
Sial apa yg telah ku lakukakan.. Arghhh
Desah Farel sembari meremas rambutnya kasar menyadari dirinya yg terbangun di samping Rara dengan kondisi tanpa busana.
Dia merasa sangat menyesal dan kecewa pada dirinya sendiri, mengapa ia sampai hati melakukan hal berdosa ini pada Rara yg sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Sejenak ia kembali teringat pada Vania, pujaan hatinya yg telah menjadi milik orang lain. Mengingat hal itu hatinya kembali terasa sangat sakit, perjuangannya selama ini sia2. Ia pun tak akan bisa merebut gadis itu untuk kesekian kalinya, apalagi saat ini ia dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia juga telah melukai Rara.
Dilihatnya Rara yg masih tertidur pulas, segera ia langkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah ini entah apa yg akan ia lakukan pada Rara. Mau tak mau ia juga harus mempertanggung jawabkan perbuatan bejatnya pada gadis itu.
Tak lama setelah Farel pergi Rara pun terbangun. Dirasakannya ngilu dan sakit pada sekujur tubuhnya. Ingatannya kembali berputar pada kejadian memilukan yg ia alami tadi malam. Niat baiknya yg akan menolong Farel justru membuat dirinya dalam masalah besar. Ia tak tahu harus berbuat apa, harus senang ataukah sedih. Memang selama ini ia menyimpan perasaan lebih pada pria itu, tapi ia juga tahu diri bahwa sampai kapan pun hati Farel tetap milik orang lain.
Melihat sekeliling kamarnya kosong, segera Rara merapikan dirinya dan meninggalkan Farel yg masih sibuk di kamar mandi. Ia berniat kembali ke kota asalnya untuk melupakan kejadian naas ini dan berharap kelak Farel akan bahagia dengan pilihannya.
__ADS_1
Sakit itu pasti, tapi akan lebih sakit jika memiliki tanpa dicintai.
Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka. Farel mengamati sekelilingnya dan tak menemukan Rara disana. Segera ia merapikan dirinya dan keluar mencari Rara. Setelah lama mencari ia tak kunjung menemukan keberadaan gadis itu. Sudah berkali kali juga ia menelponnya namun ponsel Rara tidak aktif.
Ting tung ting tung..
Tiba2 ponsel Farel berdering terlihat nama mama disana.
"Halo iya ma ada apa?".
"Aku baik ma, tadi malam nginep di rumah temen, sebentar lagi aku akan pulang."
"Baiklah cepat pulang ya, hati2 dijalan. Mama tutup dulu."
__ADS_1
Hufft ...
Farel menghela nafasnya panjang.
Ia merasa dipermainkan oleh takdir, disaat hatinya sedang hancur, ia dihadapkan lagi dengan masalah yg ia buat pada Rara. Gadis itu kini pasti sangat marah dan kecewa, bahkan dia lebih memilih kabur daripada harus meminta pertanggung jawaban darinya.
Dengan perasaan yg bercampur aduk akhirnya Farel meninggalkan apartemen Rara. Setelah ini ia harus memikirkan jalan keluar yg terbaik untuk dirinya juga Rara. Ia tak ingin keputusannya nanti akan lebih membuat gadis itu terluka. Bagaimana pun tanggung jawab tetaplah tanggung jawab.
****
Sementara itu Rara sudah kembali ke kediaman lamanya. Sesampainya disana ia hanya bisa mengurung dirinya dikamar. Membuat ayah dan ibunya heran juga khawatir, anaknya yg selalu tersenyum dan ceria kini pulang dengan kondisi yg tak biasa. Terlihat sedih, murung dan menutup diri.
Rara pun sama bingungnya dengan Farel. Ia tak tahu apakah ia harus jujur pada kedua orang tuanya atau tetap diam. ia khawatir jika ayah ibunya tahu mereka pasti akan melukai Farel. Karena selama ini orang tuanya sangatlah protektif padanya. Namun disisi lain ia juga takut jika perbuatannya tadi malam akan membuat dirinya hamil. Itu pasti akan lebih membuat orang tuanya murka.
__ADS_1
Arghhhh.. Apa yg harus aku lakukan Tuhan..
Teriaknya frustasi sambil memukul kepalanya kasar.