
Kamu dimana Van? Harus kemana lagi aku mencarimu? Jika memang kamu tidak ingin bersamaku, katakanlah! Jangan pergi dengan cara seperti ini. Gumam Farel yg melamun di tengah hujan deras.
Sudah lebih dari sebulan Vania menghilang, namun Farel tetap bersikeras mencarinya, ia merasa tak sanggup bila harus hidup tanpa Vania. Dia sudah hampir frustasi, jarang makan, sulit tidur, kerjaannya pun berantakan.
Seperti saat ini, dia berjalan tak tentu arah di tengah hujan. Berharap Vania tiba2 ada di depannya, berlarian dan bermain dengan hujan, seperti dulu dimasa kecil mereka.
Karena lamunannya, Farel tak sadar ada mobil dari belakang yg melaju kencang ke arahnya, sang pengemudi pun nampak linglung dan panik berusaha menghentikan mobil itu. Namun naas mobil itu tak mau berhenti dan menabrak tubuh Farel kencang hingga terpental agak jauh.
Dengan tergesa si pengemudi turun dari mobilnya segera menghampiri Farel yg bersimbah darah.
"Tuan sadarlah! ku mohon jangan mati disini."! Ucap gadis itu takut dan menepuk nepuk pipi Farel yg ada dipangkuannya.
Melihat Farel yg sudah tak sadarkan diri segera si pengemudi itu membawa dia ke rumah sakit terdekat.
****
__ADS_1
"Kamu sudah sadar?". Ucap gadis cantik yg kini berdiri di sisi ranjang rumah sakit.
"Maaf saya dimana? dan kamu siapa?". Tanya Farel sambil memegang kepalanya yg diperban.
"Maaf saya tadi nggak sengaja nabrak anda tuan, saya sedang banyak pikiran, dan tidak fokus. Sekali lagi saya minta maaf, saya akan bertanggung jawab merawat anda disini sampai sembuh." Jawab gadis itu penuh sesal.
"Tidak apa, saya juga salah berjalan di tengah jalan seperti tadi, terima kasih sudah mau bertanggung jawab, tapi kamu tidak perlu repot sampai harus merawat saya disini." Tolak Farel.
"Tidak repot sama sekali, saya harus memastikan anda kembali sehat, dengan begitu saya tidak akan merasa bersalah lagi.. Oh ya kenalkan saya Rara." Ucap gadis itu mengulurkan tangannya.
Ditengah percakapan mereka, pintu ruang rawat Farel terbuka.
"Sayang kamu gppa kan? mana yg sakit? sini mama lihat." Ucap Rosa khawatir sembari memeriksa tubuh Farel.
"Aku gppa, mama tenang saja." Jawab Farel menenangkan.
__ADS_1
"Maafkan saya tante, saya ceroboh, saya akan bertanggung jawab dan merawat tuan Farel sampai sembuh." Sahut Rara.
"Iya nak gppa namanya musibah mau gimana lagi, terima kasih ya sudah mau merawat anak tante." Jawab Rosa.
"Baiklah saya permisi sebentar tan mau cari makan di luar." Pamit Rara kemudian bergegas meninggalkan ruang rawat Farel.
"Kenapa bisa begini sayang? kamu melamun lagi? Sudahlah nak, mungkin Vania memang bukan jodoh kamu, jadi mama mohon kamu jangan terus menyiksa diri kamu seperti ini, kamu nggak kasihan sama mama?". Ucap Rosa sedih menatap anak semata wayangnya.
"Maafin Farel ma, Farel cuma belum bisa menerima kepergian Vania yg tiba2, Farel pengen dia jelasin dulu ke Farel, jika memang dia keberatan dan ingin kita pisah, Farel akan berusaha ikhlas."
"Baiklah, tapi kamu juga harus jaga kesehatanmu dan kembalilah bekerja, mungkin dengan kamu sibuk pelan2 kamu akan melupakan dia. Jika kalian jodoh pasti suatu saat akan dipertemukan kembali." Tutur Rosa.
"Iya ma, maaf selama ini Farel selalu bikin mama khawatir." Jawab Farel lalu memeluk mamanya erat.
Aku sangat berharap kita bisa menikah Van, punya anak, dan bahagia hingga kita sama2 menua.. Maaf jika aku masih belum bisa bercerita banyak tentangmu, aku takut kamu akan membenciku bahkan tak mau menemuiku nantinya.
__ADS_1