Selamanya Milikku

Selamanya Milikku
Melepaskan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, Farel yg akan turun untuk makan bersama sejenak berhenti, karena ada panggilan dari mamanya.


"Iya halo ma ada apa?".


"Nak kamu dimana? bisakah kamu pulang sekarang?".


"Memangnya ada apa ma? ada yg penting kah?". Tanya Farel penasaran.


"Sakit mama kambuh nak, tolong kamu pulang segera ya, jika benar kamu telah menemukan Vania kamu ajak sekalian dia kemari, mama juga mau bicara padanya."


"Sekarang kondisi mama gimana? obatnya udah diminum? dan dari mana mama tahu aku sudah ketemu Vania?". Tanya Farel lagi, ia heran bagaimana mamanya bisa tahu ia sudah menemukan Vania.


"Mama di rumah sayang, obatnya sudah mama minum, tapi sakitnya tak kunjung reda. Mama juga nggak mau ke rumah sakit, mama cuma mau kamu pulang sekarang sama Vania." Ucap Rosa tak ingin dibantah.


"Baiklah, Farel sekarang dirumah nenek yg di Bali ma. Mama tunggu ya Farel akan pulang sekarang. Kalau ada apa2 mama segera kabari Farel, Farel tutup dulu."


Dengan cemas dan khawatir Farel segera merapikan barang2nya dan mengajak Vania untuk kembali pulang, meskipun sebenarnya ia enggan pulang karena takut Rama akan menemukan Vania, namun ia juga takut akan terjadi apa2 pada mamanya.

__ADS_1


"Van ikut aku pulang ya, mamaku tiba2 sakit, aku takut dia kenapa2. Kamu nggak keberatan kan? dia juga minta ketemu sama kamu." Ucap Farel yg menghampiri Vania di kamarnya.


"Sakit apa kak? udah dibawa ke dokter belum?" Tanya Vania khawatir.


"Mama punya sakit jantung, dia tadi telpon katanya sakitnya kambuh dan ingin aku segera pulang bersamamu."


"Baiklah aku rapiin barang aku dulu, kakak tunggu dibawah."


Setelah beberapa saat Farel dan Vania pun akhirnya berpamitan pada kakek dan nenek untuk kembali pulang. Dan dengan berat hati pula mereka mengijinkan cucunya itu untuk kembali, karena bagaimana pun kondisi Rosa lebih penting sekarang.


****


"Udah mendingan sayang, mana Vania?". Jawab Rosa sambil celingukan mencari Vania.


"Dia di ruang tamu ma, apa mau aku panggilkan?".


"Iya kamu panggil dia."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Vania masuk menemui Rosa, namun Rosa meminta Farel untuk menunggu diluar agar dirinya bisa bicara empat mata dengan Vania.


"Tante gimana kabarnya? Apa masih sakit?". Tanya Vania lembut.


"Tidak apa, tante sudah mendingan kok. Kamu selama ini kemana? Kamu menghilang sebelum hari pernikahan kalian, apa kamu sudah memiliki pria lain?." Ucap Rosa menuduh.


"Tidak tante, sebenarnya waktu itu ada pria yg terobsesi padaku, dan dia telah menculikku. Untungnya tadi pagi2 sekali aku bisa kabur darinya dan mengajak Farel untuk pergi jauh berharap dia tidak akan menemukan kami." Tutur Vania mencoba menjelaskan.


"Kenapa kamu bisa begitu egois mengajak anak saya pergi jauh bersamamu. Apa kamu tidak memikirkan gimana saya tanpanya?". Ucap Rosa sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Maafkan aku tante, aku terburu buru mengambil keputusan itu tanpa memikirkan hal yg lainnya. Aku hanya takut dia akan menemukan saya jika saya masih disini." Jawab Vania merasa bersalah.


"Sebaiknya mulai saat ini kamu jauhi Farel. Saya nggak mau anak saya terlibat masalah antara kamu dan pria itu. Jika kamu memang sayang pada Farel, jauhi dia. Dengan begitu Farel akan aman."


"Maksud tante apa?"


"Pria itu sudah menemuiku, ia mengaku sebagai calon suamimu. Dia tak segan menghancurkan karir dan masa depan Farel jika kamu tetap melanjutkan hubunganmu dan Farel. Jadi sebagai ibu aku memohon padamu, lepaskan anakku. Aku tak ingin masa depan anakku hancur. Aku mohon." Ucap Rosa sambil berlutut pada Vania.

__ADS_1


"Tidak tante, tante tidak perlu memohon seperti ini. Sekarang aku sudah mengerti. Aku akan meninggalkan Farel jika itu yg terbaik untuknya. Terima kasih buat tante dan Farel yg selama ini selalu membantuku, aku tak akan melupakan kebaikan kalian. Sekali lagi aku minta maaf sudah hampir membuat Farel kehilangan masa depannya. Kalau gitu saya permisi dulu tante." Pamit Vania lalu bergegas keluar dari kamar itu.


__ADS_2