
"Bunda.. Kapan ayah bangun? Ayah nggak suka ya sama Ken? nggak mau ya main sama Ken?". Ucap Kenzo sedih dan merajuk pada bundanya.
Ya kini usia kenzo sudah 5 thn, selama itu pula Rama tak kunjung sadar dari tidur panjangnya. Vania keras kepala masih ingin mempertahankan pria itu disisinya. Ia tak sanggup melihat alat2 itu dicabut dari tubuh Rama, yg mana hal itu akan mengakhiri nafas suaminya detik itu juga.
"Tidak sayang, ayah sangat menyayangimu. Hanya saja dia terlalu lelah bekerja makanya sampai sekarang belum bisa bangun. Ken doain aja ya semoga ayah lekas sembuh dan bisa mengajak Ken main tiap hari". Tutur Vania mencoba menghibur anaknya.
"Temen2 disekolah sering ejek Ken bunda, mereka bilang Ken nggak punya ayah. Mereka nggak mau main sama Ken." Rengek Kenzo sambil menangis memeluk Vania.
"Udah.. Jagoan bunda nggak boleh nangis. Mungkin temanmu belum tahu kalau ayah Ken sakit. Biar nanti bunda yg ngomong sama temen2 Ken ya.." Bujuk Vania mengelus kepala anaknya.
"Iya bunda.. Sekarang Ken mau bunda yg anter Ken kesekolah, biar mereka nggak bisa gangguin Ken lagi."
"Baiklah sayang, yuk siap2."
***
Selama 5 thn terakhir ini Vania benar2 disibukkan dengan banyak pekerjaan. Ia harus mengurus perusahaan Rama sekaligus menjaga Kenzo, lelah itu pasti. Tapi Vania berusaha untuk terus bertahan demi kedua pria kesayangannya.
__ADS_1
Tokk tokk tokk..
"Masuk"
"Maaf nyonya ada ceo Anggara grup ingin bertemu." Ucap Angga sopan pada bosnya yg tengah sibuk.
"Kenapa lagi sih tu orang, baiklah persilahkan masuk". Jawab Vania kesal.
Tak lama kemudian masuklah pria tampan yg merupakan ceo Anggara grup, partner perusahaan Rama. Sudah 3 tahun ini pria itu mencoba mendekati Vania, dia sangat tertarik dengan wanita itu. Wanita pekerja keras, dan ibu yg baik.
"Ceo yg terhormat senggang sekali ya.. Bisa jalan2 dijam kerja seperti ini." Jawab Vania sarkas.
"Ah tentu.. ngapain pula aku memperkerjakan karyawan kalau semuanya juga aku yg tangani". Ucap Evan dengan entengnya.
Aku tahu aku salah mendekati wanita bersuami sepertimu, tapi aku pun tidak bisa menahan perasaanku sendiri Van. Aku menyukaimu.
Gumam Evan dalam hati sembari memandang wanita cantik didepannya ini.
__ADS_1
"Jika tidak ada yg penting aku mohon pergilah, jangan menggangguku!!." Usir Vania yg sudah sangat kesal.
"Kok ngusir sih.. Mau aku bantuin nggak? Jarang2 loh aku baik.." Ucap Evan mencoba menggodanya.
"Terima kasih tuan Evan yg terhormat. Tapi saya tidak butuh bantuan anda, jadi pergilah." Jawab Vania kesal.
"Hmm iya iya.. jangan emosi dong!! Iya aku pergi nih, jangan lupa makan siang ya.. sampai jumpa lagi cantik". Mengedipakan matanya sejenak lalu bergegas pergi.
Vania selalu dibikin emosi setiap kali bertemu dengan Evan, Evan tahu jelas bahwa dirinya bersuami dan memiliki anak. Namun hal itu tak mengurungkan niatnya untuk mengejar Vania. Meski sudah ratusan kali pula Vania menolaknya dengan tegas.
Entah sejak kapan pria lajang itu menyukai dirinya, Namun tak bisa dipungkiri bahwa selama ini Vania juga cukup terbantu dengan adanya pria itu. Beberapa kali perusahannya mengalami kesulitan dan Evanlah yg selalu membantu menangani, karena ya Vania tak sehebat Rama, ayah mertuanya pun sudah sangat lelah mengurus perusahaan.
****
Sayang aku mohon cepatlah sadar, aku sangat merindukanmu.. Aku lelah menghadapi semua ini sendiri, aku butuh kamu Ram.
Lagi2 Vania menangis dalam diam sembari menatap foto suaminya yg ia simpan dalam ponselnya. 5 tahun bukan waktu yg sebentar, itu sangatlah tidak mudah. Tapi cinta pada sang suami dan putranya lah yg membuat ia mampu bertahan sampai saat ini. Menghadapi kesulitan dan rasa sedih seorang diri.
__ADS_1