
"Apa kamu gila hah?? Aku sudah bilang aku nggak mau nikah sama kamu!!". Teriak Vania marah dengan keputusan Rama yg tiba2.
"Kamu nggak bisa nolak sayang." Jawab Rama enteng.
"Dasar pria gila!!.... Aku nggak mau."
Karena kesal Vania bergegas pergi meninggalkan Rama yg masih duduk tenang di dalam butik. Sedangkan karyawan yg ada disana hanya bisa saling berbisik membicarakan betapa bodohnya Vania telah menolak pria seperti Rama. Pria dengan sejuta pesonanya. Tampan juga kaya.
Namun sebelum sempat benar2 meninggalkan butik itu jalan Vania terhenti oleh 2 orang berpakaian serba hitam dengan tubuh kekarnya. Ya mereka adalah orang suruhan Rama. Kali ini Rama sungguh sangat berhati hati dalam menjaga Vanianya agar tidak bisa kabur lagi.
"Kalian.. lepas!!" Teriak Vania memberontak.
"Maaf nona anda harus ikut dengan kami." Ucap salah satu pria.
"Siapa kalian? Ku bilang lepas!!". Teriak Vania lagi yg kini mencoba melawan. Namun sayang usahanya sia2, tenaganya tak cukup kuat untuk melawan dua orang berbadan besar yg menyeretnya ini.
Vania diseret dan dibawa pergi ke rumah Rama kembali, disana sudah ada Rama yg menunggu dirinya dengan wajah datar dan dingin. Rasanya sudah habis semua kesabaran yg ia miliki untuk menghadapi sikap Vania yg selalu melawannya.
__ADS_1
"Rama sialan.. Keluarkan aku dari sini!!". Umpat Vania sambil menggedor pintu kamarnya dengan keras.
"Apa kau tuli hah??". Teriaknya lagi yg kini semakin membuat gaduh dengan melemparkan semua barang di kamarnya.
Rama yg sudah sangat marah dan emosi pun segera menghampiri Vania berniat memberi gadis itu pelajaran.
"Sudah puas?". Tanya Rama dengan senyum miringnya mencoba mendekati Vania.
"Mau apa kamu hah? Lep... ummm..
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Rama mendorong gadis itu dan memaksa menciumnya.
"Lepas sialan!!!" Umpat Vania di sela ciumannya. Ia berusaha berontak dan melepaskan diri namun tenaga Rama jauh lebih kuat darinya.
Rama yg sudah dipenuhi amarah juga nafsu segera mendorong tubuh Vania ke ranjangnya. Ditariknya dengan paksa pakaian yg melekat pada gadis itu tanpa ampun.
dan kembali menciumnya kasar, meninggalkan banyak bekas kemerahan dileher dan dadanya, lalu di sentuhnya setiap jengkal tubuh indah Vania tanpa terkecuali yg membuat si empunya semakin berontak dan menangis.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup melakukan pemanasan yg membuat inti gadisnya basah, segera ia memposisikan tubuhnya untuk bisa memasuki gadis itu. Dan ya Rama melakukannya berulang kali dan selalu menumpahkan kenikmatannya ke dalam tubuh gadis itu berharap akan segera tumbuh Rama kecil disana, Vania yg sudah lemas pun pasrah, rasanya sudah tidak ada lagi tenaga untuk melawan pria brengsek di atasnya ini, yg bisa ia lakukan hanya diam dan menangisi nasib buruknya telah bertemu dengan Rama.
Karena lelah dan banyak menangis akhirnya Vania pun tertidur dengan kondisi yg sedikit memprihatinkan, tanpa pakaian, juga tanda merah hampir di sekujur tubuhnya.
Maafkan aku sayang melakukan ini, aku hanya ingin kamu selalu disisiku, karena baik itu dulu, sekarang atau nanti kamu hanya milikku, selamanya milikku.
Ucap Rama sembari mengecup punggung Vania dan memeluknya erat.
****
Pagi pun tiba, Vania yg terbangun kembali menangis mengingat kejadian buruk yg ia alami tadi malam. Ia tak habis pikir ternyata Rama benar2 melakukan ancamannya. Sekarang mau lari pun sudah tidak ada gunanya, Rama sudah mengambil satu2 nya hal berharga yg ia miliki. Hal yg selalu ia jaga untuk suaminya kelak. Ia merasa hancur, marah, kecewa pada dirinya sendiri.
"Sudah bangun sayang". Sapa Rama yg baru keluar dari kamar mandi.
"Puas kamu sekarang?". Jawab Vania dingin tanpa menatap Rama.
"Sekarang kamu bangun dan mandi! sebentar lagi mom akan kesini untuk mengurus pernikahan kita." Ucap Rama lalu bergegas meninggalkan Vania di kamarnya.
__ADS_1
"Rama sialan... Arghhh...." Teriak Vania frustasi, jika membunuh tidak dilarang ia pasti sudah melakukannya sejak lama pada pria brengsek itu.