
"Van gimana? kalian ngomongin apa tadi?". Tanya Farel antusias yg melihat Vania baru keluar dari kamar Rosa.
"Gppa kak, tante cuma nanya kabar aku aja." Jawab Vania lembut mencoba menyembunyikan sakit hatinya.
"Kenapa kelihatan murung gitu?" Tanya Farel lagi.
"Ah.. ini cuma lelah aja. Aku pulang dulu ya kak, kakak disini aja jagain tante. Nanti kalo ada waktu aku kesini lagi."
"Jangan pulang sendirian sayang, takutnya nanti Rama bisa menemukanmu." Ucap Farel khawatir.
"Kakak tenang saja, aku bisa jaga diri kok. Nanti kalo ada apa2 aku bakal hubungin kakak." Jawab Vania berbohong.
"Baiklah kamu hati2 ya. Ada apa2 langsung kabarin kakak."
"Iya kak, sampai jumpa".
****
"Gimana ngga? ada kabar dari Vania?". Tanya Rama pada asistennya.
"Sudah pak, dia kembali 2 jam yg lalu."
__ADS_1
"Baiklah, kamu bisa pulang. Biar sisanya saya yg urus." Perintah Rama yg dijawab anggukan oleh angga.
Aku yakin kamu pasti sedang dalam perjalanan kemari. Kali ini kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku sayang. Gumam Rama dengan senyum smirknya.
Brakk..
Tak lama kemudian terdengar suara pintu yg dibuka dengan kasar.
"Rama.... Dimana kamu?". Teriak Vania. Ia sudah sangat marah kali ini.
"Akhirnya kamu kembali sayang." Jawab Rama menghampiri Vania mencoba memeluknya.
"Tidak sayang, mati pun kamu harus meminta ijin dariku. Dan ya itu bukanlah ancaman, sekali kamu melangkah keluar dari pintu ini. Saat itu juga kamu akan melihat kesayanganmu itu hancur tak berdaya."
"Rama sialan... aku punya salah apa sama kamu hah?? Apa??". Teriak Vania frustasi dan mencoba menahan tangisnya.
"Aku hanya ingin kamu disisiku, setelah itu aku akan melepaskan kekasihmu." Jawab Rama dingin."
"Baiklah. Tapi jika kamu berani menyentuhnya, aku sendiri yg akan menghabisimu." Ancam Vania dan bergegas lari kembali kekamarnya yg dulu.
Rama tersenyum penuh kemenangan melihat Vania menyerah. Akhirnya ia akan segera memiliki gadis itu. Dia sama sekali tak ada niat untuk menyiksanya, ia ingin membuat gadis itu bahagia disisinya, menjaganya. Hanya saja cara yg ia gunakan amat salah.
__ADS_1
Sedangkan Vania hanya bisa menangis frustasi menerima kenyataan ini. Dalam hati ingin sekali lari dari Rama, namun ia takut ancaman itu akan benar2 Rama lakukan. Ia tak ingin melihat keluarga Farel menderita karena ke egoisannya.
****
"Sayang waktunya makan malam". Ucap Rama lembut menghampiri Vania dikamarnya.
"Makan saja sendiri." Jawab Vania ketus.
"Kamu pilih makan dibawah bersamaku, atau aku yg akan memakanmu disini." Ancam Rama mulai mendekati Vania.
"Sialan.. " Umpat Vania kasar kemudian bergegas turun ke meja makan.
Rama benar2 membuatnya kesal, ingin sekali ia melempar pria itu ke antartika. Hidupnya terasa makin kacau setelah bertemu dengan pria itu. Namun ia juga merasa ada yg berbeda tiap kali didekat Rama. Ada perasaan bahwa dirinya sudah mengenal pria itu lama. Entahlah, sebisa mungkin ia harus membentengi hatinya agar tidak akan pernah jatuh cinta dengan Rama.
"Makan yg banyak sayang, tubuhmu kecil lemah begitu, mana bisa melawanku." Ejek Rama yg membuat Vania makin kesal.
"Diam!!! Atau aku tidak akan melanjutkannya." Ucap Vania geram.
"Sayangku garang juga ternyata, emm manisnya." Jawab Rama sambil menunjukkan sisi imutnya.
"Terserahmu saja, aku sudah selesai." Ucap Vania kesal lalu bergegas meninggalkan meja makan dan menuju kamarnya kembali.
__ADS_1