itu dan menunggu di depan ruang direktur.


Karena terlihat asing, beberapa karyawan disana penasaran siapa pria tampan yg sedang menunggu direkturnya itu. Tak sedikit juga dari mereka menatap Farel kagum, bahkan sempat mencari cari perhatian dari Farel.


"Maaf ada apa kakak menemuiku?". Tanya Rara yg baru keluar dari ruangannya.


"Bisa aku masuk? kita bicarakan didalam." Jawab Farel.


Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan Rara, Rara yg duduk tegap di kursi kebesarannya. Sedangkan Farel di sofa tak jauh dari situ.


"Baiklah apa yg mau kakak bicarakan?". Tanya Rara to the point.


"Aku ingin minta maaf atas kejadian tempo hari, aku sangat menyesal Ra. Aku tahu tak mudah bagimu untuk memaafkanku, tapi niatku kemari selain ingin minta maaf aku juga ingin melamarmu sebagai istriku, aku ingin mempertanggung jawabkan perbuatanku, jadi ku mohon ijinkan aku untuk belajar mencintaimu." Jelas Farel sambil menatap lekat Rara.

__ADS_1


"Terima kasih kakak sudah bersedia kemari dan mau bertanggung jawab. Tapi maaf aku tidak bisa menerima kakak. Aku tahu saat itu kakak menganggapku sebagai Vania. Hatimu hanya untuk dia, jadi tidak mungkin bagi kita untuk menikah tanpa ada perasaan. Kita lupakan saja kejadian itu, anggap saja tidak pernah terjadi." Ucap Rara menatap Farel sedih.


Pertemuan itu cukup singkat, Rara dengan sengaja mencoba menjauh dari Farel. Hatinya terasa amat sakit jika melihat pria itu dan akan teringat kejadian memilukan yg ia alami tempo hari. Farel pun hanya bisa pasrah, ia tak mungkin akan memaksa Rara untuk menerima dirinya. Ia tahu semua karena kesalahannya. Mungkin setelah ini ia harus pergi ke tempat yg sangat jauh, baik dari Rara maupun dari Vania. Ia akan berusaha melupakan semuanya dan memulai hidupnya dari awal hanya dengan mamanya.


Apa aku salah? Aku ingin sekali menerimamu kak, tapi aku juga takut jika tahu hatimu tak akan pernah terbuka untukku. Semoga kau akan selalu bahagia.


Ucap Rara sedih setelah kepergian Farel. Bagaimanapun caranya ia harus bisa melupakan pria itu. Jika memang nanti mereka berjodoh, ia yakin Tuhan pasti akan mempertemukan mereka kembali.


****


Sepulang dari kantor Rara, Farel bergegas menemui Vania untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Dengan susah payah ia mencari alamat rumah Rama dan akhirnya berhasil menemukannya.


"Maaf anda cari siapa?". Tanya si penjaga gerbang pada Farel yg dari tadi bolak balik di depan gerbang.


"Anda siapanya? saya tidak bisa membiarkan sembarang orang untuk masuk". Ucap satpam itu lagi.


"Bilang saja padanya Farel ingin bertemu."


"Baiklah tunggu sebentar."


Setelah beberapa saat akhirnya Farel diijinkan untuk masuk dan diminta menunggu di ruang tamu.


"Kakak..." Ucap Vania berlari dan langsung memeluk Farel.

__ADS_1


"Aku merindukanmu Van." Balas Farel yg langsung menerima pelukan itu.


"Maafkan aku kak, aku menghianatimu. Aku salah, maafkan aku".


Vania menangis terisak dipelukan Farel, menumpahkan segala beban dan sakit yg ia rasakan.


"Sudah jangan menangis, mungkin kita memang tidak berjodoh. Kakak harap kamu selalu bahagia disini, jangan sedih lagi ya." Ucap Farel lembut sembari mengusap air mata Vania.


"Kakak kok bisa tahu aku disini?". Tanya Vania heran.


"Tidak penting kakak tahu dari mana. Yg jelas niat kakak kesini kakak mau pamit sama kamu, kakak akan ke singapura besok. Kakak mau memulai hidup baru disana sekalian bekerja." Jelas Farel.


"Kenapa? kakak enggan bertemu denganku lagi? kakak membenciku?". Ucap Vania khawatir.


"Tidak mungkin kakak bisa membencimu, kakak sangat menyayangimu. Kamu jaga diri baik2, jangan lupa makan, kakak yakin dia bisa membuatmu bahagia lebih dari kakak. Kakak pamit ya?".


"Kak..." Memeluk Farel lagi sambil menangis.


"Jangan nangis, kamu jelek." Goda Farel mencoba menghibur.


"Baiklah, tapi janji ya jangan pernah lupain aku. Sering2 lah kemari, jangan lupa makan juga sekalipun kau sangat sibuk." Ucap Vania yg masih terisak.


"Iya tenang saja, kakak pamit ya. Salam buat suamimu. Kakak pergi."

__ADS_1


Akhirnya dengan berat hati Farel harus pergi jauh dari orang2 yg ia sayangi. Ia berharap dengan kepergiannya semua akan kembali seperti semula. Berharap akan ada jalan yg indah untuk dirinya juga mereka yg ia cintai.


__ADS_2